Minggu, 30 Mei 2010

Mengarak Pengantin

Tradisi mengarak pengantin masih dipertahankan di kalangan masyarakat Pesantren Gedongan Ender, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, pimpinan KH Amin Siradj.

Arakan pengantin menyusuri jalan utama desa itu didahului barisan damar kurung (lampion), lampu hias, serta disemarakkan petasan di sela-sela dan di akhir acara.

Kesakralan sangat terasa ketika barisan pemain rebana melantunkan salawat barzanzi mengiringi acara yang merupakan perpaduan budaya genjring, Arab, dan Tiongkok itu.

Anak-anak mengarak damar kurung

















Menyalakan lilin untuk damar kurung (lampion), yang akan mengiringi arakan pengantin.














Barisan genjring melantunkan kidung salawat barzanzi















Temu pengantin









sumber dan gambar : http://www.suarapembaruan.com/News/

Jumat, 28 Mei 2010

Ayo! Seragamkan Kiblat Hari ini

Himbauan PCNU Bekasi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bekasi mengimbau seluruh umat Islam, khususnya di wilayah Bekasi dan sekitarnya, untuk menyeragamkan arah kiblat pada Jumat (28/5) 2010, pukul 16.17 WIB. (hari ini, pen.)

"Sebab, pada saat itu matahari tepat berada di atas Ka`bah. Setiap bayangan yang tegak lurus akan mengarah ke Ka`bah," kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Bekasi KH. Munir Abbas Bukhori, di Cikarang, Selasa.

Menurut dia, perhitungan itu berdasarkan hasil kajian Lajnah Falakiah Pengurus Besar (PB) NU yang membidangi hukum shalat. Kejadian itu, katanya, hanya berlangsung sekali dalam setahun.

"Imbauan itu sudah kami sebarkan kepada masyarakat dalam bentuk selebaran, khususnya di 23 kecamatan Kabupaten Bekasi agar seluruh kaum Muslim mengetahui hal itu," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar bangunan masjid dan mushola di wilayah Kabupaten Bekasi memiliki kesalahan dalam menentukan arah kiblat sehingga mempengaruhi hasil ibadah.

"Di Kabupaten Bekasi, ada banyak sekali tempat ibadah umat Islam yang salah menentukan arah kiblat. Melenceng sedikit saja dari arah yang ditentukan akan berdampak pada kualitas ibadah," katanya.

Secara terpisah, Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama Kabupaten Bekasi Edi Suhadi menyambut baik gagasan tersebut.

"Berdasarkan hasil kajian kami di lapangan, sebanyak delapan dari 10 masjid yang dijadikan contoh ternyata arah kiblatnya belum pas beberapa derajat dari arah Ka`bah," katanya.

Menurut Edi, mayoritas masjid tersebut berdiri di lahan pemukiman penduduk. "Karena pada saat proses pembangunannya tidak diperhitungkan secara rinci oleh kontraktor yang bersangkutan," ujarnya.

Data tersebut, kata dia, diperoleh dari tim evaluasi arah Kiblat yang sengaja dibentuk pihaknya dengan jumlah anggota lima orang yang disebar secara acak di setiap kecamatan.

Imbauan NU, kata dia, akan diteruskan kepada seluruh pengurus masjid di 23 kecamatan agar kembali melakukan penataan ulang terhadap arah kiblat sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Edi mengatakan, ada dua cara untuk membenahi keadaan tersebut. Yakni, pertama dengan merenovasi bangunan masjid jika memang dananya memungkinkan. Cara kedua, dengan mengubah barisan jamaah (shaf) ke arah Kiblat yang sempurna. [TMA, Ant]

sumber : http://www.gatra.com/
gambar : Kompas arah Kiblat-CASA http://blogcasa.wordpress.com/

Jumat, 14 Mei 2010

Hidup adalah "Percobaan"

Intisari Ceramah Kang Said di Haol Kyai Said Gedongan

P R O L O G
ue

Pada tanggal 08 Mei 2010, di Gedongan Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, digelar acara tahunan Haol KH. Muhammad Said, Sesepuh dan Warga Pesantren Gedongan, yang ke-79. Puncak acara ini, pada Sabtu malam diselenggarakan Pengajian (Umum) "Parade Muballighien", antara lain : KH. Ali Mansur dari Sidoarjo, KH. Abdul Azis Mansur dari Jombang, KH. Mudjieb Khudori dari Jakarta, alumni Santri Ponpes Gedongan, dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU Periode 2010-2015 --buyut KH. Muhammad Said-- yang akrab dipanggil Kang Said.

Seusai acara protokoler penyampaian kata-kata sambutan dari Ketua Panitia, Pengasuh Ponpes Gedongan, Bupati Cirebon, hingga 2 Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Kang Said mendapat giliran pertama menyampaikan mauidzah khasanah-nya di hadapan ratusan zairin yang memadati pelataran Masjid Baitus-Suada Gedongan.

Berikut transkip ceramahnya yang penulis intisarikan dari hasil rekaman via vitur ponsel.
Selamat menyimak....

*****

Seluruh keluarga besar dzuriyah KH. Muhammad Said Gedongan bin Nurudin bin Muntaqim bin Haji Ali bin Kyai Raden Bagus bin Raden Sukmajaya (seterusnya sampai kepada Sunan Gunung Jati, pen.). Rekan-rekan Pengurus Nahdlatul Ulama, wilayah, cabang, badan otonom, lembaga lajnah, saadati wa sayyidati ......

Hidup adalah tajribah, “Alhayaah tajribah”. Hidup adalah eksperimen, percobaan. Oleh karena itu kita setiap hari, setiap saat, harus mencoba, memperbaharui percobaan, membaharui eksperimen :

وهو الذي جعلكم خلائف الأرض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما آتاكم

Kamu sekalian Saya beri kepercayaan, amanah menjadi kholaifal-ardi (penguasa di atas bumi), tujuannya untuk ...... liyabluakum melakukan testis, berjuang. Melakukan uji coba, sesuai dengan proporsi dan profesi kesempatan yang ada, fii maa atakum, yang ada pada kamu sekalian.

Oleh karena itu percobaan-percobaan, upaya-upaya dari umat Islam, ditulis dalam kitab “Tajaarubul Umam”, oleh seorang ahli sejarah Ibnu Maskaweh (Ibnu Maskubah, pen.). Kalau para ahli sejarah yang lain memberi judul kitab “Tariihul Umam”, tapi Ibnu Maskaweh memberi judul kitabnya Tajaarubul umam, sebab umat itu dibentuk dari kumpulan tajribah. Dari kumpulan tajribah generasi-generasi maka lahirlah sebuah hadhoroh, peradaban, budaya, tradisi. Sudah barang tentu, budaya, hadhoroh, tsaqofah, hasil tajribah-nya umat Islam, umat yang beriman, umat yang bertauhid, jauh berbeda –atau akan berbeda-- dengan tajribah-nya umat lain.

Tajribah-nya Ahlu sunnah wal jamaah akan berbeda dengan tajribahnya Syiah, Khawarij, Jabariyah, Qodariyah, Murjiah, Mu’tazilah. Tajribah-nya Ahlu sunnah model NU akan beda dengan tajribahnya kelompok ahlu sunnah yang lain; Nashriyah, Mathla’ Anwar, Perti, Syarikat Islam --itu ahlu sunnah semua. Nah itu, pasti akan melahirkan sebuah corak, tipologi, mumayyizat dari masing-masing peradaban yang dilahirkan dari masing-masing tajaarub atau tajribah.

Alhamdulillah, tajaarub atau tajribah ulama Nahdlatul Ulama sampai sekarang masih kokoh, masih kuat, tidak luntur sedikit pun. Pengalaman yang kita warisi dari para auliya, para kyai, kemudian melahirkan ormas NU yang dideklarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Waktu itu Ketua Tanfidziyah-nya Haji Hasan Gipo, diganti oleh KH. Nachrowi Tohir, diganti oleh Kyai Mahfud Sidik, diganti oleh Kyai Dahlan, kemudian Kyai Masykur, kemudian Kyai Wahid Hasyim, kemudian Kyai Idham Cholid, kemudian Kyai Abdurraman Wahid (almaghfurlah), dan Kyai Hasyim Muzadi, kemudian oleh saya sendiri (KH. Said Aqil Siradj, pen.)

Kita lihat, para pemimpin tokoh NU ini masing-masing mempunyai mumayyizaat, masing-masing mempunyai pengalaman, experimen, experience, tajribah dan tsaqofah yang dibangun pada masanya. Prinsipnya sama tapi barangkali infrastrukturnya yang berbeda sedikit. Sarananya yang berbeda, prinsipnya sama, sarananya yang berbeda.

Kalau dulu pesantren satu-satunya lembaga pendidikan yang memperkuat mabadi, paradigma Nahdlatul Ulama dengan Safinah, Sulam (Sulamun Najah, Sulam Taufik), kemudian Fathul Qorib, Fathul Wahab, dan sebagainya, telah berhasil, out-put alumni yang luar biasa.

Nuwun sewu kalau saya sebut ayah saya, itu pesantrennya di Rembang, (sebelumnya di Kempek dulu khatam Alfiyah, pen.), kemudian pindah ke Lirboyo, meneruskan khazanah ilmiahnya, pulang, nikah. Pasti akan terwarnai tajribahnya oleh Kempek-Rembang-Lirboyo. Nah, saya, barangkali agak beda dikit; Kempek, Lirboyo, Krapyak, Makkah. Pasti ada beda, Kenapa? karena dituntut oleh situasi dan kondisi.

وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين

Harus ada sekelompok umatku yang menekuni agama --tidak semua di politik, tidak semua nafaro, tidak semua keluar dari rumah, ada yang jadi DPR ada yang jadi aktivis, ada yang jadi demonstran. Harus ada yang sibuk, di pesantren, di pondok. Untuk apa? Liyatafaqqahu fiddiin. Mendalami, memahami agama.

Nuwun sewu. Yatafqqahu fiil mudhore, zamannya hajat istiqbal. Artinya ketika memahami agama, harus kontekstual, harus dinamis. Oleh karena itu warisan pesantren, harus kita revitalisasi, tapi dengan cara mengkontekstualisasikan kitab-kitab kuning, kitab-kitab yang kita baca.

Contoh : Fashlun Fil-Hiwalati, pasal ini arepKyai Musonnif-- bade nerangaken bab ligeran. Ya aja ligeran, lah maknane; "Letter of Credit". Kalau ligeran gak nyambung, gak kontesks dengan keadaan yang sekarang. Tetap Taqrib, tetap Sulam yang dibaca, tetap Fathul Muin. Tapi maknane beda dikit.

...... itu namanya kita mampu “yatafaqohu fiil mudhare”. Baka maknane masih ligeran fiil madhi. Tetap yatafaqqohu yang dimaknani, nggak bergeser. Nash-nya liyatafaqohu, tapi tinggal mengkontekskan makna sesuai dengan zaman haal, fiil mudhare, demi menyongsong zaman istiqbaal (yang akan datang).

Banyak hal-hal yang khazanah ilmiah dipelajari oleh para kyai pesantren, kekurangannya sedikit, yaitu kekurangan mampu mengkontekstualkan, mampu menasabahkan keadaan sekelilingnya, sehingga seakan-akan pesantren terkungkung di dalam pagar kelilingnya saja.
Kalau kita mampu yatafaqqahu me-mudhare-kan khazanah kitab kuning, luas.

[ ...... ]

Pengalaman-pengalaman itu, harus kita warisi, tapi kita mampu me-mudhare-kan warisan-warisan jaman dulu.

Sering kula nyontohaken Sunan Bonang; ketika akan mengajakan kitab-kitab Arab. Gimana cara mensingkronkan antara Nahwu Arab; Mustohahatu Nahwil Arabi dengan Mustohahat Jawa. Sunan Bonang, kaligane bisaan : Mubtada-utawi, khobar-iku, fail-sofo atau ofo.

...... (syi'ir/nadzom Sunan Bonang, pen.)

Luar biasa itu. Sunan Bonang yang (mampu, pen.) mencatat singkronisasi Mustohatu Nahwul Arobi dengan Bahasa Jawa. Dari utawi iku, sofo, ofo, ing serta ingdalem, lahirlah beberapa ulama besar --termasuk salah satunya yang kita haoli Kyai Said Gedongan--.

Nah, pertanyaannya, assu’al hua : Apakah sampai sekarang harus kita pertahankan utawi iku apa tidak?

Jawabnya gini, kalau memang masih disepakati kegunaan utawi iku, monggo. Tapi kalau memang di situ sudah tidak lagi butuh utawi iku, ya ditinggalkan aja gak papa. Itu kan tadi cuma upaya pengalaman dari Sunan Bonang, kyai-kyai dulu menggunakan utawi. Itu salah satu ciri khas pesantren.

Nah, tajribah-tajribah inilah yang melahirkan sosok yang beradab, sosok yang mutaaddib, mutsaqqoh, mutaallim. Alumni pesantren menjadi manusia yang beradab, mengenal kewajiban dan haknya, disiplin, memperjuangkan masyarakatnya dengan penuh rasa damai, kemudian mutaallim (berilmu), mutaaddib (beradab), mutahaddir (modern), mutamaddin (berdaya, mempunyai daya).

...... Mabadi’ awwaliyah lil mustamai muslim, Paradigm Original Moslem Communitiy, yang dicoba dilakukan Rasulullah saw. ketika 13 tahun di Makkah, ternyata tidak berhasil, setelah dilempari batu dari Thaif, kemudian hijrah ke kota Yatsrib. --Kula masih apal, barzanjie ......

...... (bait barzanji, pen.)

Penting hapal barzanji, modal luruh brekat. (gerrr...., pen.) Lho, ayah saya itu tukang luruh brekat. Baka balik ning pengajian brekate gede. Kalau sekarang amplop. Amplop itu kalau tebal shaheh, kalau tipis dhaif, tapi kalau tipis yang memberikan panitianya perempuan cantik, Shaheh lighairihi. (gerrr...., pen.)

Kalau dulu nggak, dulu "tumpeng". Sega ana iwake, ana ayame, ana daginge, ana buah-buahan sawernane. Baka wis teka ngumah anake diundang. Anake bapak kula lima lanang kabeh; Kyai Ja’far, saya, Kyai Mustofa, Kyai Ahsin, Niam. Sebelum makan berdoa dulu :

الحمد لله الّذى أنعمنا ورزقنا من غير حول منّا ولاقوّة

Ayo dipangan!. Kalau sudah kenyang kita lari lagi, meneruskan dolanan, main-main di luar rumah. Ternyata, --yaa boten kula sombong Kyai Aziz, nggih--, anake bapak kula lima kuh ya, yaa melek kabeh, lah. Gada yang buta huruf, lumayan. Semua (alumni, pen.) Lirboyo, semuanya muridnya mBah Idris, mbah Anwar Mansyur, mbah Aziz Mansyur, Pak Ilham Nadzir, semuanya lirboyo dan melek kabeh. Tak pikir-pikir, tidak semua kyai anaknya lumayan kabeh, tapi ayah saya lumayan anaknya. Kenapa? Oooh karena dipakani brekat (gerrr...., pen.). Temenan, temanan. Belum tentu kalau dipakani gajih, bonus proyek. Pokoknya Insya Allah, yang dimakan (brejat, pen.) itu halal semua. Brekat itu paling halalnya rezeki tuh.


Hadirin yang saya hormati ......

Setelah Rasulullah saw. mencoba melakukan perjuangan di Makkah, tidak berhasil. Maka mencoba hijrah ke Thaif, kaum Bani Thaif, yang boss-nya namanya Abdul Yalel, ternyata juga tidak berhasil. Kemudian hijrah ke kota Yatsrib 480 KM utara Makkah. Mengapa dinamakan Yatsrib?, karena memang Muassis yang pertama kali babat-babat alas di kota itu namanya Yatsrib (bin Mahlail bin Iram bin 'Ubail, pen.) bin 'Aush bin Aram bin Sam bin Nuh.

Rasulullah melakukan upaya perjuangan tajribah membangun masyarakat pertama. Yang dibangun oleh Rasulullah apa itu? Paradigmanya apa, platformnya apa?. Apa yang dijadikan dasar membangun masyarakat Yatsrib?. Bukan negara Arab, bukan negara Islam.

Rasulullah saw. tidak membangun negara Islam, tidak membesarkan negara Islam. Rasulullah saw. tidak memproklamirkan sebuah negara Arab. Tapi Negara madinah, dari kata Tamaddun, beradab, berbudaya. Masyarakat beriman, cerdas, berilmu, berakhlak, shalih, masing-masing saling menghormati, tegak supermasi hukum, berkeadilan, lintas agama, dan lintas ethnis.

Bismillahirrahmanirrahim, Hadza kitabu muhammad
Almuslimuuna min quraisy, walmuslimuna min Yatsrib, Walyahud, waman tabiahum watsiqo bihim wajaahada maahum, innahum ummatun wahidah.


Baka bli percaya wacaen Sirah Nabawiyah karangan Syeh Abdul Malik bin Ibnu Syam Al-Anshari, juz II halaman 119-122 Percetakan [......] Kairo. Wacaen dewek baka bli ngandel.

Rasul mengatakan : Ini ketetapan Muhamad (hadza kitabu muhammad), orang Islam pendatang (dari Quraisy), orang Islam pribumi (dari Yatsrib, yaitu Suku Aus dan Khazraj) dan Yahudi (tiga suku Banu Qainuqa’a, Banu Quraydhoh, Banu Nadhir). Asalkan satu visi-misi, satu cita-cita, satu garis perjuangan, prinsip perjuangan, ghayah-nya sama, manhaj-nya sama, sebenarnya mereka itu semua, “innahum ummatun wahidah”. Umat yang satu. Ini original paradigm, paradigma yang orisinil seperti ini.

Tidak hanya orang Islam, tidak hanya bangsa Arab, tidak hanya pendatang, atau Quraisy, atau pribumi, semua. Semua komunitas Madinah, semua komunitas Yatsrib sama hak dan kewajiban, sama di mata hukum, walaa 'udwana illa ala dzolimin. Tidak boleh ada permusuhan kecuali terhadap yang melanggar hukum. Tidak pandang bulu, muslim atau non muslim, Arab pendatang atau Arab asli.

Itu dulu Rasulullah saw. ketika meletakkan dasar-dasar paradigma membangun masyarakat “mutamaddin”. Oleh karena itu Rasulullah saw. memproklamirkan sebuah komunitas muslim pertama adalah komunitas mutamaddin, yang beradab, yang berakhlak, yang tertib, yang beriman, cerdas, shaleh, akur, saling menghormati, semua sampai dengan hak dan kewajibannya dijunjung tinggi supermasi hukum, berkeadilan, itulah namanya masyarakat mutamaddin.

Jadi Rasulullah saw. dakwahnya bukan aqidah dan syariah saja. Laisal Islam aqidatan wa syariatan faqot, walakinnal islam dinul hayu wal-tsaqofah, dinul adaabi walhadharah, dinut taqaddum ......, bukan hanya ngajarin menawarkan aqidah dan syariah saja, tapi Islam datang membawa ilmu pengetahuan, peradaban, budaya dan modernisasi, berprestasi, masyarakat yang dinamis.

فلولا كانت قرية آمنت فنفعها إيمانها إلا قوم يونس لما آمنوا كشفنا عنهم عذاب الخزي في الحياة الدنيا ومتعناهم إلى حين

Hendaknya satu qoryah, satu bangsa –bukan hanya satu RT--, hendaknya semuanya beriman kepada Allah swt. Tapi iman yang seperti apa? iman yang fanafa’aha imanuha. Iman yang aplikatif, iman yang dinamis, produktif.

Makanya definisi iman menurut ahlu sunnah waljamaah : tashdiqun bil-qolb, wa iqrarun billisan, wal amal bil jawarih. Luar biasa ahlus sunnah itu. Kalau murjiah tidak ada wal amal, kalau ahlu sunnah ada tambahannya wal amal bil jawarih. Artinya, hatinya percaya, lisannya mengucapkan, --KTP ditulislah Islam lah-- bukan hanya itu “wal amal bil jawarih” iman yang diaplikasikan menjadi amal-amal positif, amal-amal yang bermanfaat. Itulah konsep iman menurut ahlu sunnah waljamaah.

Seperti kaumnya Nabi Luth, ketika mereka beriman dengan iman yang nafa’aaha, dengan iman yang produktif, dinamis, maka “kasafna anhum ‘adzabal hizji fil hayatid-dunya”. Saya cabut problem, kesulitan, bencana alam, selama mereka hidup di dunia, “wamatta’nahum ilaa hiin” saya beri kesejahteraan, subur makmur, gemah ripah loh jinawai, toto tentrem karto raharjo, ngadepi samudro (dagang maju) ngungkuli wikur (sawah ladang) kewan-kewan (kebo sapi, kambing) balik nang kandange dewek-dewek (pulang ke kandangnya tanpa dikawal, aman). Niku ngendikane Ronggo Warsito.


Hadirin ingkang kulo hormati ......

Inilah tajribah Rasulullah saw. Sukses membangun masyarakat mutamaddin. Setelah Rasulullah wafat diganti oleh para Khulafaur-Rasyidin, masih memegang teguh paradigma mutamaddin. Setelah khulafurrasyidin habis, diganti oleh Bani Umayyah, jauh bergeser paradigmanya bukan paradigma mutamaddun, paradigmanya Pan Arabic. Pejabat harus Arab, Khalifah Arab, menteri Arab, Gubernur Arab, ketua (RT, pen.), lurah-lurah Arab semua. Yang bukan Arab minggir!. Itu waktu Bani Umayah.

Tapi ana hikmahe luar biasa.....
Nuwun sewu; Sayyidina Hasan, Sayyida Husein –saya berani ngritik Sayyidina Hasan, Sayyida Husein berarti saya bukan Syiah. Kalau orang Syiah gak berani-- sibuk ngurusi politik. Sampe Sayyidina Hasan konon katanya mati diracun oleh Muawiyah. Sayyidina Husein kita semua tahu dibunuh dengan sadis beserta keluarganya (74 keluarga) di padang Karbala, dan seterusnya, dan seterusnya. Anaknya sayyidina Hasan, Muhammad juga dibunuh, Imam Zaed bin Ali Abidin juga dibunuh, (dan seterusnya, pen.) juga dibunuh. Jadi darah biru sudah ngurusi politik.

Nah, hikmahnya Gusti Allah swt., akhirnya yang bukan darah biru, “Mawaali”, artinya turunan ‘Ajam --turunan Persi-- tapi bahasanya wis Arab, tinggale ning negara Arab; merebut posisi keilmuan dan peradaban. Maka ulama yang paling besar ketika masa Tabiin : Al-Hasan Al-Basri, Sudar bin Iyad, Sufyan Tsauyri; Tabi’it tabiin : Hanafi, Malik, Syafii, Hambali; Ahli Hadits : Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah, Daruquthni, Darimi, Ibnu Huzaemah, Ahmad ibnu Hambal. Semuanya itu --kecuali Syafii dan Malik-- bukan darah biru, bukan darah Arab. Semuanya darah Persi.

Ahli hadits sepuluh, tidak satupun orang Arab. Ahli tafsir terkenal Abu Ja’far, Ibnu Jari At-Thobari, bukan orang Arab. Yang membikin ilmu Mustolahul Hadits atas perintah Kholifah Umar bin Abdul Aziz, Sihabuddin Romahurmuzzy --dipanggilnya Romi, anggota Pansus Century dari P3 (gerrr......, pen.) , tahum 99 membikin ilmu Mustolahul Hadits, standar seleksi, hadits shaheh, doif, hasan, dhaif-nya karena apa? marfu, munqathi, mursal, dan seterusnya. Jadi peradaban, ilmu pengetahuan, diambil peranannya oleh mereka, beliau-beliau yang bukan darah Arab.

Ilmu kalam, yang pertama kali camp-nya adalah Washil bin 'Atha dari Mu’tazilah, kemudian diteruskan oleh Madzhab Asy’ari. Ilmu Balaghoh yang pertama kali diciptakan Amr bin Ubay bukan orang Arab; ilmu Shorof, yang pertama kali diciptakan Al-‘Asma’i, Al-Asmu’i Wa’iyyah dari Persia. Ilmu Nahwu, ...... Imam Syibawaih, semuanya tidak satupun bukan orang Arab. Karena orang Arabnya sibuk dengan politik.

Nah, Alhamdulillah. Kalau sekarang yang gus-gus nya terjun politik, maka NU saya pegang. Seandainya gus-gus nya itu di NU; Muhaemin, Saefullah Yusuf, waah saya minggir. Karena Muhaemin nya mentri, Saefullah Yusuf nya Wagub, maka NU bukan darah biru yang pegang. Yah, saya bukan darah biru, lah, setengah biru.

Oleh karena itu, tajribah dari para ulama NU mari kita pertahankan, mari kita teruskan, yaitu dengan mabda’ yang kuat tawassut, tawazzun, tasaamuh, dan i’tidal. Ujiboca yang telah dilakukan oleh para ulama, kemudian dibikin organisasi Nahdlatul Ulama tanggal 16 Rajab 1344 atau 31 Januari 1926, Kyai Hasyim Asy’ari mendeklarkan berdirinya Nahdlatul Ulama dalam rangka menindaklanjuti visi-misi pesantren yaitu tawassut, tawazzun, tasaamuh, dan i’tidal. Sampai sekarang prinsip itu tidak boleh luntur, tidak boleh bergeser, harus kita pertahankan dengan merevitalisasi nilai-nilai jati diri kita, dengan mengkontektualisasikan kitab-kitab kuning, Insya Allah kita akan jaya, kita akan kuat.

Oleh karena itu NU tidak akan berpolitik, artinya, orang yang ingin meniti karier politik, bukan di NU tempatnya. Orang ingin jadi Bupati, jadi Gubernur, jadi Presiden, atau wakil Presiden, bukan di NU tempat meniti karier itu, di partai politik.

Orang NU harus berpolitik, tapi tidak menggunakan NU. Silahkan, malah bukan hanya Bupati-Gubernur, Silahkan!. Ketua Golkar NU, Ketua P3 NU, Ketua Demokrat NU, Ketua PDI NU, Ketua Hanura NU, Ketua Gerindra NU, baka gelem Ketua PKS NU, ari gelem sok mono, ari doyan sih srog mono. Semuanya NU, Ketua DPR NU, Ketua MPR NU, Mahkamah Agung NU, Mahkamah Konstitusi NU, Jaksa Agung NU, Kapolri NU, Presiden NU, tapi tidak menggunakan --meniti kariernya itu bukan menggunakan-- organisasi NU.

NU tetap menjaga original paradigm, mabadi’al-ashliyah. Jadi mabda yang masih prinsip itu harus dikawal oleh Nahdlatul Ulama. Politik monggo, partai politik.

Kalau ada calon bupati dari NU, kita dukung, hanya cara dukungnya bukan terang-terangan Ketua PB turun kampanye tidak, tidak begitu, ada cara manis. Jadi khittah ini harus dimenej dengan baik, manajemen khittah harus kita bikin dan kita jalankan. Kita pegang prinsip itu tidak pandang bulu, siapa pun yang ingin mencalonkan Presiden, Gubernur, Bupati, tidak boleh merangkap menjadi Ketua NU, siapa pun. Kalau mau silahkan pilih di antara satu, tetap jadi ketua NU apa calon Bupati, monggo.

Semuanya baik, semuanya perjuangan. Mau mencalonkan diri dari Bupati, letakkan jabatan, menjadi ketua misalkan. Bukan di NU tempatnya meniti karier berpolitik.

****

Catatan Akhir

Transkip ini merupakan Intisari Ceramah Kang Said di Haol Kyai Said Gedongan tanggal 08 Mei 2010. Mengingat proses translitasi dari bahasa verbal (dengan intonasi dan deklamasi) tidak mungkin dapat dituangkan utuh ke dalam bahasa tulisan.

Belum lagi, media yang penulis gunakan untuk menangkap suara (merekam) hanya sebuah ponsel jadul yang miskin vitur, hingga hasilnya tidak begitu bagus ditangkap telinga. Untungnya seorang teman juga berinisiatif merekamnya, dengan hasil rekaman yang lebih jernih (terima kasih atas kontribusinya, pen.) hingga akhirnya rangkaian kata yang putus-nyambung dapat betul-betul nyambung.

Namun demikian penulis menjamin orisinilitas seluruh kandungan isi ceramah ini dengan menyesuaikan tema yang penulis kutip sebagai judul posting.

wallahu muwafiq ilaa aqwamit thaariq ...... [ASF]

Minggu, 09 Mei 2010

Dua Menteri Hadiri Haol Pesantren Gedongan


SUMBER, (PRLM).- Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar dan Menteri PembangunanDaerah Tertinggaal (PDT) Helmi Faisal Zaini, menghadiri haul ke-79 KH. Muhammad Said Pondok Pesantren Gedongan, Desa Ender Kec. Pangenan, Kab. Cirebon, Sabtu (8/5) malam.

Kegiatan itu juga dihadiri Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, Bupati Cirebon H. DediSupardi, mubalig seperti KH. Ali Mansur dari Sidoarjo, KH Abdul Azis Mansur dari Jombang, KH Mudjieb Khudori dari Jakarta, alumni Santri Ponpes Gedongan, dan kesultanan Keraton Kecirebonan. Ribuan warga juga menghadiri acara tahunan tersebut.

Agenda kegiatan yang digelar panitia sejak Jumat (7/5) juga dipadati warga dan alumni salah satu pondok pesantren tertua di Cirebon tersebut. Kegiatan tersebut antara lain bedah buku Gus Dur di Mata Wong Cherbon, dan festival hadroh.

Muhaimin mengatakan, haul merupakan kegiatan yang sangat positif karena di dalamnya terkandung makna mendalam. Haul bukan hanya dipahami sebagai acara seremonial ziarah kubur semata melainkan meneladani kiai. Pada lain sisi haul juga merupakan warisan budaya Islam yang harus dipertahankan.

"Pesantren sebagai aset bangsa dalam mendidik kepribadian yang luhur. Maka ada tuntutan membuka diri dengan kemajuan saat ini. Pemerintah menyadari betul adanya perhatian mengembangkan pesantren," pesannya.

Hal senada dikemukakan Helmi Faisal yang menyatakan haul masih relevan untukdirealisasikan pada zaman sekarang. Dirinya dibesarkan di keluarga pesantren sehingga haul sudah tidak asing lagi. Pada kesempatan itu Helmi juga memberikan masukan sekaligus pengetahuan tentang pembangunan. Pria kelahiran Babakan ini menyemangati santri agar dapat mandiri dan berkualitas sehingga dibutuhkan masyarakat. Santri juga bisa memberikan kontribusi kepada negara dalam hal pembangunan dan mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Helmi menyebut terdapat tiga program nyata untuk menolong masyarakat Indonesia yakni menerapkan bantuan sosial seperti raskin, jaskesmas, dan pemberdayaan subsidi. Konsep pemerintah sekarang bukan hanya memberikan modal melainkan juga melatihnya agar dapat mandiri.

"Sekarang sebanyak 3,2 juta penduduk Indonesia, sama dengan 14 persen berstatus miskin. Saya yakin pesantren punya potensi dan dapat memberikan solusi atas masalah yang dihadapi bangsa ini," paparnya. (C-15/das)***

sumber http://www.pikiran-rakyat.com/
image : Gambar Masjid Baitus-Su'adaa - Gedongan

Rabu, 05 Mei 2010

Kartini, Maulid dan Haol

Sedianya tulisan ini sudah posting pada Hari Kartini 21 April bulan yang lalu. Namun mengingat banyak hal yang harus diprioritaskan, posting akhirnya harus rela pending hingga lebih dari dua pekan.

Tapi, gak ada ruginya, posting yang tertunda tersebut masih aktual hingga hari ini --dengan sedikit edit dan merubah judul, tentunya-- mengingat materi yang diangkat tidak jauh-jauh seputar bahasan tentang ‘haol’, Haol Gedongan yang akan berlangsung pada tanggal 08 Mei 2010 akhir pekan ini.

*****

Dalam Mauidzah hasanah yang disampaikan pada Haol KH. Muhammad Said, Sesepuh dan Warga Pondok Pesantren Gedongan tahun 2008, Gus Mus (Panggilan KH. Mustofa Bisri, seorang kiyai penyair, yang juga pelukis asal Rembang, Jawa Tengah) menuturkan di depan ratusan zairin akan kekagumannya pada sosok manusia pilihan, yang kurang lebih dapat penulis bahasakan demikian : “...... di dunia ia sedikitnya ada 3 manusia utama yang pernah ada. Pertama Nabi Isa as., kedua Nabi Muhammad saw., dan ketiga Raden Ajeng Kartini”. Kemudian setelah mengambil nafas sejenak, Gus Mus melanjutkan dengan pertanyaan yang dijawabnya sendiri : “Kenapa beliau-beliau disebut sebagai manusia utama?! Karena beliau-beliaulah yang (oleh kaumnya) hari lahirnya setiap tahun diperingati dan dirayakan!” tegas Gus Mus menggebu.

Sayangnya, memori penulis tidak terlalu brilian untuk mengingat semua ulasan Gus Mus di malam haol itu. Namun intinya, seperti itulah : bahwa manusia-manusia utama adalah beliau-beliau yang senantiasa dikenang di hari kelahirannya, bukan semasa hidupnya seperti pada perayaan “hari ulang tahun”, tapi justeru sepeninggalnya dari alam dunia. Seakan ingin disampaikan pesan bahwa kelahiran “manusia utama” adalah tonggak sejarah peradaban. Seperti yang kita ketahui bahwa tanggal 25 Desember --terlepas dari kontroversi haq atau bathil-- dirayakan hari “Natal” karena Jesus Christ (alihaksara dari bahasa Yunani yang dalam bahasa Arabnya Isa Al-Masih) konon dilahirkan.

Dalam Islam, bulan Rabi’ul Awwal disebut sebagai bulan Maulid, artinya bulan kelahiran. Karena pada tanggal 12 di bulan tersebut, junjungan kita Nabi Muhammad saw. lahir di muka bumi. Dan kita juga tidak lupakan bahwa setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia mempunyai helat nasional “Hari Kartini”, karena pada tanggal di bulan tersebut, lahirlah seorang wanita bernama Kartini yang kemudian dinobatkan sebagai pahlawan emansipasi.

Hari Kartini sendiri dikenal setelah keluarnya SK Presiden RI No. 108 Tahun 1964, tanggal 02 Mei 1964 tentang penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari lahirnya (21 April) dijadikan peringatan sebagai hari besar.


Sekilas RA. Kartini

Raden Ajeng Kartini terlahir 129 tahun yang lalu di Jepara, Tanggal 21 April 1879. Kehidupan anak ke-5 dari 11 saudara ini penuh dengan perjuangan. Saat memasuki usia 12 tahun putri pasangan R.M.A.A Sosroningrat dan M.A. Ngasirah ini mulai dipingit, dan saat itulah perubahan-perubahan paradigma dalam berpikirnya semakin berkembang dan kritis seiring dengan terbiasa berkoresponden dengan teman-temannya di Eropa (Belanda) dan bersentuhan dengan berbagai lapisan masyarakat dan agamanya (Islam) yang banyak menerangkan tentang kemuliaan seorang perempuan.

Kartini menikah secara “terpaksa” pada tanggal 12 November 1903 dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Namun “keterpaksaannya” bukan tanpa tujuan tetapi didasarkan atas satu cita-cita mulia yang membuatnya mendapat julukan sebagai “Pelopor kebangkitan perempuan pribumi.”

Beliau meninggal di usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun di Desa Bulu, Rembang, pada 17 September 1904, ketika melahirkan anak pertama dan satu-satunya karena mengalami komplikasi, salah satu pemicunya adalah preeklamsia.

Pasca meninggalnya, J.H. Abendanon, selaku Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda pada waktu itu (1900-1905) “merekontruksi” surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa menjadi sebuah buku. Door Duisternis tot Licht demikian judul buku tersebut dalam bahasa Belanda yang berarti “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Pandangan-pandangan kritis yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap pemerintah belanda akan agamanya (Islam) yang pada waktu itu salah satu politik “misionaris” Belanda adalah tidak diperbolehkan menterjemahkan dan mentafsirkan Alquran dengan alasan “Kitab Suci” dengan tujuan tersembunyi agar umat Islam semakin bodoh dan tidak paham akan agamanya sendiri.

Melalui surat tersebut beliau mempertanyakan : “Mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami

Bagaimana mungkin kami bisa mencintai agama kami, mengamalkan, mengajarkan, memperjuangkan dan membela agama kami (Islam) jika kami bodoh (karena pemerintah Belanda melarang menterjemah dan menafsirkan Alquran)”. [Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane, Balai Pustaka, 1978. Hal. 45]

Sindiran lainnya tentang “agama” yang menjadi dasar penjajahan Belanda yakni aksi misionaris yang mereka lakukan. Beliau menyatakan : “Dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…

R.A. Kartini telah berkembang menjadi perempuan yang taat beragama, ekspresif, sadar akan kedudukannya sebagai seorang perempuan yang dimuliakan dalam Islam, emansipasi yang tidak keluar dari aturan agama yang telah salahkaprah pada saat ini dengan mengatasnamakan beliau terlebih masalah gender equality yang malah menurunkan bahkan melecehkan harkat dan martabat seorang perempuan.


Terminologi Maulid dan Haol

bersambung ....