Minggu, 20 Maret 2011

DUH, GEDONGAN....!

Bagi saya, Gedongan adalah tanah tumpah darah. Jika ada yang menanyakan tentang asal-muasal, dengan pe-de saya menjawab, “Kula saking Gedongan” (Saya dari Gedongan). Setiap kali berkesempatan pergi ke suatu kota, saat berkenalan dengan orang yang baru berjumpa, saya selalu menyebut, “Saya orang Cirebon, asal Gedongan, Blok Pesantren di Wilayah Timur Cirebon (WTC)”. Dan --biasanya-- kenalan baru tersebut manggut-manggut seperti paham (atau sekedar pura-pura paham, supaya tidak terkesan mengecewakan....).

Saya asli wong Gedongan, lahir di Gedongan tahun 1975. Meski kakek-buyut keturunan Sindang, namun sudah menetap di Gedongan sejak Babat Bumi Gedongan. Mama --sampai saya beranjak besar-- bekerja sebagai Pamong Desa Ender dengan jabatan terakhir Ngabihi, dan Bibi sebagai ibu rumah tangga tulen yang memiliki sambilan sebagai toekang jahit (“Mama-Bibi” adalah sebutan kepada bapak-ibu oleh kebanyakan Wong Magarsari Gedongan).

Waktu masih muda dan belum direpotkan oleh banyak anak, konon Bibi sempat menjadi produsen jaburan yang diasong keliling kampung oleh anak-anaknya juga dititipkan di warung-warung. Bibi bilang; anak-anak Bibi seluruhnya berjumlah 14 atau 15, dan saya yang ke-13. Namun sampai saya dewasa yang tersisa tinggal 7 orang (wong pithu), 4 lelaki (di dalamnya saya), dan 3 perempuan. Dari ketujuh bersaudara, hanya seorang saja yang kini menetap di Gedongan, mendiami Rumah Pusaka. Selebihnya --termasuk saya-- menyebar di luar Gedongan mencari jalan sendiri-sendiri tuk membangun kehidupan (ma’isyah).

Saya terjangkit virus plurasisme firqah (sekte keagamaan) di Pesantren Darunnajah Jakarta, yang karenanya menjadikan saya berpendirian gamang menyikapi perbedaan amaliyah yang kerap diperselisihkan penganut firqah di Indonesia. Tapi ‘virus’ tersebut tidak saya sesali, malah saya syukuri. Karena dengannya saya dapat mengendalikan emosi, tidak mudah tersulut oleh bara pertengkaran silang pendapat antar firqah. Saya yakini sedalam-dalamnya bahwa “ikhtilaf” adalah “rahmah”, sebagai wacana/fikrah yang tidak harus dipertentangkan. Di Darunnajah sendiri, meski direkturnya berpaham NU tidak pernah ada konflik antar santri atau ustadz oleh karena beda firqah, tidak NU tidak juga Muhammadiyah, tidak Persis atau Al-Irsyad, PUI, Syiah atau apalah. Hal ini karena Darunnajah mempunyai semboyan “di atas dan untuk semua golongan”, dan saya suka itu. Hingga saya pun pernah ikut-ikutan/latah menyematkan nama saya sebagai "Muhammad eN-U".

Darunnajah sukses pula mendogma saya, sehingga begitu lulus Kelas Niha'i (pamungkas), saya tidak berorientasi harus nerus ke Kampus berbasis Diniyah semisal IAIN, STAI atau kampus lainnya yang berembel-embel agama. Saya malah menempuh jalur politeknik (informatika). Biarkan saja, lagi pula saya pintar (ilmu) agama, belum tentu saya pulang ke Gedongan menjadi ulama. Namun ini bukan berarti saya mengesampingkan ilmu diniyah, saya tetap mengkajinya dengan bekal sedikit ilmu bahasa yang saya peroleh dari Darunnajah.

Di Gedongan, guru pertama yang paling berjasa menyelamatkan saya dari kebodohan baca tulis Al-Qur'an (BTQ) adalah Almarhum Almaghfurlah KH. Imam Dimyati (semoga Allah swt. meridhai dan merahmatinya). Beliau dengan telaten membimbing dan menuntun saya serta puluhan anak Magarsari lainnya membaca dan menulis Al-Qur'an dengan sahih, pada sore hari menjelang maghrib dan pagi seusai shalat subuh. Bukan cuma itu, di Majelis Ta’lim depan rumahnya, beliau juga mendermakan ilmunya kepada kami dengan menyelenggarakan kajian Kitab Safinatunnajat selepas shalat Isya'. Ngaji di sini libur setiap hari Jum'at, dan di hari Sabtunya biasanya kami para murid dengan suka rela setor ‘segendul lenga lantung’ (sebotol kecap minyak tanah) yang dibawa dari rumah sebagai syahriyah, atau sebagai imbal jasa, kami juga nimba kolah (mengisi bak mandi dari sumur) setiap diminta dan/atau jika dibutuhkan.

Hatam Qur'an di Majelis Ta’lim Kyai Imam --biasa masyarakat dan para santri memanggilnya, saya perdalam Al-Qur'an dengan berguru pada KH. Abu Bakar Sofyan Al-Haafidz. Walau hanya tutug pada hapalan Juz Amma’ saya bangga pernah menjadi santri di Madrasatul Huffadz bareng dengan Kang Emun (Maemun Fauzi, Kandidat Profesor di Institut Fertigungtechnik und Werkzeugmachinen, Universitdt Hannover Jerman).

Oleh Mama ketika itu, saya diarahkan melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Manbaul Hikmah (masih di Gedongan) yang ketika itu baru dalam tahap rintisan. Tiga tahun menjadi siswa, setelah lulus saya diboyong Kakang ke Jakarta, mengabdi di Parung-Bogor dan menjadi santri Darunnajah.

*****

Pada tahun 1992 --dalam kesempatan libur semesteran, saya mudik ke rumah-- saya memprakarsai teman-teman membentuk “Front Gedongan Bersatu”. Lukman cs. dan Apung/Maghfur cs. --teman ketika di SDN Ender 02-- yang mengilhami. Kedua teman tersebut dapat dibilang sebagai Gegedege bocah enom umbul Wetan dan umbul Kulon yang sedang berseteru memperebutkn Dogdog. Ironis, menurut saya; Gedongan yang hanya sebuah Blok Cantilan, dengan beberapa gelintir penghuninya harus terkotak menjadi dua kubu. Berbarengan dengan konflik tersebut, di luaran sana sedang santer isu “Gedongan diece (dilecehkan) oleh kampung seberang, namun tidak ada respon bocah Gedongan yang mengambil tindakan”. Saya berpikir; bagaimana mungkin akan bertindak, wong di dalamnya saja sedang menghadapi masalah (?).

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka pada malam dan waktu yang disepakati, pimpinan kedua kubu berseteru beserta genx-nya dipertemukan, rembug bareng dalam satu ruangan di rumah salah satu warga. Ditempuhlah jalan damai, dan diketemukan kata “sepakat”, yang pada akhirnya digagaslah suatu wadah yang dapat mempersatukan, dan dideklarasikanlah “Front Gedongan Bersatu”.

Namun sayang, umur paguyuban yang lahir atas niat tulus untuk bersatu, murni atas inisiatif Bocah Enom Magarsari ini hanya satu malam. Alih-alih matur mohon petunjuk dari “orang yang lebih ahli dan berpengalaman”, malah paguyuban ini dianggapnya terlalu frontal hanya karena memakai embel-embel nama “Front” di depannya, dan --yang paling tidak mengenakkan-- oleh tokoh yang kala itu masih menjabat sebagai ketua cabang organisasi kepemudaan NU tingkat kabupaten tersebut dianggap tidak memiliki landasan organisasi dan AD/ART yang kokoh. Selanjutnya, setelah matur malam itu saya tidak tahu lagi nasib organisasi bocah enom Magarsari. Karena --libur sudah usai-- saya harus kembali melanjutkan studi.

Jarang yang tahu bahwa Gedongan memiliki “Lima Pusaka” (dalam catatan saya, pen.), dua pusaka terdapat di luar pemukiman warga, yakni Maqbaroh/pemakaman umum dan Sumur Gedongan; serta tiga pusaka lainnya berada di dalam pemukiman, yaitu : Masjid, Langgar/surau, dan Rumah Tinggal yang hingga kini masih dihuni oleh Kang Imroh Yusuf (Ibunda Maemun Fauzi) beserta keluarga dan santri-santrinya.

Dua pusaka masing-masing maqbaroh yang terletak di luar sebelah barat dan Sumur Gedongan terletak di luar sebelah timur pemukiman, hingga kini keberadaannya masih lestari dan masih bisa ditelusuri.

Maqbaroh atau kuburan --walaupun belum bisa menemukan faktanya, pen.-- kemungkinan adalah pusaka yang tertua di Gedongan. Di tengah areal pemakaman warga ini, waktu saya kecil dulu terdapat Wit (pohon) Walikukun --yang menjulang paling tinggi di antara pohon-pohon lainnya-- yang memiliki keramat. Konon katanya di Jaman Penjajahan, ketika Bala Tentara Belanda hendak menyerbu dusun Gedongan, mereka terhalang oleh hamparan luas samudra yang di tengahnya berdiri tegak tiang bendera, dan misipun urung diteruskan. Konon samudra adalah penampakan dari pemukiman warga Gedongan, dan tiang bendera adalah penampakan dari Wit Walikukun; begitu para pini-sepuh dahulu suka bercerita.

Sumur Gedongan menjadi pusaka karena sumur ini titik penggaliannya atas istikharah KH. Muhammad Said, Pendiri Pondok Pesantren Gedongan. Kelebihan (dapat juga disebut karomah) dari Sumur Gedongan adalah air yang ditimba dari dalam sumur ini bening tur jernih, serta berasa adem, tidak asin dan tidak anta bila diminum, sangat berbeda dengan sumur pada umumnya. Sepanjang tahun, sepanjang musim, sumur ini menjadi sumur utama warga Gedongan dan sekitarnya sebagai sumber mineral alami yang tidak pernah kering (kasatan).

Ada keyakinan sebagian Wong Gedongan bahwa setiap tanggal 15 bulan Sya'ban atau populer disebut Nisfu Sya'ban, Sumur Gedongan konon mengeluarkan air zam-zam pada saat sore menjelang maghrib (surup sandakala). baca : Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban di Gedongan.

Percaya atau tidak, iseng-iseng menarik garis lurus dalam situs Layanan Kiblat di http://www.iwkz.de/, bila titik kedua pusaka ini dihubungkan garis lurus, maka akan menunjuk ke arah Masjidil Haram/Kiblat. (Wallahu A’lam....).

Bila pusaka yang terletak di luar pemukiman warga masih lestari hingga kini, lain halnya dengan tiga pusaka yang berada di dalam pemukiman, keberadaannya sungguh-sungguh memilukan. Dari ketiganya, masih tersisa dua; yang satu Langgar (difungsikan sebagai padepokan santri Al-Qur'an/Madrasatul Huffadz asuhan KH. Abu Bakar Sofyan) dan satunya lagi Rumah Kuna bergaya arsitektur (asli) Cirebon tempat Kacung Mahrus (KH. Mahrus Ali, Kediri) dahulu menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya. Sementara masjid yang justru sebagai pusaka utama kini tinggal kenangan, yang tersisa hanya sebuah cerita. Padahal bangunan antik nan sakral tersebut pernah menjadi sentral perjuangan KH. Muhammad Said dalam "Babat Bumi Gedongan".

Sebagai gambaran tentang Masjid Gedongan, dituliskan apik dalam buku “Sekilas Sejarah Pondok Pesantren Gedongan Cirebon Jawa Barat” sebagai berikut :

.... bentuk dan potongan bangunan masjid sangat antik, separo dari luas badan masjid berbentuk panggung. Lantai teras masjid terbuat dari batu alam segi empat berukuran 70 cm persegi. Warna dasar batu dengan permukaan yang agar kasar menunjukkan pahatan tangan yang kreatif. Bagian muka masjid berupa tembok dengan jeruji kayu jati ukiran di atasnya, badan bangunan bagian depan berupa tembok tebal dengan ketinggian sempurna dan berlantai ubin kuno dengan variasi ubin kembang. Di atas ubin ini terdapat dua baris goresan panjang yang tersorot sinar matahari dari genteng yang sengaja dilubang bulat. Sorot sinar matahari yang menembus ke dalam masuk melalui genteng itulah yang dalam posisi tertentu berfungsi sebagai petunjuk waktu.

Bagian tengah masjid hingga ke mimbar khutbah berbentuk panggung dengan lantai papan kayu jati tebal. Ada empat tiang penyangga di tengah dari kayu jati dengan ukiran indah, di setiap sudut bergantung lampu-lampu indah dan antik.

Itulah bangunan masjid (Gedongan) yang kini tinggal kenangan, masjid itu dipugar dan dibangun kembali pada tahun 1981 tanpa alasan kerapuhan bangunan, kecuali dua tiang yang dianggap keropos.... (H. Taufikurrahman Yasin, 2005 : 34).

Ironisnya, bangunan masjid yang ada sekarang tidak lebih bagus dari bangunan masjid pusaka yang pernah ada, absurd. Tidak jelas gaya arsiterktur mana yang menjadi modelnya. Dan karomah-karomah yang terkandung di dalamnya pun lambat laun kian pudar dan punah.

Masih pekat dalam ingatan di masa saya kanak-kanak dulu, kentong masjid Gedongan bila ditabuh sebagai tanda masuknya waktu, gemanya dapat didengar orang yang berada hingga di radius 5 kilometeran lebih. Kini, jangankan mencapai jarak sejauh itu, 500 meter pun sudah lamat-lamat terdengar.

Tradisi mandi hari Jum'at Kliwon di kolah (bak wudlu) masjid Gedongan pada saat iqamat shalat Jum'at (khotib turun dari mimbar), menjadi rutinitas warga (khususnya kaum ibu dan anak-anak putri) yang ingin ngalap berkah. Bukan cuma dikerumuni warga asli, tapi banyak juga penduduk luar Gedongan yang ikut-ikutan. Kini, entah apakah tradisi ini masih ada?

Dan masih banyak lagi karomah-karomah lainnya serta ketabuan, seperti tidak diperkenankannya menunjuk Memolo (mustaka) yang ada di puncak masjid, karena akan mengakibatkan tangan “cantengan” (wallahu a’lam ....)

Yang saya herankan, dulu.... setiap kali Helatan Haul Gedongan diselenggarakan, walau dari rantau di negri orang saya berupaya keras agar bisa pulang ke kampung halaman. Meski keramaian bagi saya suatu yang biasa, tapi rasanya senang dan bangga saja manakala melihat kampung sendiri ramai dan dikunjungi oleh warga dari luar daerah saat Haul Gedongan. Dan itu saya lakukan setiap tahun, tanpa bosan, mengherankan. Seakan ada sambung rasa, semacam ikatan batin, yang bikin saya (rasanya) wajib hadir saat helatan tersebut diselenggarakan. Itulah daya magi yang magnetis, pertanda aura keramat (saat itu) masih memiliki kekuatan yang mencipta daya tarik. Tapi kini, saya kehilangan rasa itu....

Pada akhirnya saya harus mengeluh; Salahkah kalau saya menyimpan kekecewaan terhadap kebijakan yang mengakibatkan masjid sebagai Pusaka Gedongan harus terbabat habis digantikan bangunan modern yang tidak jelas gaya arsiteknya. Mengapa tidak melakukan perluasan saja ketika itu dengan tetap mempertahankan bangunan aslinya?.

Tapi korban telah jatuh; nasi sudah menjadi bubur, paribasane. Arsitektur kuno pusaka utama Gedongan yang antik dan keramat, telah punah ditelan zaman....

Saat ini, ketika ditanya apa sih (bukti) peninggalan Kyai Said Gedongan? Mana sisa-sisa sejarah bahwa Gedongan pernah menjadi pusat peradaban yang menjadikannya termasuk dalam jajaran pesantren tertua di pulau Jawa? Siapa yang bisa menjawab ini semua?

Duh, Gedongan....! (ASF)

Ketanggungan, Medio Oktober 2010

Rabu, 23 Februari 2011

Tragedi Terbakarnya KMP Laut Teduh II


Kisah Tragis Wong Gedongan Berjibaku Mempertahankan Nyawa di Tengah Lautan

Masih ingat peristiwa Kebakaran KMP Laut Teduh II di perairan laut pulau Tempurung, Anyer Provinsi Banten, Jumat (28/1)?. Dalam peristiwa itu tercatat 13 Penumpangnya dilaporkan meninggal dunia, sementara 427 orang termasuk 31 ABK berhasil diselamatkan. Dari sekian penumpang yang selamat, 6 diantaranya adalah anggota keluarga asal Gedongan Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaaten Cirebon yang berniat hendak mengunjungi keluarga mertua di Lampung sekaligus Mapag Pengangten. Keenam keluarga asal Gedongan itu adalah Maghfur alias Apung (35) beserta istrinya Marwah (25) dan anaknya Mahfudoh (3), kemudian kakak kandung Apung, Bariroh (37) serta anaknya Zakiyatul Miskia (9 bulan) dan keponakan Apung, Siti Khulah (20). Untuk bisa selamat, mereka berjibaku di tengah lautan dan berjuang melawan dinginnya air serta hantaman ombak.

Tak banyak yang dirasakan saat akan meninggalkan rumah. Hanya saja, Bariroh membawa semua baju anaknya seperti akan berpergian lama. “Mungkin ini bisa jadi firasat saya, saat mau berangkat saya senang sekali dan semua baju-baju anak saya di lemari saya bawa. Padahal keberangkatan ke Lampung sudah dicegah oleh semua keluarga, katanya nanti saja hari Senin, tapi saya maksa untuk berangkat hari Kamis (27/1), mungkin sudah harus terjadi seperti ini”, tutur Bariroh mengawali ceritanya.

Apung menceritakan kronologis tragedi KMP Roro Laut Teduh II milik PT. Bangun Putra Remaja yang hendak membawa keluarganya menuju Lampung : Ketika itu kapal sudah mulai meninggalkan dermaga Pelabuhan Merak pukul 01.00 dini hari. Kurang lebih satu jam perjalanan, Apung melihat para Anak Buah Kapal (ABK) terlihat panik membawa alat pemadam api. Sepuluh menit kemudian saat merasa api tak bisa dikendalikan, ABK mengintruksikan para penumpang menggunakan pelampung. “Kejadiannya sekitar pukul 03.00 dini hari. Alhamdulillah, saya dan keluarga setelah sampai di kapal langsung menuju ke atas kapal”, ujarnya.

Saat itu suasana gelap, karena aliran listrik padam, teriakan minta tolong, tangisan menjadi gambaran yang sangat traumatik bagi dirinya sekeluarga. Apung pun ikut berebut pelampung untuk semua anggota keluarganya. Empat pelampung didapatnya. Karena merasa pelampung yang dibutuhkan kurang, Apung kembali mencarinya. “Saya mendapatkan pelampung untuk ukuran balita sesuai yang saya butuhkan”, ucapnya.

Kepanikan bertambah saat sekoci yang hendak diturunkan tidak dapat berfungsi, akhirnya ABK mengintruksi ulang untuk naik ke tempat semula (bagian paling atas kapal). Dan sejak itulah terdengar tiga kali suara ledakan dari arah bagian bawah kapal.

Seruan untuk loncat --karena didesak keadaan kapal yang mulai terbakar pun mulai terdengar. Akhirnya ia membawa anaknya Mahfudoh (3) untuk loncat terlebih dahulu dari ketinggian kira-kira 15 meter. “Saat jatuh ke air, anak saya sempat terlepas tetapi ketika saya mencari ternyata nyangkut di kaki saya dan langsung mengangkatnya”, paparnya sambil mencoba mengenang.

Apung terjun terpisah satu sama lain. Apung bersama anaknya, Mahfudoh lalu Bariroh terjun bersama anaknya Zakiyatul Miskia dan Siti Khulah dan Marwah istrinya terpisah sendiri. “Kami terpisah selama berjam-jam, terapung-apung di tengah laut dan terbawa arus ombak. Selama berada di tengah lautan, saya dan anak masih lancar berkomunikasi. Saya pun terus membaca salawat dan bertakbir sebisanya”, jelasnya.

Setelah terapung selama tiga jam di tengah lautan, pukul 06.00 pagi Apung diselamatkan tim SAR dan dinaikkan ke kapal penyelamat. Tetapi saat itu anggota keluarga yang lain belum berkumpul. Pukul 07.00, Marwah baru diselamatkan setelah 4 jam terapung di lautan. Kemudian Bariroh, Zakiyatul Miskia dan Siti Khulah baru berhasil diselamatkan pukul 08.00. “Mereka 5 jam bergelut dengan ombak, lebih lama dibandingkan yang lainnya”, kata Apung.

Apung sekeluarga pun berkumpul dan langsung dievakuasi ke RSUD Cilegon, Banten. Sementara Siti Khulah ditangani di RS Medical Krakatau. Setelah sehari semalam berada dalam perawatan, ia dijemput oleh keluarga dari Cirebon.

Sampai saat ini, Bariroh merasa masih trauma apabila menceritakan kembali dan melihat pemberitaan di televisi. (tta)

Diadaptasi dari : Radar Cirebon Online

Jumat, 31 Desember 2010

Refleksi & Resolusi Tahun Baru 2011

oleh : Bang Iwan

Tiada ucapan selamat tahun baru yang lengkap tanpa meninjau apa yang kita sebut sebagai resolusi awal tahun. Rasanya sudah tidak asing lagi kebiasaan awal tahun dimana kita diajak membulatkan niat, menanam suatu cita-cita, dan menancapkan tekad untuk mencapai suatu perubahan.

Seorang teman pernah bilang; bahwa baginya resolusi awal tahun adalah proses menggodok semangat juang dalam hidup, supaya dia bisa mengukur kemajuan dan prestasinya dari tahun ke tahun. Teman yang lain berkata; resolusi awal tahun itu hanya sumber stres, karena menurutnya dari sekian banyak keinginan yang tercantum, lebih banyak yang tidak tercapai daripada yang terwujud.

Jadi apa saja resolusi awal tahun Anda? Bagi saya, meluangkan waktu hening dan merenungkan bagaimana kita mengelola energi kreatif dalam hidup, lebih bermanfaat ketimbang sekadar mencantumkan setiap keinginan dalam “daftar belanja” awal tahun.

Mari kita lihat rutinitas yang biasa terjadi di perbatasan antara akhir tahun dan awal tahun. Pertama, tidak ada resolusi awal tahun yang afdol tanpa refleksi akhir tahun. Pada penghujung tahun, kita menengok resolusi yang telah dibuat pada tahun sebelumnya. Kita tepuk bahu kita sendiri atas niatan yang telah tercapai, dan kita pindahkan semua niatan yang belum tercapai sebagai kandidat penghuni daftar resolusi tahun selanjutnya.

Saya sendiri, --terus terang-- jarang tergerak untuk menyusun resolusi awal tahun, saya lebih senang menjalani hidup ini langkah demi langkah. Mengapa begitu? Saya berusaha melihat kembali setiap momen ketika saya membuat rencana, dan sering sekali rencana tersebut tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita prediksikan sebelumnya.

Hidup ini memang sarat dengan perubahan dan ketidakpastian. Terkadang target dipasang supaya keinginan kita punya “bahan bakar” untuk tumbuh, bergerak dan berkembang, namun di tengah bersemangatnya kita mengejar keinginan, tanpa sadar dalam hati terselip rasa “keharusan” yang memaksa. Ini acapkali menjadi sumber stres yang tidak perlu.

Tidak bisa disangkal, kita memang butuh semangat hidup. Tanpa itu, hidup bisa terasa hambar. Namun semangat hidup yang terjangkit “harusitis” –-radang serba harus ini dan itu-– berpotensi menjepit hati, dan akhirnya merampas kemampuan kita untuk menikmati hidup momen demi momen, serta membuat kita lebih mudah untuk lupa bersyukur atas hal-hal yang sederhana namun indah dalam hidup kita.

Ada yang mengatakan bahwa potensi kreativitas manusia itu tak terbatas. Sebagian menjelaskan dengan mengatakan bahwa baru 2% dari otak kita yang sudah terpakai secara optimal. Sebagian lagi menyatakan bahwa karena kita adalah bagian dari ciptaan Ilahi, sumber Maha Kreatif yang mampu menciptakan dan mewujudkan segalanya. Manapun yang benar, agaknya alam berusaha berpesan bahwa kita punya potensi ‘mencipta’ yang luar biasa, termasuk untuk mewujudkan segala hal yang kita inginkan dalam hidup.

Lalu bagaimana caranya agar potensi mencipta ini bisa terwujud menjadi kenyataan? Salah satunya adalah dengan menarik garis batasan yang akan memberikan fokus dan kesempatan agar potensi menjadi nyata.

Contoh, setiap penulis punya segudang ide kreatif untuk menghasilkan karyanya. Namun seringkali tanpa kehadiran garis batasan yang namanya ‘deadline’, kemahakreatifan tersebut sulit sekali dilahirkan dalam bentuk kata-kata. Inilah kekuatan agung dari garis batasan.

Di sinilah saya melihat manfaatnya resolusi awal tahun. Garis batasan di awal dan akhir tahun, memberikan kita semua ‘rahim ruang dan waktu’ untuk mencipta, berkarya dan mewujudkan potensi diri seutuhnya.

Dan akhirnya, ikhlaskan segala kemungkinan terbaik dan terburuk, agar Anda tidak nafsu menang dan takut kalah. Menang dan kalah, berhasil dan gagal, merupakan persepsi yang sangat relatif. Apalagi kalau kita ingat bahwa setiap jiwa kita bertumbuh dan semakin kuat, biasanya justru dari pengalaman-pengalaman yang kita tuding sebagai kekalahan dan kegagalan.

....

http://amriawan.blogspot.com/

Minggu, 05 Desember 2010

Risalah Akhir & Awal Tahun Hijriyah

Munculnya bulan di awal Muharram menandai kedatangan Tahun Baru Hijriyah. Muharram dijadikan sebagai awal bulan dalam setahun oleh Sayyidina Umar pada tahun ke-17 Hijriyah, meskipun secara tradisi urutan bulan di Arab sudah ada sejak lama. Umar menentukan hal tersebut mengingat kaum muslimin saat itu belum mempunyai penanggalan tersendiri.

Dalam realitas kehidupan, khususnya di Indonesia, kita menyaksikan bahwa penyikapan terhadap kedatangan bulan Muharram --sebagai tanda masuknya tahun baru Islam-- berbeda dengan penyikapan terhadap kedatangan awal bulan Januari yang menunjukkan kedatangan Tahun Baru Masehi. Pada yang terakhir ini kita melihat orang-orang mengisinya dengan berbagai pesta pora, hura-hura, dan pelampiasan segala kesenangan dalam berbagai bentuknya semalam suntuk. Sedikit sekali orang yang mengisinya dengan merenungi apa yang telah dilakukannya sepanjang tahun; apa saja keberhasilan dan kegagalannya dalam urusan dunia dan akhirat, dan aktivitas-aktivitas lain yang bersifat evaluasi terhadap dirinya dalam berbagai aspek kehidupan.

Tidak demikian halnya ketika kita menghadapi Tahun Baru Hijriyah. Pada saat-saat mengakhiri tahun yang sedang berjalan dan menyambut tahun baru yang segera datang, tradisi yang berkembang pada kaum muslimin --khususnya di Indonesia-- adalah membaca do’a untuk memohon ampunan atas apa yang telah terjadi di masa lalu dan memohon bimbingan dan petunjuk untuk masa yang akan datang, Meskipun tak ada petunjuk khusus dari Nabi SAW mengenai cara menghadapi tahun baru, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin itu sesuai dengan ajaran Islam, yang sangat menekankan umatnya untuk selalu mengevaluasi diri dan memohon petunjuk-Nya.

Harus diakui, perhatian kaum muslimin kepada kedatangan Tahun Baru Hijriyah tidak sebesar perhatiannya kepada tahun baru Masehi. Kita berharap semoga dari tahun ke tahun perhatian terhadap tahun baru milik kita sendiri ini semakin besar. Tentu saja janganlah diisi dengan aktivitas-aktivitas seperti ketika orang menghadapi tahun baru lainnya, yang penuh dengan hura-hura dan pesta pora. Menyambut Tahun Baru Hijriyah haruslah dengan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu alangkah baiknya bila kita lestarikan tradisi membaca do’a di akhir dan di awal tahun ini, dan kita ajak keluarga kerabat, dan sahabat kita untuk juga melakukannya.

Do’a akhir tahun dan do’a awal tahun yang disajikan ini adalah do’a yang telah dikenal luas dan diamalkan di mana-mana. Bacaan ini dikutip dari kitab Maslakul-Akhyar susunan Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya.

Semoga dengan do’a-do’a yang kita panjatkan di akhir dan awal tahun hijriyah ini, Allah swt. menerima semua amal baik kita, dan menghapuskan dosa kita sepanjang tahun yang lalu. Semoga pula, Dia akan membimbing kita di tahun mendatang, sehingga kita dapat senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, dapat mengalahkan hawa nafsu, dan terlindung dari godaan setan.


Do’a Akhir Tahun

Do’a akhir tahun ini dibaca antara setelah shalat Ashar sampai sebelum Maghrib di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Sebaiknya do’a ini dibaca bersama-sama, baik di rumah, di masjid, maupun di mushalla. Dibaca tiga kali (berturut-turut) dengan harapan Allah swt. menerima amal ibadah kita dan menghapuskan dosa-dosa kita di tahun yang akan segera berakhir ini. Kita meyakini tidak seorang pun yang bersih dari perbuatan dosa dan kesalahan, karena "manusia adalah tempatnya salah dan lupa". Setiap hari dalam setahun ini kita selalu bersentuhan dengan dosa, baik disengaja maupun tidak, disadari atau tidak. Karena itu alangkah baiknya bila kita menutup tahun ini dengan pengakuan berdosa dan bertobat kepada-Nya yang terangkai dalam do’a berikut ini :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ مَاعَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِى. وَمَاعَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَاكَرِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×3

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma maa 'amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halumta 'alayya ba'da qudratika 'alaa uquubati wa da'autani ilat-taubati minhu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa inni astaghfiruka faghfirlii. Wa maa 'amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaaba fas'alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha' rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihii wa sahbihii wa sallam.

Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah, segala yang telah kukerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu Yaa Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.

Bagi orang mukmin, do'a akhir tahun ini harus betul-betul dibaca, jangan sampai lupa. Sebab bila do’a ini dibaca akan membuat setan murka dan berkata : “Aduh, sungguh celaka aku! satu tahun ini aku susah payah menggoda anak Adam, mendadak dirusak dengan masa yang amat sebentar, sebab dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Hanya membaca do’a akhir tahun”


Do’a Awal Tahun

Seperti halnya do'a akhir tahun, do’a awal tahun pun dibaca sebanyak tiga kali, yakni selepas Maghrib tanggal 01 Muharram, dan sebaiknya juga dilakukan dengan berjamaah agar lebih mustajab. Mengingat agung dan besarnya faidah do'a tersebut, maka diharapkan jangan sampai terlewatkan tidak membacanya. Karena apabila ada orang Mu’min membaca do’a ini, maka syaitan berucap : “Aman orang Mukmin yang baca do’a awal tahun, di dalam sisa umurnya di tahun ini, karena Allah swt. mewakilkan dua Malaikat untuk menjaga orang tersebut, agar tidak tergoda olehku”.

Berikut inilah bacaan do’anya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَمِيْمُ الْمُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ : نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَاَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ باِلسُّوْءِ وَاْلإِسْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى إِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. ×3

Bismillaahirrahmaanir-rahiim,
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.

Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada Anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya".


Wirid Awal Muharram

Di samping membentengi diri dengan do'a di akhir dan awal tahun Hijriyah, para ulama juga menganjurkan kita untuk melakukan amaliyah hasanah dalam memasuki hari-hari permulaan di bulan Muharram dengan serangkaian wirid (dzikir disertai dengan bacaan-bacaan secara keras (zahr) ataupun secara batin (sirr) yang dilakukan secara ajek (istiqamah), baik dalam hitungan maupun waktunya).

Di antara wirid-wirid yang baik untuk diamalkan pada awal Muharram adalah sebagai berikut :

1. Membaca Surah Al-Fatihah

Dalam beberapa kitab karya Imam Al-Buni dijelaskan, khasiat membaca Surat Al-Fatihah pada setiap bulan sangat baik untuk memperlancar rezeki. Membaca Surat Al-Fatihah bisa dilakukan kapan saja, terutama sepekan awal bulan, dan sebaiknya dilaksanakan setelah shalat Maghrib. Waktunya terserah kita. Jika dibaca pada sepekan pertama bulan Muharram, tata caranya sebagai berikut :

Pada malam tanggal 01 Muharram membaca surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali; Pada malam tanggal 02 Muharram membaca surah Al-Fatihah pada waktu yang sama sebanyak 60 kali. Selanjutnya pada malam ketiga sebanyak 50 kali, malam keempat 40 kali, malam kelima 30 kali, malam keenam 20 kali; dan terakhir pada malam ketujuh sebanyak 10 kali.

2. Membaca Istighfar

Membaca istighfar, permohonan ampun, juga dianjurkan pada awal bulan Muharram dan juga selama bulan Muharram bahkan setiap hari kita dianjurkan untuk membacanya. Istighfar ini setiap hari sebaiknya dibaca sekurang-kurangnya 70 kali. Lafal istighfar yang paling sederhana adalah :

استغفر اللّه

Astaghfirullahal-'azhim
(“Aku memohon ampun kepada Allah, Yang Maha Agung”)

Sedangkan lafal istighfar yang lengkap adalah :

استغفر اللّه العظيم الّذى لا إله إلاّ اللّه هو الحىّ القيّوم وأتوب اليه


Astaghfirullahal'azhim alladzi laa ilaaha illa huwal-hayyul-qayyuma wa atubu ilaiih
. (“Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya”).

3. Memperbanyak Tasbih dan Tahlil

Kalimat sederhana untuk tasbih adalah :

سبحان اللّه

Subhanallah (“Maha Suci Allah”)

Sedangkan bacaan tahlil yang sederhana adalah :

لا إله إلاّ اللّه

Laa ilaaha illallaah
(“Tiada Tuhan melainkan Allah”)

Namun lebih baik jika tasbih dan tahlil itu dibaca lengkap disertai dengan tahmid dan takbir sebagaimana bacaan bawah ini :

سبحان اللّه والحمد للّه ولا إله إلاّ اللّه واللّه أكبر

Subhanallah walhamdu lilaahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar
. (“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar”)

4. Memperbanyak Shalawat

Dianjurkan juga untuk memperbanyak shalawat dengan lafal sederhananya sebagai berikut :

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Allahumma shalli `alaa sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi sayyidina Muhammad.
(“Yaa Allah, berikanlah Rahmat-Mu untuk junjungan kami, Nabi Muhammad, dan segenap keluarganya”).

Demikianlah ulasan tentang risalah akhir & awal tahun hijriyah, semoga membawa manfaat. Amin.

Wallahu a’lam bish-shawaab .... (ASF)




Sebagian redaksi mengutip dari : Bonus/suplemen majalah "alKisah" edisi 03/2006

Kamis, 12 Agustus 2010

Jadikan Ramadhanmu penuh Rahmat, Berkah, dan Bermakna

Hari ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual, dan pembeningan jiwa dan nurani.

Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. 002 : 183)

Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari “rahim” Ramadhan adalah mereka yang LULUS dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.

Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus” (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna :

Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.

Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauhmana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa. Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda :

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini” (HR. Ath-Thabrani).

Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat --dan tentu saja kita semua-- bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.

Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.

Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.

Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :

“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).

Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.

Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.

Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.

Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihathal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.

Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata :

“Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa”.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak minum” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya).

Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan.

Sumber : 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci