Minggu, 17 April 2011

Pelaku Bom Bunuh Diri Bernama Muchamad Sarip

Identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Ad-Zikra di lingkungan Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, mulai terkuak. Pelaku bom bunuh diri diduga bernama Muchamad Sarip (sebelumnya ditulis bernama Muhammad Syarif).

“Iya mirip (Sarip). 80 Persen mirip cuma beda pada bagian mulut,” kata Kakak orangtua Syarif, Elang Rasid, saat disodori foto bergambar pelaku bom bunuh diri, di rumah orangtua Muchamad Sarip, Gang Rara Kuning II RT 3 RW 6 nomor 55, Petratean, Kecamatan Pekalipan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/4). Elang mengaku sempat dimintai keterangan oleh polisi.

Kediaman orangtua Sarip sepi. Rumah sederhana itu terletak di perkampungan padat. Rumah bercat merah jambu dan pintu pagar warna coklat itu tampak tertutup. Lampu di teras dibiarkan menyala. Tidak ada penghuni yang beraktivitas. Pelaku jarang bergaul dengan tetangga sekitar. Ia kerap marah-marah kepada orangtuanya.

“Si Sarip itu jarang pulang, berangkat pagi pulang malam. Jarang bergaul dengan tetangga,” kata tetangga Sarip, Enjoh. Menurut dia, Sarip suka marah-marah apabila melihat sang ibunda, Ratu Srimulat, tidak mengenakan jilbab atau kerudung.

“Dia juga marah kalau orang rumah sering nonton TV. Dia sering ngancam aku putus atau aku jual saja,” ujar Enjoh. Sarip lebih suka beribadah di musala di kawasan Kebon Pring. “Dia jarang salat di Musala Al Huda,” kata Enjoh.


Ketua RT 3, Ending, mengaku kurang kenal dengan Sarip. “Saya tidak terlalu kenal, dia jarang bergaul sama warga di sini. Dia berangkat pagi pulang malam,” kata Ending.

Bom Bunuh Diri Diduga Dikendalikan Lewat Remote Control

Bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon diduga dikendalikan oleh sang sutradara tak jauh dari lokasi kejadian. Bom diledakkan saat pelaku sudah berada pada lokasi yang dinilai strategis.

“Pada kasus bom di Mapolresta Cirebon, belum tentu juga pelaku melakukan bunuh diri, bisa jadi dikendalikan melalui remote control oleh sang sutradara yang berada di lokasi kejadian,” Ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, dalam siaran pers, Sabtu (16/4/2011).

Menurut Mustofa, pelaku sengaja menggunakan bom dengan skala kecil. Sehingga ledakan yang terjadi tidak menghancurkan kepala pengantin bom bunuh diri tersebut.

“Jika memang ingin bunuh diri maupun berniat membunuh banyak korban, mestinya pelaku menggunakan bom besar yang sekaligus bisa menghancurkan tubuh dan kepalanya, agar tidak meninggalkan jejak. Namun, dengan meninggalkan kepala, diduga ada aktor lain yang mengendalikannya,” tutur Mustofa.

Sang sutradara, menurut Mustofa, mencoba memberikan jejak pelaku bom bunuh diri. Kejadian serupa, menurut Mustofa juga terjadi di ledakan bom Jimbaran dan bom Marriot 2.

“Jika memang ingin bunuh diri maupun berniat membunuh banyak korban, mestinya pelaku menggunakan bom besar yang sekaligus bisa menghancurkan tubuh dan kepalanya, agar tidak meninggalkan jejak. Namun, dengan meninggalkan kepala, diduga ada aktor lain yang mengendalikannya,” duganya. [kn/dtk/vv]

courtesy of : K@barNet

Jumat, 15 April 2011

Duaarrr!!!, Bom Meledak di Masjid Mapolresta Cirebon

Masya Allah ....!!!, untuk kesekian kalinya, Indonesia lagi-lagi digegerkan dengan aksi bom. Sebuah ledakan terjadi di masjid yang berada di areal Markas Kepolisian Resor Cirebon, Jawa Barat, hari ini (15/4).

Sumber di Kepolisian Resor Kota Cirebon yang sekaligus menjadi saksi mata menyebutkan, ledakan bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikro (bukan Masjid At-Taqwa seperti banyak diberitakan, pen.) terjadi saat imam sedang melakukan "takbiratul ihram" untuk memulai Shalat Jumat.


"Usai khotbah, kemudian imam melakukan 'takbiratul ihram', akhirnya bom meledak dan suasana langsung gelap," kata seorang jamaah Shalat Jumat yang juga anggota Mapolresta Cirebon saat dihubungi dari Jakarta.

Ia menjelaskan, pelaku saat berwudlu sudah terlihat mondar-mandir, bahkan juga sempat masuk toilet cukup lama. "Dia masuk ke masjid dan duduk di shaf (baris) kedua, tetapi saat shalat akan dimulai dia bergeser ke tengah Masjid di tengah-tengah," katanya yang mengaku sempat berdiri tidak jauh dari pelaku.

Ia menjelaskan, biasanya ada sekitar 80 persen polisi yang selalu Shalat Jumat di Masjid itu.

Dalam ledakan itu, 17 orang mengalami luka-luka dan pelaku peledakan bom menjadi satu-satunya korban yang korban meninggal dunia. Semua korban saat ini telah dilarikan ke RS Pertamina.

Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, mengatakan bahwa ledakan di Masjid Mapolresta Cirebon, Jumat sekitar pukul 12.20 WIB, diduga adalah bom bunuh diri.

Menurut dia, petugas Polri saat ini masih menyelidiki jenis bom yang meledak. "Tim dari Polri saat ini masih menyelidiki jenis bom yang meledak sesaat menjelang Shalat Jumat," kata Anton Bachrul Alam.

Anton mengatakan, ada 17 korban dari ledakan yang diduga bom bunuh diri itu dan salah satu korbannya adalah Kapolresta Cirebon, AKBP Herukoco. Korban lainnya adalah Kasubag SDM, Kasatlantas, dua anggota Provost Polresta Cirebon, dua PNS dan masyarakat sipil.

"Para korban saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Cirebon," kata Anton.

Sumber : http://www.republika.co.id

Sabtu, 02 April 2011

Salam Tabik Haul Buntet

Hari ini, Sabtu (02/04/2011) di Buntet Pesantren Kabupaten Cirebon sedang digelar helatan tahunan "Haul". Helatan yang sudah berlangsung puluhan kali diselenggarakan ini, merupakan acara pertemuan atau silaturahmi antara warga Buntet, para santri, para alumni, pejabat, petinggi dan berbagai komponen masyarakat. Karenanya, tidak heran jika setiap haul ratusan ribu manusia berduyun-duyun mendatangi Buntet Pesantren.

HAUL atau hari ulang tahun yang dirayakan setiap tahun di kampung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, menjadi adat masyarakat yang hampir tidak pernah dilewatkan dalam benak orang-orang Buntet dan komunitasnya. Haul itu sendiri dinamai HAUL Almarhumin warga dan sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Sehingga yang menyelenggarakan haul bukan saja para keluarga sesepuh pondok Buntet Pesantren, tetapi semua warga yang ada di Buntet Pesantren berhak untuk meramaikan dan berkontribusi dalam ajang tahunan ini.

Tidak heran, dari semula haul sebagai acara keluarga pondok, untu saling mengingat kematian, menghormati para sesepuh dan merekatkan silaturahmi, kini sudah menjadi konsumsi publik dan dihadiri oleh ratusan ribu tamu dan penggiat setiap tahun.

Tidak heran juga para pejabat hingga presiden kerap hadir di moment silaturahmi ini. Haul telah berubah bukan saja forum silaturahmi tetapi juga forum ukhuwah basyariyah dan ukhuwah Islamiyah.

Salam Tabik! semoga seluruh acara yang diagendakan dapat berjalan dengan sukses, amien.... (ASF)

Kamis, 31 Maret 2011

Jepang Bangun Perpustakaan ”Endang Bunko” di SDN Ender II

CIREBON - Satu sudut lapang di area SDN Ender II Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, dipadati warga sekolah sejak pagi hari. Sebuah panggung dinaungi tenda berdiri sederhana. Radar yang datang ke lokasi pukul 07.30 terperangah melihat sebuah sedan bernopol CD 49 11. Plat CD menunjukan mobil diplomat kedutaan asing. Mungkin tak heran bila mobil seperti itu bersliweran di jalanan ibu kota. Tapi ini? Di sebuah desa di timur Cirebon.

Ternyata mobil itu digunakan Third Secretary Information and Culture kedutaan besar Jepang untuk Indonesia, Mr Takayuki Kawai. Ia mewakili Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri, menghadiri peresmian perpustakaan “Endang Bunko” di SDN II Ender.

Sejak acara dimulai, baru Radar dan reporter The Daily Jakarta Shimbun, Yasuhiro Okasaka yang meliput. Hadir di tempat yang sama pembuat film Mas Endang Miyuki Inuoe, dan 15 orang kaum ibu serta anak muda Jepang anggota Jakarta-Japan Networking (J2Net). Mereka adalah istri-istri staf kedubes Jepang di Indonesia dan istri pengusaha Jepang yang beraktivitas di Indonesia. “Ini kedatangan saya kedua ke Cirebon. Sebelumnya, tahun lalu saya sempat berkeliling di Kota Cirebon”, kata Takayuki dengan bahasa Indonesia aksen Jepang.

Kepala SDN Ender II, Hj. N. Amanah SP.d mengaku salut atas upaya Miyuki yang membuat film tentang kematian Endang, warga Desa Ender Kecamatan Pangenan di Jepang. Film itu disambut hangat penonton hingga mengucurkan banyak sumbangan bagi mereka yang berhubungan dengan Endang di Indonesia. Di antaranya SDN II Ender dimana Endang alumnus tahun 1999. SD yang terletak di jalan arah masuk Pesantren Gedongan tersebut mendapat sumbangan pembangunan sebuah gedung perpustakaan berikut isi. “Nilai bangunannya sekitar Rp300 juta”, terang Amanah seraya menyebutkan perjuangan Miyuki sangat mulia dan gadis Jepang itu dianggap termasuk pahlawan tanpa tanda jasa.

Miyuki serius dengan pen­di­rian gedung “Endang Bun­ko”. Ia menjelaskan bunko adalah bahasa Jepang untuk perpustakaan kecil. Maka tak tangung-tanggung, 2 arsitek dari Jepang dipercaya untuk membangunnya. Ada Ikko Kobayashi dan asisten profesor dari Tokyo University of the arts, Fumi Kashimura. Mereka menyelesaikan pembangunan selama 6 bulan. “Bangunan ini mengadopsi gaya Terakoya”, ujar Ikko seraya menjelaskan Terakoya adalah sekolah rakyat masa Jepang sebelum moderen di era 1800-an yang berada di lingkungan kuil.

Bangunan “Endang Bunko” seluas 8,4 x 8,4 meter sekelilingnya dibuat dari beton dengan banyak jendela di tiap sisi. Atap menggunakan kayu dan anyaman bambu dimanfaatkan sebagai eternit. Pintu masuk utama merujuk konsep pintu geser khas rumah tradisionil Jepang. Tak hanya bagian luar yang bercita-rasa Jepang. Bagian dalam terlihat lebih kentara. Sebuah sudut cukup luas digunakan untuk membaca secara lesehan. Sementara furnitur rak buku dilapisi anyaman bambu.

Ayah Endang, H. Mamat Was­ji (52) dan ibu Hj. Saeni (48), mengaku terharu dengan perhatian warga Jepang terhadap kepergian puteranya 4 tahun lalu. Atas film Mas Endang yang dibuat Miyuki, Mamat sempat diundang secara khusus oleh pemerintah Jepang pada 2008. Di Tokyo, Mamat menyaksikan pemberian penghargaan gelar pahlawan dari pemerintah Jepang untuk Endang. Pada 2009, sisi lain keluarga Mamat setelah diting­gal anak kedua dari tiga ber­saudara makin mengemuka, sebab hadir di acara talkshow Kick Andy. “Apa yang dikatakan Miyuki ingin memberi bantuan, di antaranya terwujud lewat pem­ba­ngunan perpustakaan ini”, kata lelaki yang berprofesi petani itu.

Dalam sambutannya, perwa­kilan Dubes Jepang Mr. Takayuki mengungkapkan, semoga apa yang telah dilakukan Endang dengan berkorban diri menolong orang lain bisa menjadi inspirasi kebaikan bagi semua. Ia ber­ha­rap perpustakaan yang didirikan mampu meningkatkan kecer­dasan adik-adik kelas Endang. “Kami orang Jepang terbiasa de­ngan budaya membaca. De­ngan membaca akan menambah ilmu dan wawasan”, tuturnya.

Acara peresmian berakhir pukul 12.00. Anggota J2Net unjuk kebolehan menghibur hadirin dengan menyuguhkan teater boneka gaya Jepang. Sebelumnya, Senin malam (28/3), anggota J2Net membaur bersama masyarakat sekitar SDN II Ender, bersama menyaksikan pemutaran film Mas Endang.


TAK TERPENGARUH TSUNAMI

Sebuah komitmen luar bia­sa, ketika negeri dirundung mu­­sibah, warga Jepang di In­do­nesia khususnya yang ber­tugas di Kedubes Jepang te­tap menjalankan pekerjaan se­baik mungkin. “Tidak ada yang pulang ke Jepang. Semua masih bekerja di Indonesia”, kata Third Secretary Information and Culture kedutaan besar Jepang untuk Indonesia, Mr. Takayuki Kawai, menjelaskan staf Kedubes termasuk Dubes Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri, masih tetap di Indonesia pasca bencana tsunami menghantam Jepang 11 Maret lalu.

Takayuki sendiri memiliki keluarga besar di Tokyo. Jadi tak terkena dampak bencana gempa dan tsunami yang parah. “Tapi kalau ekses seperti listrik sering mati saat ini di Tokyo, keluarga saya pasti mengalami”, ujar lelaki berkacamata itu. Ditanya soal tsunami, Takayuki mengangguk-angguk tanda penghormatan khas Jepang pada Radar. “Terima kasih, terima kasih”, katanya memaksudkan pertanyaan tentang tsunami dirasakan seba­gai bentuk perhatian. (ron)


sumber berita : http://radarcirebon.com/

gambar photo diperoleh dari : http://www.halojepang.com/sosial-iptek/

Jumat, 25 Maret 2011

diece ergo sum (saya dihina maka saya ada)

Atas nama harga diri, orang bisa kalap berbuat tanpa kendali. Demi mempertahankan harga diri, orang rela mempertaruhkan jiwanya sendiri. Harga diri adalah harga mati, harga diri harus dijunjung tinggi, karenanya "jangan main-main dengan harga diri....!", begitu biasa orang menggertak membela diri.

Harga diri bak bara dalam sekam, bila tersulut amarah dapat menyala dan berkobar. Harga diri yang terusik dapat membangkitkan sentimentil yang tinggi, hingga makhluk lemah tak berbisa pun merasa bernyali dan menjadi berani; seekor cacing tanah akan berontak jingkrak bila ia terinjak, apatah lagi manusia makhluk yang memiliki ego tinggi.

Harga diri dimiliki setiap individu. Ungkapan "saya masih punya harga diri!", cukup menjadi bukti bahwa harga diri itu memang ada (dengan kadar yang berbeda-beda tentunya).

Pada umumnya harga diri akan bangkit manakala hati/perasaan tersakiti, terlecehkan, atau lebih vulgarnya "terhina". Ya, kata "hina" cukup ampuh menjadi pemantik membangkitan harga diri. Siapapun akan terusik ego-nya untuk menunjukkan harga diri manakala kepadanya ditujukan hinaan.

Hinaan bisa datang dari mana saja, kapan saja, entah dalam bentuk fitnah, ejekan, umpatan/makian, sindiran, ataupun tindakan. Hinaan juga bisa muncul dalam bentuk coretan gambar, tulisan atau sekedar kata-kata.

Tapi, manusiawi kalau perasaan ini masih ada di diri. Sangat manusiawi, karena setiap manusia pernah dihina. Nabi saja sebagai manusia pilihan Tuhan, tidak luput dari hinaan, apalagi manusia biasa seperti kita-kita.

Adam alaihissalam yang ketika itu masih menetap di surga dihina oleh iblis laknatullah :

Allah berfirman : "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". Iblis berkata : "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Shaad : 75-76)

Dalam Surat Huud (11, 36-38) dikisahkan : ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk Wahyu-Nya, maka Nabi Nuh pun mulai membuat bahtera. dan Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nabi Nuh, mereka (selalu) mengejeknya.

Fir’aun Sang Penguasa Mesir pernah menghina Nabi Musa sebagai seorang yang kena sihir :

dan Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir". (QS. Al-Isra’ : 101)

Bahkan junjungan kita Nabi Muhammad saw. dalam mengemban misi dakwahnya beberapa kali mendapat hinaan juga cercaan hingga sampai mencelakai; Nabi pernah diludahi oleh orang Yahudi, Nabi pernah ditimpah batu hingga berdarah-darah oleh Bangsa Thaif, Nabi juga pernah dilempar seonggok kotoran unta oleh Kaum Kafir Quraisy.

Hinaan akan senantiasa ada sepanjang hayat masih dikandung badan, bahkan sampai mati berkalang tanah hinaan belum hilang. Walaupun berusaha untuk dibuang, ia akan datang tanpa diundang, karena hakikatnya hinaan ada ada pada diri kita, hinaan adalah diri kita sendiri. Sadarkah bahwa dengan dihina maka kita ada, atau dalam terminologi bahasa Gedongan "Diece Ergo Sum" (saya dihina maka saya ada).

Kita ada karena hinaan-hinaan; sejak belum adanya kita hinaan telah diterima oleh kedua orang tua kita. Sejak bapak atau ibu kita masih hidup sendiri-sendiri (menjomblo) ia dihina karena belum punya pasangan. Setelah bapak/ibu berjodoh dan diikat dalam tali perkawinan, ia dihina karena belum punya keturunan, belum punya pekerjaan, belum punya kendaraan, dan masih banyak lagi hinaan. Hinaan belum selesai walaupun --katakan-- akhirnya keduanya dapat memenuhi semuanya; dianugerahi momongan, mempunyai pekerjaan dan kendaraan. Orang tua harus bersusah payah mengurus dan merawatnya; Ia harus menyekolahkan anaknya supaya pintar dan berprestasi, ia harus menjaga anaknya agar tumbuh sehat dan bergizi, ia juga harus bisa menjamin masa depan anaknya supaya kelak hidupnya terpandang dan tidak dihina orang.

Sudah selesai sampai di sini?, jawabnya "masih belum ...."

Sekarang kita masih harus meneruskan perjuangan orang tua kita, karena hinaan masih setia menghadang. Hinaan ada dimana-mana; di belakang sana, di samping kiri dan kanan kita, di depan mata atau di sekeliling kita. Namun tak perlu dihindari, karena dia takkan pergi.

Hinaan datang, hadapi dengan lapang. Syukuri (saja) dan nikmati; toh kita bisa mengerti karena dihina; kita bisa bicara karena dihina; kita bisa berjalan karena dihina; kita bisa membaca, kita bisa menulis, kita pintar, kita berhasil, semuanya karena kita dihina; kita ada (hidup) sekarang karena dihina. Jelas hal ini disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Mursalaat [77] Ayat 20 yang artinya :

"Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?" (77 : 20).

Dan di Surat As-Sajdah [32] Ayat 8 disebutkan :

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (32 : 8)

So, masihkah merasa terhina bila dihina? masihkan perlu menunjukkan harga diri kalau hinaan datang menerjang. Jargon Mr. Tukul "Hinaan adalah cambuk, Pujian adalah racun" yang sering dilontarkan dalam acara "BEM" kiranya dapat menjadi motivasi.

Hinaan, hadapi dengan sewajarnya!, karena tidak ada orang yang luput dirinya, asalkan masih ambang batas di luar konteks Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Mujaadilah [58] Ayat 27 yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (58 : 27)

Ini yang perlu dihindari. Naudzu billahi min dzalik!. (ASF)


Wallahul Muwafiq,

Alfaqiir Ahmad Syifa Ahsan Asyirbony