Minggu, 24 April 2011

Jangan Panggil Aku Raden Ajeng!

R E S E N S I B U K U











Judul Buku | Panggil Aku Kartini Saja
Penulis : Pramoedya Ananata Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2003
Halaman : 301 halaman



Pada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, ia sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Titik. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.

Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Hanya segelintir yang tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”.

Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disempitkan dan disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

****

Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14) Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang di kemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.

Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu".

Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis”. Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.

Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus?” Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.

Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106). Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu di kemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.

Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa belajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya. Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini? Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.

Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.

Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “...dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.

Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.


ZEN RACHMAT SUGITO,
Bekerja di Riset Independen Arsip Kenegaraan (RIAK) Jakarta

Rabu, 20 April 2011

Mati Sangit Ala Si Sarip

Gelar “syahid” yang menjadi ghordul akhir para Mujahidin nampaknya tidak pantas disandangkan kepada Muchamad Sarip, pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro Mapolresta Cirebon, Jumat (15/4/2011). Atas tingkah konyolnya yang dilakukan, bukan mati syahid yang ia dapat, tapi “mati sangit”.

“
Sangit” dalam dialek Cerbon diistilahkan untuk menunjukkan sebuah aroma menyengat kurang sedap yang ditimbulkan dari sesuatu yang terbakar, misalnya aroma yang timbul dari masakan gosong atau barang yang telah hangus, seperti plastik, kayu, atau benda non cair lainnya. Mati sangit yang dilakoni lelaki jangkung dengan tinggi badan 181 sentimeter ini berarti mati dalam keadaan hangus terpanggang, gosong karena panas yang sangat.

Untuk menjadi seorang yang mati sangit, Si Sarip (biasa Muchammad Sarip dipanggil di lingkungannya) nampaknya sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Dua pekan sebelum kejadian, dia pergi meninggalkan istrinya Sri Maliha (27) yang tinggal di Gg. 30 Bata RT 03/RW 01 Dusun Senen Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumber Jaya Kabupaten Majalengka,
pamit hendak merantau mencari uang untuk biaya persalinan anak pertama mereka. Sri sendiri saat ini tengah hamil 9 bulan.

Di lokasi kejadian, sebelum shalat Jum'at di Masjid Adz-Dzikro Mapolresta Cirebon dimulai, Si Sarip yang mengenakan pakaian serba hitam-hitam, mulai dari baju, celana panjang, jaket, hingga peci serta tas pinggang, sudah terlihat gelisah. Ia nampak mondar-mandir di kamar mandi dekat tempat wudlu, seakan sedang menyiapkan sesuatu. Namun jamaah yang mayoritas adalah anggota kepolisian Polresta Cirebon tidak ada yang menaruh curiga kepadanya.

Sekitar pukul 11.55 WIB, tertib salat Jumat mulai dilakukan, selang lima menit berikutnya, Ust. Abbas mulai menyampaikan khutbah. Pada saat itu Si Sarip masih belum masuk ke dalam masjid, ia masih mondar-mandir di sekitar kamar mandi.

Pukul 12.10 WIB, ketika Khatib telah menuntaskan khutbahnya, dan jamaah bersiap untuk melakukan salat Jum'at. Si Sarip masuk ke dalam masjid dan berbaur dengan jamaah lainnya, ia menempati shaf ke-3 dari depan.

Selang beberapa detik saat Imam mulai mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, terdengar ledakan dahsyat dari shaf ketiga. “Duarrr....!!!”, keadaan sejenak hening, kemudian setelah itu jamaah gaduh riuh sesekali terdengan teriakan histeris dan rintihan. Sejumlah orang tergeletak, terluka, Si Sarip pun terkapar sangit, dia langsung ambruk dan tewas seketika dengan kondisi perut menganga. Jamaah yang berdekatan dengannya berjatuhan dan menderita luka serius, kemudian dievakuasi oleh jamaah lainnya.


Kapolresta Cirebon
AKBP Herukoco yang berada di shaf terdepan juga ikut menjadi korban. Punggungnya terluka akibat terkena serpihan bom, seperti paku, baut, dan mur.

Salat Jumat di masjid tersebut akhirnya urung dilanjutkan. Puluhan korban luka, termasuk Kapolresta langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Demikian halnya korban selamat juga langsung dievakuasi dari masjid. Sementara jasad Si Sarip, ditinggalkan di dalam masjid hingga datang petugas dari tim khusus kepolisian.

Dalam peristiwa itu, sekitar 27 orang menjadi korban dari luka ringan hingga luka berat akibat ulah bejat “Si Sarip yang diduga sarap” mengakhiri perjalanan hidupnya dengan “Mati Sangit”. (
ASF)

Minggu, 17 April 2011

Pelaku Bom Bunuh Diri Bernama Muchamad Sarip

Identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Ad-Zikra di lingkungan Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, mulai terkuak. Pelaku bom bunuh diri diduga bernama Muchamad Sarip (sebelumnya ditulis bernama Muhammad Syarif).

“Iya mirip (Sarip). 80 Persen mirip cuma beda pada bagian mulut,” kata Kakak orangtua Syarif, Elang Rasid, saat disodori foto bergambar pelaku bom bunuh diri, di rumah orangtua Muchamad Sarip, Gang Rara Kuning II RT 3 RW 6 nomor 55, Petratean, Kecamatan Pekalipan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/4). Elang mengaku sempat dimintai keterangan oleh polisi.

Kediaman orangtua Sarip sepi. Rumah sederhana itu terletak di perkampungan padat. Rumah bercat merah jambu dan pintu pagar warna coklat itu tampak tertutup. Lampu di teras dibiarkan menyala. Tidak ada penghuni yang beraktivitas. Pelaku jarang bergaul dengan tetangga sekitar. Ia kerap marah-marah kepada orangtuanya.

“Si Sarip itu jarang pulang, berangkat pagi pulang malam. Jarang bergaul dengan tetangga,” kata tetangga Sarip, Enjoh. Menurut dia, Sarip suka marah-marah apabila melihat sang ibunda, Ratu Srimulat, tidak mengenakan jilbab atau kerudung.

“Dia juga marah kalau orang rumah sering nonton TV. Dia sering ngancam aku putus atau aku jual saja,” ujar Enjoh. Sarip lebih suka beribadah di musala di kawasan Kebon Pring. “Dia jarang salat di Musala Al Huda,” kata Enjoh.


Ketua RT 3, Ending, mengaku kurang kenal dengan Sarip. “Saya tidak terlalu kenal, dia jarang bergaul sama warga di sini. Dia berangkat pagi pulang malam,” kata Ending.

Bom Bunuh Diri Diduga Dikendalikan Lewat Remote Control

Bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon diduga dikendalikan oleh sang sutradara tak jauh dari lokasi kejadian. Bom diledakkan saat pelaku sudah berada pada lokasi yang dinilai strategis.

“Pada kasus bom di Mapolresta Cirebon, belum tentu juga pelaku melakukan bunuh diri, bisa jadi dikendalikan melalui remote control oleh sang sutradara yang berada di lokasi kejadian,” Ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, dalam siaran pers, Sabtu (16/4/2011).

Menurut Mustofa, pelaku sengaja menggunakan bom dengan skala kecil. Sehingga ledakan yang terjadi tidak menghancurkan kepala pengantin bom bunuh diri tersebut.

“Jika memang ingin bunuh diri maupun berniat membunuh banyak korban, mestinya pelaku menggunakan bom besar yang sekaligus bisa menghancurkan tubuh dan kepalanya, agar tidak meninggalkan jejak. Namun, dengan meninggalkan kepala, diduga ada aktor lain yang mengendalikannya,” tutur Mustofa.

Sang sutradara, menurut Mustofa, mencoba memberikan jejak pelaku bom bunuh diri. Kejadian serupa, menurut Mustofa juga terjadi di ledakan bom Jimbaran dan bom Marriot 2.

“Jika memang ingin bunuh diri maupun berniat membunuh banyak korban, mestinya pelaku menggunakan bom besar yang sekaligus bisa menghancurkan tubuh dan kepalanya, agar tidak meninggalkan jejak. Namun, dengan meninggalkan kepala, diduga ada aktor lain yang mengendalikannya,” duganya. [kn/dtk/vv]

courtesy of : K@barNet

Jumat, 15 April 2011

Duaarrr!!!, Bom Meledak di Masjid Mapolresta Cirebon

Masya Allah ....!!!, untuk kesekian kalinya, Indonesia lagi-lagi digegerkan dengan aksi bom. Sebuah ledakan terjadi di masjid yang berada di areal Markas Kepolisian Resor Cirebon, Jawa Barat, hari ini (15/4).

Sumber di Kepolisian Resor Kota Cirebon yang sekaligus menjadi saksi mata menyebutkan, ledakan bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikro (bukan Masjid At-Taqwa seperti banyak diberitakan, pen.) terjadi saat imam sedang melakukan "takbiratul ihram" untuk memulai Shalat Jumat.


"Usai khotbah, kemudian imam melakukan 'takbiratul ihram', akhirnya bom meledak dan suasana langsung gelap," kata seorang jamaah Shalat Jumat yang juga anggota Mapolresta Cirebon saat dihubungi dari Jakarta.

Ia menjelaskan, pelaku saat berwudlu sudah terlihat mondar-mandir, bahkan juga sempat masuk toilet cukup lama. "Dia masuk ke masjid dan duduk di shaf (baris) kedua, tetapi saat shalat akan dimulai dia bergeser ke tengah Masjid di tengah-tengah," katanya yang mengaku sempat berdiri tidak jauh dari pelaku.

Ia menjelaskan, biasanya ada sekitar 80 persen polisi yang selalu Shalat Jumat di Masjid itu.

Dalam ledakan itu, 17 orang mengalami luka-luka dan pelaku peledakan bom menjadi satu-satunya korban yang korban meninggal dunia. Semua korban saat ini telah dilarikan ke RS Pertamina.

Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, mengatakan bahwa ledakan di Masjid Mapolresta Cirebon, Jumat sekitar pukul 12.20 WIB, diduga adalah bom bunuh diri.

Menurut dia, petugas Polri saat ini masih menyelidiki jenis bom yang meledak. "Tim dari Polri saat ini masih menyelidiki jenis bom yang meledak sesaat menjelang Shalat Jumat," kata Anton Bachrul Alam.

Anton mengatakan, ada 17 korban dari ledakan yang diduga bom bunuh diri itu dan salah satu korbannya adalah Kapolresta Cirebon, AKBP Herukoco. Korban lainnya adalah Kasubag SDM, Kasatlantas, dua anggota Provost Polresta Cirebon, dua PNS dan masyarakat sipil.

"Para korban saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Cirebon," kata Anton.

Sumber : http://www.republika.co.id

Sabtu, 02 April 2011

Salam Tabik Haul Buntet

Hari ini, Sabtu (02/04/2011) di Buntet Pesantren Kabupaten Cirebon sedang digelar helatan tahunan "Haul". Helatan yang sudah berlangsung puluhan kali diselenggarakan ini, merupakan acara pertemuan atau silaturahmi antara warga Buntet, para santri, para alumni, pejabat, petinggi dan berbagai komponen masyarakat. Karenanya, tidak heran jika setiap haul ratusan ribu manusia berduyun-duyun mendatangi Buntet Pesantren.

HAUL atau hari ulang tahun yang dirayakan setiap tahun di kampung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, menjadi adat masyarakat yang hampir tidak pernah dilewatkan dalam benak orang-orang Buntet dan komunitasnya. Haul itu sendiri dinamai HAUL Almarhumin warga dan sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Sehingga yang menyelenggarakan haul bukan saja para keluarga sesepuh pondok Buntet Pesantren, tetapi semua warga yang ada di Buntet Pesantren berhak untuk meramaikan dan berkontribusi dalam ajang tahunan ini.

Tidak heran, dari semula haul sebagai acara keluarga pondok, untu saling mengingat kematian, menghormati para sesepuh dan merekatkan silaturahmi, kini sudah menjadi konsumsi publik dan dihadiri oleh ratusan ribu tamu dan penggiat setiap tahun.

Tidak heran juga para pejabat hingga presiden kerap hadir di moment silaturahmi ini. Haul telah berubah bukan saja forum silaturahmi tetapi juga forum ukhuwah basyariyah dan ukhuwah Islamiyah.

Salam Tabik! semoga seluruh acara yang diagendakan dapat berjalan dengan sukses, amien.... (ASF)