Minggu, 23 Agustus 2009
Keutamaan Malam dan Hari-hari Ramadhan
Pada malam pertama Ramadhan : Allah swt mengampuni semua dosa yang tersembunyi dan yang terang-terangan, meninggikan beribu-ribu derajat, membangunkan untuk kalian lima puluh ribu kota di surga.
Pada hari kedua : Allah swt mencatat setiap ibadah kalian seperti ibadah satu tahun dan pahalanya seperti pahala seorang nabi, mencatat puasa kalian seperti puasa satu tahun.
Pada hari ketiga : Allah swt memberi kalian setiap rambut di tubuh kalian taman permata yang indah di surga Firdaus, di atasnya dua belas ribu rumah dari cahaya, di bawahnya dua belas ribu tempat tidur dan di setiap tempat tidur ada bidadari, setiap hari seribu malaikat berkunjung dan setiap malaikat membawa hadiah untuk kalian.
Pada hari keempat : Allah memberi kalian di surga Khuld tujuh puluh ribu istana dan di setiap istana terdapat tujuh puluh ribu rumah, di setiap rumah terdapat lima puluh ribu tempat tidur dan di setiap tempat tidur terdapat bidadari, dan setiap bidadari memiliki seribu perhiasan yang lebih baik dari dunia dan segala isinya.
Pada hari kelima : Allah swt memberi kalian di surga Al-Ma’wa beribu-ribu kota, setiap kota terdapat seribu rumah, di setiap rumah terdapat seribu meja makan, di atas setiap meja makan tujuh puluh ribu tempat makanan, di setiap tempat makanan tujuh puluh macam makanan yang tidak sama satu dengan yang lain.
Pada hari keenam : Allah swt memberi kalian di surga Darussalam seratus ribu kota, di setiap kota seratus perkampungan, di setiap perkampungan seratus ribu rumah, di setiap rumah seratus ribu tempat tidur dari emas yang panjang, setiap tempat tidur panjangnya seribu hasta, di atas tempat tidur terdapat bidadari sebagai pasangan yang berhias dengan tiga puluh ribu perhiasan dari permata putih dan permata merah, dan setiap bidadari membawa seratus pelayan.
Hari ketujuh : Allah swt memberi kalian di surga Na’im pahala seperti pahala seribu syuhada’ dan empat puluh ribu orang yang benar.
Hari kedelapan : Allah swt memberi kalian pahala seperti pahala amal enam puluh ribu ahli ibadah dan orang enam puluh ribu orang yang zuhud.
Pada hari kesembilan : Allah Azza wa Jalla memberi kalian apa yang diberikan kepada seribu ulama, seribu orang yang i’tikaf, dan seribu orang yang menyambung tali persaudaraan.
Pada hari kesepuluh : Allah Azza wa Jalla memenuhi tujuh puluh ribu hajat, dan memohonkan ampunan untuk kalian matahari, bulan, bintang-bintang, binatang yang melata, burung, binatang buas, setiap bebatuan dan bongkahan tanah liat, setiap yang kering dan yang basah, setiap binatang di laut dan dedaunan di pepohonan.
Pada hari kesebelas : Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian pahala seperti pahala empat kali orang yang haji dan umrah, setiap yang haji bersama seorang Nabi, dan setiap yang umrah bersama orang yang benar dan yang syahid.
Pada hari kedua belas : Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian keimanan yang dapat merubah keburukan-keburukan menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat-ganda, dan mencatat bagi kalian setiap kebaikan seribu kebaikan.
Pada hari ketiga belas : Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian pahala seperti pahala ibadah penduduk Mekkah dan Madinah, dan Allah memberi kalian syafaat sejumlah bebatuan dan bongkahan tanah liat yang ada di antara Mekkah dan Madinah.
Pada hari keempat belas : Kalian seperti berjumpa dengan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud dan Sulaiman, dan seperti beribadah kepada Allah Azza wa Jalla bersama setiap Nabi selama dua ratus tahun.
Pada hari kelima belas : Allah Azza wa Jalla menunaikan untuk kalian hajat-hajat dunia dan akhirat, memberi kalian apa yang diberikan kepada Nabi Ayyub; para malaikat pemikul Arasy memohonkan ampunan untuk kalian; dan pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan memberi kalian empat puluh cahaya, sepuluh cahaya dari sebelah kanan kalian, sepuluh dari sebelah kiri kalian, sepuluh dari depan kalian, dan sepuluh cahaya dari belakang kalian.
Pada hari keenam belas : Allah swt akan memberi kalian pada hari kalian dibangkitkan dari kubur enam puluh pakaian untuk kalian pakai, enam puluh onta untuk kalian kendarahi, dan Allah swt mengirimkan awan untuk menaungi kalian dari sengatan panas hari itu.
Pada hari ketujuh belas : Allah Azza wa Jalla menyatakan: “Sungguh Aku telah mengampuni mereka dan bapak-bapak mereka, Aku akan lindungi mereka dari azab hari kiamat”.
Pada hari kedelapan belas : Allah Azza wa Jalla memerintahkan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, malaikat pemikul Arasy dan Al-Karubin agar memohonkan ampunan untuk ummat Muhammad saw sampai tahun berikutnya, dan Allah Azza wa Jalla memberikan pada kalian pahala para syuhada’ Badar.
Pada hari kesembilan belas : Semua malaikat langit dan bumi minta izin kepada Tuhannya untuk berziarah ke kuburan kalian setiap hari, dan setiap malaikat membawa hadiah dan minuman untuk kalian.
Pada hari kedua puluh : Pada suatu hari Allah Azza wa Jalla mengutus kepada kalian tujuh puluh Malaikat untuk menjaga kalian dari setiap setan yang terkutuk; Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian setiap hari kalian puasa seperti berpuasa seratus tahun; menjadikan parit antara kalian dan neraka; memberi kalian pahala orang yang termaktub dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qu’an; Allah Azza wa Jalla mencatat untuk kalian setiap pena Jibril (as) sebagai ibadah satu tahun; memberikan pada kalian pahala tasbih Arasy dan Kursi; dan memberi pasangan untuk kalian setiap ayat Al-Qur’an seribu bidadari.
Pada hari kedua puluh satu : Allah swt meluaskan kuburan kalian seribu farsakh, menghilangkan dari kalian kegelapan dan kesepian, menjadikan kuburan kalian seperti kuburan para syuhada’, dan menjadikan wajah kalian seperti wajah Yusuf bin Ya’qub (as).
Pada hari kedua puluh dua : Allah Azza wa Jalla akan mengutus kepada kalian malaikat maut seperti pada para Nabi saw, menyelamatkan kalian dari keganasan malaikat Munkar dan Nakir, dan menghilangkan dari kalian penderitaan dunia dan akhirat.
Pada hari kedua puluh tiga : Kalian akan melintasi shirathal mustaqim bersama para Nabi, shiddiqin dan syuhada’, dan pahala kalian seperti memberi makanan kepada setiap anak yatim dari ummatku dan seperti memberi pakaian kepada setiap yang telanjang dari ummatku.
Pada hari kedua puluh empat : Kalian tidak akan keluar dari dunia kecuali kalian melihat kedudukannya di surga; setiap kalian diberi pahala seribu orang yang sakit, seribu pahala orang yang merantau untuk mentaati Allah Azza wa Jalla; kalian diberi pahala seribu pembebasan dari keturunan nabi Ismail (as).
Pada hari kedua puluh lima : Allah Azza wa Jalla membangunkan untuk kalian di bawah Arasy seribu menara hijau, di atas setiap menara terdapat kemah dari cahaya, dan Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman: “Wahai ummat Muhammad, Aku adalah Tuhan dan kalian adalah hamba-Ku, bernaunglah kalian di bawah Arasy-Ku di menara-menara ini, makan dan minumlah sepuas kalian, jangan takut dan jangan sedih; wahai ummat Muhammad, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan mengirim kalian ke surga, kalian akan dibanggakan oleh orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir, Aku akan memberikan pada setiap kalian seribu mahkota dari cahaya, kendaraan onta yang Kuciptakan dari cahaya, tali kendalinya dari cahaya dan pada tali kendali itu terdapat seribu lingkaran yang terbuat dari emas, dan pada setiap lingkaran berdiri malaikat, dan setiap malaikat memegang tongkat dari cahaya sehingga kalian memasuki surga tanpa dihisab".
Pada hari kedua puluh enam : Allah swt memandang kalian dengan kasih sayang-Nya, kemudian mengampuni semua dosa kalian kecuali sogokan dan hartanya; Allah swt mensucikan rumah kalian setiap hari tujuh puluh ribu kali dari ghibah dan dusta.
Pada hari kedua puluh tujuh : Kalian seperti menolong setiap mukmin dan mukminah, memberi pakaian pada tujuh puluh ribu orang yang telanjang, membantu seribu orang yang menjalin tali persaudaraan; kalian seperti membaca semua kitab yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada para Nabi-Nya.
Pada hari kedua puluh delapan : Allah Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian di surga Al-Khuld seratus ribu kota dari cahaya, memberi kalian di surga Al-Ma’wa seratus ribu istana dari perak; memberi kalian di surga Al-Jalal tiga ratus ribu mimbar (tempat yang tinggi) yang terbuat dari misik, di setiap mimbar seribu rumah dari za’faran, di setiap rumah terdapat tempat tidur yang terbuat dari permata putih dan permata merah, dan di setiap tempat tidur disiapkan pasangan bidadari.
Pada hari kedua puluh sembilan : Allah Azza wa Jalla memberi kalian beribu-ribu kediaman dan di setiap kediaman terdapat menara putih, di setiap menara terdapat tempat tidur dari kafur putih dilengkapi dengan seribu permadani dari sutera hijau, di setiap permadani disiapkan bidadari yang dihiasi dengan tujuh puluh ribu hiasan, di kepalanya seribu hiasan dari permata putih dan permata merah.
Pada hari ketiga puluh : Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian setiap hari sebelumnya pahala seribu suhada’ dan seribu orang yang benar; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian seperti beribadah lima puluh tahun; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian untuk setiap hari seperti puasa dua ribu hari, dan mengangkat derajat kalian setinggi derajat orang-orang yang mulia; Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian keselamatan dari neraka dan melintasi shirath, dan keamanan dari azab. Di surga ada sebuah pintu yang tidak dibuka hingga hari kiamat, kemudian dibukakan untuk orang-orang yang puasa laki-laki dan perempuan dari ummat Muhammad saw; kemudian penjaga surga, malaikat Ridhwan memanggil: "Wahai ummat Muhammad, kamarilah kalian ke pintu ini. Kemudian ummatku masuk ke pintu itu menuju ke surga. Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka bulan yang mana ia akan diampuni, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung”.
Hadis ini diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim, dari Ahmad bin Matuwiyah Al-Jurjani, dari Ahmad bin Abdullah, dari Sofyan bin ‘Ayniyah, dari Muawiyah bin Abi Said, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas. (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah : 81-86)
Wassalam,
Syamsuri Rifai
Pengasuh Majlis Pengajian Alfusalam
Jl. Imam Bonjol-Jakarta Pusat
http://shalatdoa.blogspot.com
http://id.alfusalam.web.id
Sabtu, 22 Agustus 2009
Doa Malam Terakhir Bulan Sya’ban dan Malam Pertama Bulan Ramadhan
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha PenyayangYa Allah, sampaikan Shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, sesungguhnya bulan ini adalah bulan yang penuh berkah
bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an dan dijadikan petunjuk bagi manusia
penjelasan dari petunjuk dan pembeda
Bulan Ramadhan telah datang
maka selamatkan kami di dalamnya
alirkan kedamaiannya pada kami
jadikan ia keselamatan bagi kami
dalam kemudahan dan keselamatan dari-Mu.
Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan
mensyukuri yang banyak
terimalah amalku yang sedikit
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
jadikan bagiku jalan pada semua kebaikan
dan penghalang dari semua yang tidak Engkau cintai
Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi
Wahai Yang Memaafkan kesalahanku dan kejelekan yang kusembunyikan
Wahai Yang Tidak menyiksaku karena perbuatan maksiatku
maafkan daku
maafkan daku
maafkan daku
wahai Yang Maha Mulia
Tuhanku, Kau sadarkan aku
tapi aku belum juga sadar
Kau halau daku dari larangan-Mu
tapi aku belum juga terhalau
lalu apalagi alasanku?
maafkan daku wahai Yang Maha Mulia
maafkan daku
maafkan daku
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
kedamaian saat kematian menjemputku
dan maafkan daku saat amalku dihisab
Besar sudah dosa hamba-Mu ini
maka ampuni daku dengan ampunan yang baik
dari sisi-Mu wahai Yang Maha Menjaga dan Maha Mengampuni
maafkan daku
maafkan daku
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu putera hamba-Mu
yang lemah dan butuh pada rahmat-Mu
Sementara Engkau Yang Menurunkan kekayaan
dan keberkahan kepada semua hamba-Mu
Engkau Maha Perkasa dan Maha Kuasa
Engkau menghitung semua amal mereka
Engkau yang membagikan rizki mereka
Engkau ciptakan mereka berbeda-beda dalam bahasa
dan kulit dari generasi ke generasi berikutnya
Hamba-Mu tak akan mampu mengetahui semua ilmu-Mu
Hamba-Mu tak akan mampu menolak takdir-Mu
Kami semua butuh pada rahmat-Mu
maka jangan palingkan wajah-Mu dariku
jadikan aku tergolong pada hamba-Mu
yang shaleh dalam amal dan keinginan
dalam ketetapan dan takdir-Mu
Ya Allah, hidupkan daku dalam kehidupan yang paling baik
dan matikan daku dalam kematian yang terbaik
mengikuti para kekasih-Mu dan menjauhi musuh-musuh-Mu
takut dan patuh pada-Mu memenuhi dan menerima perintah-Mu
membenarkan kitab-Mu dan mengikuti sunnah Rasul-Mu
Ya Allah, semua yang ada dalam hatiku:
keraguan, penentangan, keputus-asaan
kesenangan yang berlebihan, kesombongan
keangkuhan ketika mendapat nikmat
prasangka buruk, riya’ atau suka pujian
permusuhan, kemunafikan atau kekufuran
kefasikan atau kemaksiatan, atau kebanggaan
atau sesuatu yang lain yang tidak Engkau ridhai
Karena itu, aku memohon kepada-Mu
gantikan semua itu dengan keimanan pada janji-Mu
pemenuhan perintah-Mu
ridha pada ketentuan-Mu
kehidupan zuhud di dunia
harapan pada yang ada di sisi-Mu
kedamaian dan taubat yang sebenarnya;
aku memohon semua itu kepada-Mu ya Rabbal ‘alamin
Tuhanku
Engkau dimaksiati karena santun-Mu
Engkau ditaati karena kemuliaan dan kedermawanan-Mu
seolah-olah Engkau tidak pernah dimaksiati olehku dan oleh seluruh penghuni bumi
Maka jadilah Engkau bagi kami Yang Maha Dermawan dengan segala karunia-Mu
Yang Maha Peduli dengan segala kebaikan-Mu
Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi
Semoga shalawat senantiasa tercurahkan
kepada Muhammad dan keluarganya
shalawat yang abadi yang tak terhitung jumlahnya
dan tak terukur nilainya oleh selain-Mu
wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi
(kitab Mafatihul Jinan, bab 2, pasal 2)
Wassalam
Syamsuri Rifai
Pengasuh Majlis Pengajian Alfusalam
Jl. Imam Bonjol-Jakarta Pusat
http://syamsuri149.wordpress.com
http://id.alfusalam.web.id
Rabu, 19 Agustus 2009
Hilal, Hisab, dan Rukyat
MANAKALA menjelang bulan Ramadhan, hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, terdapat perbedaan pandangan mengenai penentuan akhir dan awal bulan. Perbedaan pandangan tersebut terjadi karena tidak samanya acuan dan referensi yang dipergunakan oleh masing-masing kalangan. Ada yang menerapkan metode rukyat, ada yang menggunakan metode hisab, yang mana kedua metode tersebut mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.
Penentuan akhir dan awal bulan dalam Islam --khususnya bulan Ramadhan--, salah satu sandarannya berpedoman pada hadits riwayat Abi Hurairah ra, dimana ia pernah berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari” (HR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).
Pengertian Hilal
HILAL adalah penampakan bulan yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi/ijtimak. Bulan awal ini --bulan sabit-- akan tampak di ufuk barat (maghrib) saat matahari terbenam.
Ijtimak atau konjungsi adalah peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat. Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Pada saat tertentu, konjungsi ini dapat menyebabkan terjadinya gerhana matahari.
Hilal merupakan kriteria suatu awal bulan. Seperti kita ketahui, dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan hilal/bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [Al Baqoroh(2) : 189]
Pengertian Hisab
Secara harfiyah HISAB bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawal saat orang mengakhiri puasa dan merayakan Idul Fitri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (09 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)
Dalam Surat Yunus Ayat 5 Allah swt. berfirman : “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. 10 : 5)
Pada ayat lain Surat Ar-Rahmaan Ayat 5 juga dijelaskan : “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (QS. 55 : 5)
Pengertian Rukyat
RUKYAT adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi bulan berada di ufuk barat, dan bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang waktu setempat telah memasuki tanggal 1.
Menentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah
Di Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang digunakan baik oleh pemerintah maupun organisasi Islam untuk menentukan awal bulan pada KALENDER HIJRIYAH :
- Rukyatul Hilal
Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. - Wujudul Hilal (juga disebut ijtimak qoblal qurub)
Kriteria penentuan awal bulan Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam. - Imkanur Rukyat MABIMS
Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah.
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:- Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
- Pada saat bulan terbenam, usia bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan "Sidang Itsbat", yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.
- Rukyat Global
Kriteria penentuan awal bulan Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.
Ramadhan 1430 H. (?)
Penentuan awal bulan kalendar hijriyah tak bisa lepas dari hilal (penampakan bulan baru). Sebagai gambaran, Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) mensyaratkan tinggi bulan minimal 2 derajat untuk awal bulan baru hijriyah.
Kapan kira-kira hilal akan nampak untuk 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1430H?
Untuk simulasi astronomi, digunakan software Stellarium, salah satu software planetarium open-source. Supaya lebih mencerminkan kondisi sebenarnya, setting koordinat lokasi di tempat pengamatan hilal. Salah satu lokasi pengamatan hilal adalah di KL Tower (koordinat: N3 09 10.1 E101 42 12.6).
Dengan tinggi lokasi 94 m di atas permukaan laut dan total tinggi menara 421 m, menara ini bahkan lebih tinggi dari Petronas Twin Tower!. Diasumsikan tinggi tempat lokasi pengamatan hilal berada 400 m di atas permukaan laut.
Berikut beberapa screenshot hasil simulasi (klik pada gambar untuk zoom-view)
Gambar 1. Perkiraan tinggi bulan pada 20 Agustus 2009
.
Gambar 2. Perkiraan tinggi bulan pada 21 Agustus 2009
.
Gambar 3. Perkiraan tinggi bulan pada 18 September 2009
.
Gambar 4. Perkiraan tinggi bulan pada 19 September 2009
Awal Ramadhan 1430 H.
Dari hasil simulasi di atas, pada saat matahari terbenam tanggal 20 Agustus 2009, bulan masih di bawah horizon (tidak dapat dilihat). Sementara pada saat matahari terbenam tanggal 21 Agustus 2009, posisi bulan sudah tinggi (lebih dari 11 derajat) menunjukkan masuknya awal bulan Ramadhan. --jangan lupa, untuk kalendar Islam, hari berganti pada saat matahari terbenam, bukan pada pukul 00.00--
Awal Syawal 1430 H
Pada saat matahari terbenam tanggal 18 September 2009, bulan juga masih di bawah horizon. Selain itu, tidak mungkin juga jumlah hari pada bulan Ramadhan hanya 28 hari. Dan pada keesokan harinya (19 September 2009) pada saat matahari terbenam, tinggi bulan sekitar 6 derajat sehingga kemungkinan besar sudah dapat dilihat. Ini akan menandakan masuknya bulan Syawal.
Wallahu’alam
(ASF/dari banyak sumber)
link terkait :
http://media.isnet.org
http://pakarfisika.wordpress.com
http://untoro.wordpress.com
http://www.mui.or.id
Senin, 17 Agustus 2009
M E R D E K A
Rasakan diri anda bahwa
Rasakan diri anda bahwa
Rasakan semua KEBEBASAN
M e r d e k a !!!
Jumat, 14 Agustus 2009
Mengenal Unggah-unggahan di Gedongan
SELAIN "Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban", di Bulan Ruwah ini masih ada rutinitas warga Gedongan yang diadakan pada sepuluh hari menjelang Bulan Suci Ramadhan tiba, yakni tradisi Unggah-unggahan. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan Sahabat Usamah bin Zaid ra., ia pernah berkata :
Ya Rasulullah : Aku tidak melihat anda berpuasa pada bulan tertentu seperti anda berpuasa pada bulan Sya’ban? Beliau berkata : “Itulah bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itulah diangkat amalan-amalan ke Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.“ (HR. An-Nasa'i).
Unggah-unggahan artinya “kenaikan” (tingkat/derajat). Warga Gedongan berasumsi bahwa sebagaimana layaknya siswa yang menempuh pendidikan formal di sekolah ataupun madrasah, pada akhir tahun pengajaran ada “masa kenaikan”, begitu pun manusia yang hidup mendiami bumi ini mengalami hal serupa demikian. Kalau unggah-unggahan di sekolah merupakan masa peralihan/migrasi siswa dari kelas yang ia duduki ke kelas yang lebih tinggi lagi, sedangkan unggah-unggahan dalam konteks ini adalah migrasi kualitas amal perbuatan sang hamba di Mata Sang Khaliq. Dimana seluruh amal perbuatan manusia sejak lahir sampai mati senantiasa dicatat oleh dua malaikat Allah, Rakib dan Atid yang setia mendampingi di sebelah kanan dan kiri setiap manusia. Ditegaskan dalam Alqur’an Surat Al-Infithaar Ayat 10-12 :
“padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu); Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 82 : 10-12)
Kedua malaikat itulah yang mencatat amal perbuatan manusia selama hidupnya, yang tidak satupun perbuatan atau amal manusia terlewatkan pencatatanya, apakah itu berupa amal kebaikan atau amal buruk. Dalam Surat Qaaf Ayat 17-18 disebutkan :
“(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lainnya duduk di sebelah kiri; Tidak suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di sisinya (malaikat) pengawas yang selalu hadir.” (QS. 50 : 17-18)
Dan pada bulan Ruwah inilah catatan amal ibadah (buku rapor) setiap kita selama setahun diangkat dan diganti dengan lembaran yang baru. Oleh karenanya bulan ini juga dikenal dengan istilah 'bulan tutup buku'.
Diselenggarakannya tradisi unggah-unggahan dimaksudkan sebagai upaya membersihkan jiwa dari segala noda yang mengotori rohani. Tradisi ini dimanifestasikan oleh masyarakat Gedongan dengan saling nyuwun ngapura (memohon maaf) dan –bagi sebagian yang mampu-- ngirim (berbagi hantaran hidangan nasi rantan atau nasi ambeng lengkap dengan lauk pauk layaknya sajian berkat) kepada tetangga, sanak saudara, orang-orang sepuh/jompo, ataupun para fuqara dan masakin, yang tujuannya tidak lain merajut amal hasanah sembari mempererat sillaturahmi.
Bukan cuma kepada yang hidup, "sillaturahmi" juga dilakukan kepada mereka yang sudah mati, para orang tua atau sanak saudara yang telah lebih dulu pergi meninggalkan bumi, hal ini dilakukan sebagai bentuk bakti dan penghormatan (ta'dzim) atas jasa yang pernah ditorehkan almarhum semasa hidupnya. Namun tentunya metodenya berbeda, yang dikirim pun tidak sama. Sillaturahmi kepada orang yang sudah mati dilakukan dengan berziarah kubur, membersihkan makam dan mengirim do'a bagi Arwah (jamak dari Ruuh/Ruwah). (Bisa jadi dari sinilah kata "Ruwah" populer sebagai kata lain dari bulan Sya’ban, pen.)
I M T I H A N
Masih dalam rangkaian unggah-unggahan, kesibukan lain yang menjadi rutinitas bulan Ruwah di Gedongan adalah “Imtihan” (lidah orang Gedongan menyebutnya “Intihan”).
Secara harfiah Imtihan berarti "ujian" atau testing. Ujian yang dilakukan oleh para ustadz/ustadzah untuk mengukur kemampuan individu murid-muridnya, seberapa dalam mereka menguasai materi yang pernah diajarkan, baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini lazim dilakukan pada lembaga pendidikan sebagai barometer menentukan keberhasilan atau kegagalan proses pengajaran.
Namun, imtihan di Gedongan bukanlah demikian. Imtihan merupakan ajang unjuk (kemampuan) diri, dimana --pada puncak "Malam Imtihan"-- sang murid berkompetisi menunjukkan kepiawannya di atas panggung podium, tampil sebagai pengisi acara dengan merapal dan menghapal (apal-apalan) beberapa materi pelajaran yang pernah diberikan, diantaranya bacaan surat-surat (pendek) Juz Amma, bacaan do'a-do'a harian, nadzom/syair, shalawatan dan kidung Islami. Kepiawaian ini ditunjukkan oleh para murid di hadapan ratusan khalayak; ustadz/ustadzah, rekan sesama murid, orang tua/wali murid, juga hadirin tamu pengunjung.
Dalam ingatan penulis --yang juga pernah menjadi pesertanya--, di antara bait-bait syair yang ditampilakan antara lain :
"Sifat 20" (Sifat Wajib bagi Allah swt. : Wujud, Qidam, Baqa', ...... dan seterusnya) //
kemudian ada kidung Jawa tentang keesaan Allah berikut ini :
Gusti Allah iku Siji
Ora nana kang madani
Tanpa rama tanpa kanca
Tanpa ibu tanpa putra
Gusti Allah Pengeran kita
Ingkang paring gesang kula
......
dan seterusnya (lupa-lupa ingat) //
yang lain ada kidung tentang ibadah seperti ini :
Eman temen wong gagah
Ora sembayang 2x
Nabi Yusuf luwih
Gagah ya sembayang 2x
Eman temen wong ayu
Ora sembayang 2x
Siti Fatimah luwih
Ayu ya sembayang 2x
dan seterusnya //
Juga ada tembang kombinasi Arab-Jawa sebagai berikut :
من خلق الشّمش؟
الله الذى خلق الشّمش
(Sinten ingkang damel serngenge?
Gusti Allah ingkang damel serngenge ......)
من خلق القمر ؟
الله الذى خلق القمر
(Sinten ingkang damel wulan?
Gusti Allah ingkang damel wulan ......)
من خلق النّجوم؟
الله الذى خلق النّجوم
(Sinten ingkang damel lintang?
Gusti Allah ingkang damel lintang ......)
من خلق الأرض؟
الله الذى خلق الأرض
(Sinten ingkang damel bumi?
Gusti Allah ingkang damel bumi ......) //
dan masih banyak lagi (yang penulis lupa syair dan nadanya).

Prosesi imtihan dimulai dengan Pawai Taaruf (karnaval) pada siang hari. Para siswa dan siswi Madrasah Diniyah peserta pawai mengenakan seragam SD (karena madrasah tidak memiliki pakaian seragam) putih-merah atau putih-putih. Mereka baris entres per-kelas di halaman madrasah, dengan masing-masing memegang klebet (bendera) 'merah-putih' dari bahan kertas wajik. Setelah persiapan sudah matang, barisan pawai berjalan berbanjar menyusuri jalan-jalan utama kampung hingga membentuk iring-iringan panjang. Dengan penuh keriangan mereka melambai-lambaikan bendera di tangan, menyapa setiap orang yang ramai menanti di tepian jalan, sambil tak bosan mulutnya mendendangkan Shalawatan.
Shalatullah, Salamullah
'Alaa Thaaha Rasulillah
Shalatullah, Salamullah
'Alaa Yasiin Habibillah ... dst.
Perjalanan berakhir setelah semua rute (Gedongan-Bangbango-Rakit) dilalui, dan peserta pawai kembali berkumpul di halaman madrasah untuk pembagian berkat sega buntel yang sudah disiapkan oleh panitia dari warga.
bersambung ......
(ASF)
