oleh : Bang Iwan
Tiada ucapan selamat tahun baru yang lengkap tanpa meninjau apa yang kita sebut sebagai resolusi awal tahun. Rasanya sudah tidak asing lagi kebiasaan awal tahun dimana kita diajak membulatkan niat, menanam suatu cita-cita, dan menancapkan tekad untuk mencapai suatu perubahan.
Seorang teman pernah bilang; bahwa baginya resolusi awal tahun adalah proses menggodok semangat juang dalam hidup, supaya dia bisa mengukur kemajuan dan prestasinya dari tahun ke tahun. Teman yang lain berkata; resolusi awal tahun itu hanya sumber stres, karena menurutnya dari sekian banyak keinginan yang tercantum, lebih banyak yang tidak tercapai daripada yang terwujud.
Jadi apa saja resolusi awal tahun Anda? Bagi saya, meluangkan waktu hening dan merenungkan bagaimana kita mengelola energi kreatif dalam hidup, lebih bermanfaat ketimbang sekadar mencantumkan setiap keinginan dalam “daftar belanja” awal tahun.
Mari kita lihat rutinitas yang biasa terjadi di perbatasan antara akhir tahun dan awal tahun. Pertama, tidak ada resolusi awal tahun yang afdol tanpa refleksi akhir tahun. Pada penghujung tahun, kita menengok resolusi yang telah dibuat pada tahun sebelumnya. Kita tepuk bahu kita sendiri atas niatan yang telah tercapai, dan kita pindahkan semua niatan yang belum tercapai sebagai kandidat penghuni daftar resolusi tahun selanjutnya.
Saya sendiri, --terus terang-- jarang tergerak untuk menyusun resolusi awal tahun, saya lebih senang menjalani hidup ini langkah demi langkah. Mengapa begitu? Saya berusaha melihat kembali setiap momen ketika saya membuat rencana, dan sering sekali rencana tersebut tidak terjadi sesuai dengan apa yang kita prediksikan sebelumnya.
Hidup ini memang sarat dengan perubahan dan ketidakpastian. Terkadang target dipasang supaya keinginan kita punya “bahan bakar” untuk tumbuh, bergerak dan berkembang, namun di tengah bersemangatnya kita mengejar keinginan, tanpa sadar dalam hati terselip rasa “keharusan” yang memaksa. Ini acapkali menjadi sumber stres yang tidak perlu.
Tidak bisa disangkal, kita memang butuh semangat hidup. Tanpa itu, hidup bisa terasa hambar. Namun semangat hidup yang terjangkit “harusitis” –-radang serba harus ini dan itu-– berpotensi menjepit hati, dan akhirnya merampas kemampuan kita untuk menikmati hidup momen demi momen, serta membuat kita lebih mudah untuk lupa bersyukur atas hal-hal yang sederhana namun indah dalam hidup kita.
Ada yang mengatakan bahwa potensi kreativitas manusia itu tak terbatas. Sebagian menjelaskan dengan mengatakan bahwa baru 2% dari otak kita yang sudah terpakai secara optimal. Sebagian lagi menyatakan bahwa karena kita adalah bagian dari ciptaan Ilahi, sumber Maha Kreatif yang mampu menciptakan dan mewujudkan segalanya. Manapun yang benar, agaknya alam berusaha berpesan bahwa kita punya potensi ‘mencipta’ yang luar biasa, termasuk untuk mewujudkan segala hal yang kita inginkan dalam hidup.
Lalu bagaimana caranya agar potensi mencipta ini bisa terwujud menjadi kenyataan? Salah satunya adalah dengan menarik garis batasan yang akan memberikan fokus dan kesempatan agar potensi menjadi nyata.
Contoh, setiap penulis punya segudang ide kreatif untuk menghasilkan karyanya. Namun seringkali tanpa kehadiran garis batasan yang namanya ‘deadline’, kemahakreatifan tersebut sulit sekali dilahirkan dalam bentuk kata-kata. Inilah kekuatan agung dari garis batasan.
Di sinilah saya melihat manfaatnya resolusi awal tahun. Garis batasan di awal dan akhir tahun, memberikan kita semua ‘rahim ruang dan waktu’ untuk mencipta, berkarya dan mewujudkan potensi diri seutuhnya.
Dan akhirnya, ikhlaskan segala kemungkinan terbaik dan terburuk, agar Anda tidak nafsu menang dan takut kalah. Menang dan kalah, berhasil dan gagal, merupakan persepsi yang sangat relatif. Apalagi kalau kita ingat bahwa setiap jiwa kita bertumbuh dan semakin kuat, biasanya justru dari pengalaman-pengalaman yang kita tuding sebagai kekalahan dan kegagalan.
....
http://amriawan.blogspot.com/
Jumat, 31 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
Risalah Akhir & Awal Tahun Hijriyah
Munculnya bulan di awal Muharram menandai kedatangan Tahun Baru Hijriyah. Muharram dijadikan sebagai awal bulan dalam setahun oleh Sayyidina Umar pada tahun ke-17 Hijriyah, meskipun secara tradisi urutan bulan di Arab sudah ada sejak lama. Umar menentukan hal tersebut mengingat kaum muslimin saat itu belum mempunyai penanggalan tersendiri.
Dalam realitas kehidupan, khususnya di Indonesia, kita menyaksikan bahwa penyikapan terhadap kedatangan bulan Muharram --sebagai tanda masuknya tahun baru Islam-- berbeda dengan penyikapan terhadap kedatangan awal bulan Januari yang menunjukkan kedatangan Tahun Baru Masehi. Pada yang terakhir ini kita melihat orang-orang mengisinya dengan berbagai pesta pora, hura-hura, dan pelampiasan segala kesenangan dalam berbagai bentuknya semalam suntuk. Sedikit sekali orang yang mengisinya dengan merenungi apa yang telah dilakukannya sepanjang tahun; apa saja keberhasilan dan kegagalannya dalam urusan dunia dan akhirat, dan aktivitas-aktivitas lain yang bersifat evaluasi terhadap dirinya dalam berbagai aspek kehidupan.
Tidak demikian halnya ketika kita menghadapi Tahun Baru Hijriyah. Pada saat-saat mengakhiri tahun yang sedang berjalan dan menyambut tahun baru yang segera datang, tradisi yang berkembang pada kaum muslimin --khususnya di Indonesia-- adalah membaca do’a untuk memohon ampunan atas apa yang telah terjadi di masa lalu dan memohon bimbingan dan petunjuk untuk masa yang akan datang, Meskipun tak ada petunjuk khusus dari Nabi SAW mengenai cara menghadapi tahun baru, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin itu sesuai dengan ajaran Islam, yang sangat menekankan umatnya untuk selalu mengevaluasi diri dan memohon petunjuk-Nya.
Harus diakui, perhatian kaum muslimin kepada kedatangan Tahun Baru Hijriyah tidak sebesar perhatiannya kepada tahun baru Masehi. Kita berharap semoga dari tahun ke tahun perhatian terhadap tahun baru milik kita sendiri ini semakin besar. Tentu saja janganlah diisi dengan aktivitas-aktivitas seperti ketika orang menghadapi tahun baru lainnya, yang penuh dengan hura-hura dan pesta pora. Menyambut Tahun Baru Hijriyah haruslah dengan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu alangkah baiknya bila kita lestarikan tradisi membaca do’a di akhir dan di awal tahun ini, dan kita ajak keluarga kerabat, dan sahabat kita untuk juga melakukannya.
Do’a akhir tahun dan do’a awal tahun yang disajikan ini adalah do’a yang telah dikenal luas dan diamalkan di mana-mana. Bacaan ini dikutip dari kitab Maslakul-Akhyar susunan Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya.
Semoga dengan do’a-do’a yang kita panjatkan di akhir dan awal tahun hijriyah ini, Allah swt. menerima semua amal baik kita, dan menghapuskan dosa kita sepanjang tahun yang lalu. Semoga pula, Dia akan membimbing kita di tahun mendatang, sehingga kita dapat senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, dapat mengalahkan hawa nafsu, dan terlindung dari godaan setan.
Do’a Akhir Tahun
Do’a akhir tahun ini dibaca antara setelah shalat Ashar sampai sebelum Maghrib di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Sebaiknya do’a ini dibaca bersama-sama, baik di rumah, di masjid, maupun di mushalla. Dibaca tiga kali (berturut-turut) dengan harapan Allah swt. menerima amal ibadah kita dan menghapuskan dosa-dosa kita di tahun yang akan segera berakhir ini. Kita meyakini tidak seorang pun yang bersih dari perbuatan dosa dan kesalahan, karena "manusia adalah tempatnya salah dan lupa". Setiap hari dalam setahun ini kita selalu bersentuhan dengan dosa, baik disengaja maupun tidak, disadari atau tidak. Karena itu alangkah baiknya bila kita menutup tahun ini dengan pengakuan berdosa dan bertobat kepada-Nya yang terangkai dalam do’a berikut ini :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ مَاعَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِى. وَمَاعَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَاكَرِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×3
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma maa 'amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halumta 'alayya ba'da qudratika 'alaa uquubati wa da'autani ilat-taubati minhu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa inni astaghfiruka faghfirlii. Wa maa 'amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaaba fas'alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha' rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihii wa sahbihii wa sallam.
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah, segala yang telah kukerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu Yaa Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.
Bagi orang mukmin, do'a akhir tahun ini harus betul-betul dibaca, jangan sampai lupa. Sebab bila do’a ini dibaca akan membuat setan murka dan berkata : “Aduh, sungguh celaka aku! satu tahun ini aku susah payah menggoda anak Adam, mendadak dirusak dengan masa yang amat sebentar, sebab dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Hanya membaca do’a akhir tahun”
Do’a Awal Tahun
Seperti halnya do'a akhir tahun, do’a awal tahun pun dibaca sebanyak tiga kali, yakni selepas Maghrib tanggal 01 Muharram, dan sebaiknya juga dilakukan dengan berjamaah agar lebih mustajab. Mengingat agung dan besarnya faidah do'a tersebut, maka diharapkan jangan sampai terlewatkan tidak membacanya. Karena apabila ada orang Mu’min membaca do’a ini, maka syaitan berucap : “Aman orang Mukmin yang baca do’a awal tahun, di dalam sisa umurnya di tahun ini, karena Allah swt. mewakilkan dua Malaikat untuk menjaga orang tersebut, agar tidak tergoda olehku”.
Berikut inilah bacaan do’anya :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَمِيْمُ الْمُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ : نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَاَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ باِلسُّوْءِ وَاْلإِسْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى إِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. ×3
Bismillaahirrahmaanir-rahiim,
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada Anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya".
Wirid Awal Muharram
Di samping membentengi diri dengan do'a di akhir dan awal tahun Hijriyah, para ulama juga menganjurkan kita untuk melakukan amaliyah hasanah dalam memasuki hari-hari permulaan di bulan Muharram dengan serangkaian wirid (dzikir disertai dengan bacaan-bacaan secara keras (zahr) ataupun secara batin (sirr) yang dilakukan secara ajek (istiqamah), baik dalam hitungan maupun waktunya).
Di antara wirid-wirid yang baik untuk diamalkan pada awal Muharram adalah sebagai berikut :
1. Membaca Surah Al-Fatihah
Dalam beberapa kitab karya Imam Al-Buni dijelaskan, khasiat membaca Surat Al-Fatihah pada setiap bulan sangat baik untuk memperlancar rezeki. Membaca Surat Al-Fatihah bisa dilakukan kapan saja, terutama sepekan awal bulan, dan sebaiknya dilaksanakan setelah shalat Maghrib. Waktunya terserah kita. Jika dibaca pada sepekan pertama bulan Muharram, tata caranya sebagai berikut :
Pada malam tanggal 01 Muharram membaca surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali; Pada malam tanggal 02 Muharram membaca surah Al-Fatihah pada waktu yang sama sebanyak 60 kali. Selanjutnya pada malam ketiga sebanyak 50 kali, malam keempat 40 kali, malam kelima 30 kali, malam keenam 20 kali; dan terakhir pada malam ketujuh sebanyak 10 kali.
2. Membaca Istighfar
Membaca istighfar, permohonan ampun, juga dianjurkan pada awal bulan Muharram dan juga selama bulan Muharram bahkan setiap hari kita dianjurkan untuk membacanya. Istighfar ini setiap hari sebaiknya dibaca sekurang-kurangnya 70 kali. Lafal istighfar yang paling sederhana adalah :
استغفر اللّه
Astaghfirullahal-'azhim (“Aku memohon ampun kepada Allah, Yang Maha Agung”)
Sedangkan lafal istighfar yang lengkap adalah :
استغفر اللّه العظيم الّذى لا إله إلاّ اللّه هو الحىّ القيّوم وأتوب اليه
Astaghfirullahal'azhim alladzi laa ilaaha illa huwal-hayyul-qayyuma wa atubu ilaiih. (“Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya”).
3. Memperbanyak Tasbih dan Tahlil
Kalimat sederhana untuk tasbih adalah :
سبحان اللّه
Subhanallah (“Maha Suci Allah”)
Sedangkan bacaan tahlil yang sederhana adalah :
لا إله إلاّ اللّه
Laa ilaaha illallaah (“Tiada Tuhan melainkan Allah”)
Namun lebih baik jika tasbih dan tahlil itu dibaca lengkap disertai dengan tahmid dan takbir sebagaimana bacaan bawah ini :
سبحان اللّه والحمد للّه ولا إله إلاّ اللّه واللّه أكبر
Subhanallah walhamdu lilaahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar. (“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar”)
4. Memperbanyak Shalawat
Dianjurkan juga untuk memperbanyak shalawat dengan lafal sederhananya sebagai berikut :
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli `alaa sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi sayyidina Muhammad. (“Yaa Allah, berikanlah Rahmat-Mu untuk junjungan kami, Nabi Muhammad, dan segenap keluarganya”).
Demikianlah ulasan tentang risalah akhir & awal tahun hijriyah, semoga membawa manfaat. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawaab .... (ASF)

Sebagian redaksi mengutip dari : Bonus/suplemen majalah "alKisah" edisi 03/2006
Dalam realitas kehidupan, khususnya di Indonesia, kita menyaksikan bahwa penyikapan terhadap kedatangan bulan Muharram --sebagai tanda masuknya tahun baru Islam-- berbeda dengan penyikapan terhadap kedatangan awal bulan Januari yang menunjukkan kedatangan Tahun Baru Masehi. Pada yang terakhir ini kita melihat orang-orang mengisinya dengan berbagai pesta pora, hura-hura, dan pelampiasan segala kesenangan dalam berbagai bentuknya semalam suntuk. Sedikit sekali orang yang mengisinya dengan merenungi apa yang telah dilakukannya sepanjang tahun; apa saja keberhasilan dan kegagalannya dalam urusan dunia dan akhirat, dan aktivitas-aktivitas lain yang bersifat evaluasi terhadap dirinya dalam berbagai aspek kehidupan.
Tidak demikian halnya ketika kita menghadapi Tahun Baru Hijriyah. Pada saat-saat mengakhiri tahun yang sedang berjalan dan menyambut tahun baru yang segera datang, tradisi yang berkembang pada kaum muslimin --khususnya di Indonesia-- adalah membaca do’a untuk memohon ampunan atas apa yang telah terjadi di masa lalu dan memohon bimbingan dan petunjuk untuk masa yang akan datang, Meskipun tak ada petunjuk khusus dari Nabi SAW mengenai cara menghadapi tahun baru, apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin itu sesuai dengan ajaran Islam, yang sangat menekankan umatnya untuk selalu mengevaluasi diri dan memohon petunjuk-Nya.
Harus diakui, perhatian kaum muslimin kepada kedatangan Tahun Baru Hijriyah tidak sebesar perhatiannya kepada tahun baru Masehi. Kita berharap semoga dari tahun ke tahun perhatian terhadap tahun baru milik kita sendiri ini semakin besar. Tentu saja janganlah diisi dengan aktivitas-aktivitas seperti ketika orang menghadapi tahun baru lainnya, yang penuh dengan hura-hura dan pesta pora. Menyambut Tahun Baru Hijriyah haruslah dengan kegiatan-kegiatan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu alangkah baiknya bila kita lestarikan tradisi membaca do’a di akhir dan di awal tahun ini, dan kita ajak keluarga kerabat, dan sahabat kita untuk juga melakukannya.
Do’a akhir tahun dan do’a awal tahun yang disajikan ini adalah do’a yang telah dikenal luas dan diamalkan di mana-mana. Bacaan ini dikutip dari kitab Maslakul-Akhyar susunan Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya.
Semoga dengan do’a-do’a yang kita panjatkan di akhir dan awal tahun hijriyah ini, Allah swt. menerima semua amal baik kita, dan menghapuskan dosa kita sepanjang tahun yang lalu. Semoga pula, Dia akan membimbing kita di tahun mendatang, sehingga kita dapat senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, dapat mengalahkan hawa nafsu, dan terlindung dari godaan setan.
Do’a Akhir Tahun
Do’a akhir tahun ini dibaca antara setelah shalat Ashar sampai sebelum Maghrib di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Sebaiknya do’a ini dibaca bersama-sama, baik di rumah, di masjid, maupun di mushalla. Dibaca tiga kali (berturut-turut) dengan harapan Allah swt. menerima amal ibadah kita dan menghapuskan dosa-dosa kita di tahun yang akan segera berakhir ini. Kita meyakini tidak seorang pun yang bersih dari perbuatan dosa dan kesalahan, karena "manusia adalah tempatnya salah dan lupa". Setiap hari dalam setahun ini kita selalu bersentuhan dengan dosa, baik disengaja maupun tidak, disadari atau tidak. Karena itu alangkah baiknya bila kita menutup tahun ini dengan pengakuan berdosa dan bertobat kepada-Nya yang terangkai dalam do’a berikut ini :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ مَاعَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِى. وَمَاعَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَاكَرِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ×3
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa shallallaahu 'ala sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma maa 'amiltu fi haadzihis-sanati mimmaa nahaitani 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halumta 'alayya ba'da qudratika 'alaa uquubati wa da'autani ilat-taubati minhu ba'da jur'ati alaa ma'siyatika fa inni astaghfiruka faghfirlii. Wa maa 'amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa'adtani 'alaihits-tsawaaba fas'alukallahumma yaa kariimu yaa dzal-jalaali wal ikram an tataqabbalahuu minni wa laa taqtha' rajaai minka yaa karim, wa sallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihii wa sahbihii wa sallam.
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah, segala yang telah kukerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu Yaa Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.
Bagi orang mukmin, do'a akhir tahun ini harus betul-betul dibaca, jangan sampai lupa. Sebab bila do’a ini dibaca akan membuat setan murka dan berkata : “Aduh, sungguh celaka aku! satu tahun ini aku susah payah menggoda anak Adam, mendadak dirusak dengan masa yang amat sebentar, sebab dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Hanya membaca do’a akhir tahun”
Do’a Awal Tahun
Seperti halnya do'a akhir tahun, do’a awal tahun pun dibaca sebanyak tiga kali, yakni selepas Maghrib tanggal 01 Muharram, dan sebaiknya juga dilakukan dengan berjamaah agar lebih mustajab. Mengingat agung dan besarnya faidah do'a tersebut, maka diharapkan jangan sampai terlewatkan tidak membacanya. Karena apabila ada orang Mu’min membaca do’a ini, maka syaitan berucap : “Aman orang Mukmin yang baca do’a awal tahun, di dalam sisa umurnya di tahun ini, karena Allah swt. mewakilkan dua Malaikat untuk menjaga orang tersebut, agar tidak tergoda olehku”.
Berikut inilah bacaan do’anya :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَمِيْمُ الْمُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ : نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَاَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ باِلسُّوْءِ وَاْلإِسْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى إِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. ×3
Bismillaahirrahmaanir-rahiim,
Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Yaa Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada Anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya".
Wirid Awal Muharram
Di samping membentengi diri dengan do'a di akhir dan awal tahun Hijriyah, para ulama juga menganjurkan kita untuk melakukan amaliyah hasanah dalam memasuki hari-hari permulaan di bulan Muharram dengan serangkaian wirid (dzikir disertai dengan bacaan-bacaan secara keras (zahr) ataupun secara batin (sirr) yang dilakukan secara ajek (istiqamah), baik dalam hitungan maupun waktunya).
Di antara wirid-wirid yang baik untuk diamalkan pada awal Muharram adalah sebagai berikut :
1. Membaca Surah Al-Fatihah
Dalam beberapa kitab karya Imam Al-Buni dijelaskan, khasiat membaca Surat Al-Fatihah pada setiap bulan sangat baik untuk memperlancar rezeki. Membaca Surat Al-Fatihah bisa dilakukan kapan saja, terutama sepekan awal bulan, dan sebaiknya dilaksanakan setelah shalat Maghrib. Waktunya terserah kita. Jika dibaca pada sepekan pertama bulan Muharram, tata caranya sebagai berikut :
Pada malam tanggal 01 Muharram membaca surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali; Pada malam tanggal 02 Muharram membaca surah Al-Fatihah pada waktu yang sama sebanyak 60 kali. Selanjutnya pada malam ketiga sebanyak 50 kali, malam keempat 40 kali, malam kelima 30 kali, malam keenam 20 kali; dan terakhir pada malam ketujuh sebanyak 10 kali.
2. Membaca Istighfar
Membaca istighfar, permohonan ampun, juga dianjurkan pada awal bulan Muharram dan juga selama bulan Muharram bahkan setiap hari kita dianjurkan untuk membacanya. Istighfar ini setiap hari sebaiknya dibaca sekurang-kurangnya 70 kali. Lafal istighfar yang paling sederhana adalah :
استغفر اللّه
Astaghfirullahal-'azhim (“Aku memohon ampun kepada Allah, Yang Maha Agung”)
Sedangkan lafal istighfar yang lengkap adalah :
استغفر اللّه العظيم الّذى لا إله إلاّ اللّه هو الحىّ القيّوم وأتوب اليه
Astaghfirullahal'azhim alladzi laa ilaaha illa huwal-hayyul-qayyuma wa atubu ilaiih. (“Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya”).
3. Memperbanyak Tasbih dan Tahlil
Kalimat sederhana untuk tasbih adalah :
سبحان اللّه
Subhanallah (“Maha Suci Allah”)
Sedangkan bacaan tahlil yang sederhana adalah :
لا إله إلاّ اللّه
Laa ilaaha illallaah (“Tiada Tuhan melainkan Allah”)
Namun lebih baik jika tasbih dan tahlil itu dibaca lengkap disertai dengan tahmid dan takbir sebagaimana bacaan bawah ini :
سبحان اللّه والحمد للّه ولا إله إلاّ اللّه واللّه أكبر
Subhanallah walhamdu lilaahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar. (“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar”)
4. Memperbanyak Shalawat
Dianjurkan juga untuk memperbanyak shalawat dengan lafal sederhananya sebagai berikut :
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli `alaa sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi sayyidina Muhammad. (“Yaa Allah, berikanlah Rahmat-Mu untuk junjungan kami, Nabi Muhammad, dan segenap keluarganya”).
Demikianlah ulasan tentang risalah akhir & awal tahun hijriyah, semoga membawa manfaat. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawaab .... (ASF)

Sebagian redaksi mengutip dari : Bonus/suplemen majalah "alKisah" edisi 03/2006
Kamis, 12 Agustus 2010
Jadikan Ramadhanmu penuh Rahmat, Berkah, dan Bermakna
Hari ini kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual, dan pembeningan jiwa dan nurani.
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. 002 : 183)
Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari “rahim” Ramadhan adalah mereka yang LULUS dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus” (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna :
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauhmana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa. Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda :
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini” (HR. Ath-Thabrani).
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat --dan tentu saja kita semua-- bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :
“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihathal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata :
“Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa”.
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak minum” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya).
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan.
Sumber : 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. 002 : 183)
Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari “rahim” Ramadhan adalah mereka yang LULUS dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus” (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna :
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauhmana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa. Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda :
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini” (HR. Ath-Thabrani).
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat --dan tentu saja kita semua-- bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :
“Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan. Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihathal-hal yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata :
“Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa”.
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak minum” (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya).
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan.
Sumber : 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Rabu, 28 Juli 2010
Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban di Gedongan
Membuka kembali lembaran memori masa kecil penulis ketika pertengahan bulan Sya'ban; Di Gedongan, ada fenomena tak lazim (tidak umum, pen.) yang terjadi setiap tanggal 15 bulan Ruwah (Nisfu Sya'ban). Menjelang bedug maghrib (wayah sandakala, pen.) penduduk Gedongan/warga magarsari baik yang tua maupun muda, lelaki juga perempuan, dewasa dan kanak-kanak, keluar rumah menghampiri sumur-sumur tua. Mereka datang berbondong-bondong dengan tujuan untuk mandi (grujug) serta mengambil air sumur yang --konon-- airnya ketika itu berubah menjadi "Air Zamzam".
Tak lazim memang, karena sepanjang pengetahuan penulis, fenomena ini hanya ada dan terjadi di Gedongan (saja). Di daerah-daerah yang pernah penulis singgah dan diami; di Parung-Bogor, sebagian wilayah DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Bekasi, Wilayah Lampung, kemudian di Jepara, Demak, Kudus, Pati, serta wilayah Semarang, dan sekarang mukim di Kecamatan Ketanggungan - Kabupaten Brebes, tidak pernah ditemui kelangkaan seperti fenomena di atas.
Kalau boleh dikatakan, ini adalah bagian dari keunikannya Gedongan --pedukuhan yang merupakan Cantilan Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat-- juga merupakan kekhasan yang hanya dimiliki blok tersebut.
Lantas, apakah memang hal demikian benar-benar terjadi adanya?. Masih adakah fenomena seperti ini di tengah-tengah masyarakat yang hidup di era modern dan serba canggih?!.
Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, pada kesempatan Ziarah Jum'at Kliwon ke pusara kedua orang tua di Makbaroh Gedongan, penulis melakukan investigasi. Dari seorang Narasumber yang merupakan salah satu tokoh warga Magarsari, penulis memperoleh jawaban :"Ya, betul. --Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban-- memang terjadi. Di Gedongan masih ada, dan tetap lestari hingga saat ini, walaupun pengamalannya tidak seperti yang dulu-dulu"
Narasumber yang dimaksud adalah Ust. Abdul Hadi, yang penulis temui di rumahnya. Walaupun hanya pertemuan singkat, namun penulis dapat lakukan wawancara berkenaan dengan Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban di Gedongan. Berikut petikannya :
****
Sebetulnya, sore itu penulis merencanakan menemui dua narasumber, Ust. Abdul Hadi, danKang Opik (panggilan akrab KH. Taufiqurrahman Yasin). Namun sayang, narasumber yang kedua tidak bisa ditemui ketika penulis sowan di rumahnya, beliau sedang kelelahan setelah beberapa hari melakukan safar --seperti yang dituturkan oleh kang Mundzir jugaNyai Likah, kakak dan orang tua Kang Opik. Walau demikian, penulis tetap melakukan diskusi kecil bersama kang Mundzir dengan topik serupa di atas, meski jawaban penguatan (ta'kid) atas permasalahan yang sedang penulis kaji tidak penulis dapatkan.
Dan untuk melengkapi kajian ini, penulis tambahkan beberapa referensi seputar Banyu Zamzam dan Nisfu Sya'ban sebagai berikut :
Kilas Sejarah Air Zamzam
Air yang paing baik di muka bumi ini adalah air zamzam. Selain bersih, air zamzam juga mengandung banyak khasiat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Berjuta jamah haji setiap tahunnya mengambil air dari sumur zamzam, namun sumur tersebut tak pernah kering.
Kata zamzam berasal dari Zomë-zomë, yang artinya 'berhenti mengalir'. Sebagaimana kita ketahui, bahwa keberadaan air zamzam ini tak dapat dilepaskan dari sejarah Nabi Ibrahimdan Ismail. Jejakan kaki Ismail (waktu masih kecil), saat ditinggalkan bersama Siti Hajar oleh Nabi Ibrahim di padang nan gersang, menjadi lantaran bagi memencarnya sumber air zamzam tersebut, Allah terus melanggengkan pancaran air zamzam tersebut hingga detik ini. Sumber air zamzam tersebut berada di dalam kompleks Masjidil Haram.
Air Zamzam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT, yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi saw., Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw bersabda: "sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit".
Keistimewaan Nisfu Sya'ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan penanggalan Hijriyah. Salah satu keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nisfu Sya'ban. Secara harfiyah istilah "Nisfu Sya’ban" berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya'ban yaitu tanggal 15 Sya'ban, yang merupakan salah satu hari besar Umat Islam.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya'ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya'ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban yang di dalamnya terdapat Nisfu Sya'ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya'ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Amalan-amalan Nisfu Sya'ban
Sekelompok ahlu tasawuf memanfaatkan malam ini untuk memohon pada Allah, agar seandainya catatan itu untuk kita sudah turun, mohon supaya ditangguhkan. Karenanya pada malam 15 bulan Sya'ban, dianjurkan sekali bagi orang Islam untuk melakukan amalan-amalan, di antaranya :
Melaksanakan Shalat Tasbih atau shalat Sunnat Mutlaq empat rakaat ba'da shalat maghrib, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali berturut-turut diikuti bacaan do'a Nisfu Sya'ban, dengan permohonan yang pertama supaya diberikan panjang umur, ditetapkan keimanan dan ketaqwaan hanya kepada Allah swt.; bacaan kedua memohon dijauhkan dari mara bahaya; dan bacaan yang terakhir mohon agar diberikan rizki yang halal dan barokah.
Pendapat lain mengatakan, bacaan pertama untuk meningkatkan maqam atau posisi seseorang; bacaan kedua memohon diberikan rezeki atau dipenuhi kebutuhan hidupnya; dan yang ketiga mohon perlindungan dari musuh.
Kemudian setelah shalat ‘Isya, melakukan shalat yang menurut Syaikh ‘Abdul Qadir AlJilani dalam kitabnya Alghunyatu lit-Taalibiyi l-Haqq disebut Shalat Khair (untuk memperoleh keberuntungan). Jumlah rakaat dalam shalat tidak ditentukan, namun seseorang diharuskan untuk membaca surat Al-Ikhlash sebanyak 300 kali atau 1000 kali secara keseluruhan. Ada yang mengerjakan shalat 40 rakaat dengan tiap rakaat dibaca surat Al-Ikhlash sebanyak 25 kali.
Terlepas dari kontroversi tentang amalan-amalan Nisfu Sya'ban tersebut di atas, namun setidaknya kita umat Islam senantiasa perbanyak dzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. --kapanpun dan dimana pun-- terlebih di Malam Nisfu Sya'ban ini.
Wallahu a' lam bish Shawaab ...... (ASF)
Tak lazim memang, karena sepanjang pengetahuan penulis, fenomena ini hanya ada dan terjadi di Gedongan (saja). Di daerah-daerah yang pernah penulis singgah dan diami; di Parung-Bogor, sebagian wilayah DKI Jakarta, Kabupaten/Kota Bekasi, Wilayah Lampung, kemudian di Jepara, Demak, Kudus, Pati, serta wilayah Semarang, dan sekarang mukim di Kecamatan Ketanggungan - Kabupaten Brebes, tidak pernah ditemui kelangkaan seperti fenomena di atas.
Kalau boleh dikatakan, ini adalah bagian dari keunikannya Gedongan --pedukuhan yang merupakan Cantilan Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat-- juga merupakan kekhasan yang hanya dimiliki blok tersebut.
Lantas, apakah memang hal demikian benar-benar terjadi adanya?. Masih adakah fenomena seperti ini di tengah-tengah masyarakat yang hidup di era modern dan serba canggih?!.
Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, pada kesempatan Ziarah Jum'at Kliwon ke pusara kedua orang tua di Makbaroh Gedongan, penulis melakukan investigasi. Dari seorang Narasumber yang merupakan salah satu tokoh warga Magarsari, penulis memperoleh jawaban :"Ya, betul. --Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban-- memang terjadi. Di Gedongan masih ada, dan tetap lestari hingga saat ini, walaupun pengamalannya tidak seperti yang dulu-dulu"
Narasumber yang dimaksud adalah Ust. Abdul Hadi, yang penulis temui di rumahnya. Walaupun hanya pertemuan singkat, namun penulis dapat lakukan wawancara berkenaan dengan Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban di Gedongan. Berikut petikannya :
Apa hubungannya antara bulan Sya'ban dengan air zamzam?
Bulan Sya’ban adalah bulannya Nabi Muhammad saw., sebagaimana ada hadits yang mengatakan : “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku .....". Sedangkan air zamzam, Umat Islam percaya, ini adalah sebaik-baiknya air di permukaan bumi, air yang digunakan Malaikat Jibril untuk mensucikan hati Rasulullah. Dan Nabi Muhammmad SAW pun memberkati dengan air ludah beliau yang kemudian berfungsi sebagai makanan, sekaligus obat segala macam penyakit.
Apa kaitanya dengan fenomena banyu zamzam yang ada di sumur Gedongan setiap pertengahan bulan Sya'ban?
Muhammad adalah sosok manusia yang dirindukan oleh Nabiullah Ibrahim as. dalam do'anya yang terdapat pada Surat Al-Baqarah ayat 124 : ...... Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu (Ibrahim) imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah mengabulkan do'a Nabi Ibrahim dalam hal ini, dengan menjadikan Nabi Muhammad saw. (keturunannya) sebagai "Imam bagi seluruh manusia". Begitu cintanya Nabi Ibrahim kepada Nabi Muhammad saw. maka air zamzam yang menjadi bukti Kenabian Ibrahim as. dicurahkan oleh Allah swt. pada bulan Sya'ban yang merupakan bulannya Nabi Muhammad saw. Walhasil, bukan cuma sumur-sumur di Gedongan, tapi semua sumur di dunia juga menyumberkan air zamzam pada sore Nisfu Sya'ban.
Tapi ini hanya terjadi di Gedongan, lho. Di tempat-tempat lain tidak pernah ada fenomena ini?
Wallahu a'lam. Tapi yang jelas, ini seperti yang didawuhkan oleh Mbah Romo Kyai Said(Pendiri Pesantren Gedongan) di depan warga magarsari dulunya. Mungkin Kyai Said hanya bersugesti kepada warga supaya mandi di saat surup matahari (ghurubus-syamsi) pada nisfu Sya'ban, mengingat hal ini adalah kesunnahan, yang manfaatnya agar dosa-dosa kita diringankan oleh Allah swt. Supaya sugestinya kuat, maka dikatakanlah bahwa air pada sore itu adalah air zamzam. Mungkin ......
Jadi tidak ada dasar hukumnya?
"Wallahu a'lam ...... "
****
Sebetulnya, sore itu penulis merencanakan menemui dua narasumber, Ust. Abdul Hadi, danKang Opik (panggilan akrab KH. Taufiqurrahman Yasin). Namun sayang, narasumber yang kedua tidak bisa ditemui ketika penulis sowan di rumahnya, beliau sedang kelelahan setelah beberapa hari melakukan safar --seperti yang dituturkan oleh kang Mundzir jugaNyai Likah, kakak dan orang tua Kang Opik. Walau demikian, penulis tetap melakukan diskusi kecil bersama kang Mundzir dengan topik serupa di atas, meski jawaban penguatan (ta'kid) atas permasalahan yang sedang penulis kaji tidak penulis dapatkan.
Dan untuk melengkapi kajian ini, penulis tambahkan beberapa referensi seputar Banyu Zamzam dan Nisfu Sya'ban sebagai berikut :
Kilas Sejarah Air Zamzam
Air yang paing baik di muka bumi ini adalah air zamzam. Selain bersih, air zamzam juga mengandung banyak khasiat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Berjuta jamah haji setiap tahunnya mengambil air dari sumur zamzam, namun sumur tersebut tak pernah kering.
Kata zamzam berasal dari Zomë-zomë, yang artinya 'berhenti mengalir'. Sebagaimana kita ketahui, bahwa keberadaan air zamzam ini tak dapat dilepaskan dari sejarah Nabi Ibrahimdan Ismail. Jejakan kaki Ismail (waktu masih kecil), saat ditinggalkan bersama Siti Hajar oleh Nabi Ibrahim di padang nan gersang, menjadi lantaran bagi memencarnya sumber air zamzam tersebut, Allah terus melanggengkan pancaran air zamzam tersebut hingga detik ini. Sumber air zamzam tersebut berada di dalam kompleks Masjidil Haram.
Saat Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail tiba di Makkah, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang kering. Tidak berapa lama kemudian Nabi Ibrahim AS meninggalkan mereka.
Siti Hajar memperhatikan sikap suaminya yang mengherankan itu lalu bertanya ;"Hendak kemanakah engkau Ibrahim?, Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di tempat yang sunyi dan tandus ini? ".
Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Siti Hajar bertanya lagi; "Apakah ini memang perintah dari Allah?"
Barulah Nabi Ibrahim menjawab, "ya".
Mendengar jawaban suaminya yang singkat itu, Siti Hajar gembira dan hatinya tenteram. Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun di tempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.
Selang beberapa hari, air yang dari Nabi Ibrahim habis. Siti Hajar berusaha mencari air di sekeliling sampai mendaki Bukit Shafa dan Marwah berulang kali sehingga kali ketujuh (terakhir) ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zamzam.
Air Zamzam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT, yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi saw., Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw bersabda: "sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit".
Keistimewaan Nisfu Sya'ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan penanggalan Hijriyah. Salah satu keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nisfu Sya'ban. Secara harfiyah istilah "Nisfu Sya’ban" berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya'ban yaitu tanggal 15 Sya'ban, yang merupakan salah satu hari besar Umat Islam.
Rasulullah saw bersabda : “Wahai jiwa yang bernafas panjang, tahukah kamu malam ini? Malam ini adalah malam nishfu Sya’ban, di dalamnya rizki dibagikan, di dalamnya ajal dicatat. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya malam ini…, dan Dia menurunkan para malaikat-Nya ke bumi Mekkah". (Mafatihul Jinan, bab 1, pasal 2)
Pada malam ini pula, turun 300 Rahmat, sebagaimana berita Jibril pada Muhammad :Seandainya catatan "pencabutan nyawa seseorang" untuk tahun depan sudah akan berlaku, pada malam 15 Sya'ban ini, catatan itu turun pada malaikat pencabut nyawa.
Aisyah berkata : Rasulullah berdiri dalam shalatnya selama separuh malam dan melakukan sujud yang begitu lama hingga aku mengira nyawanya telah dicabut. Lalu aku bermaksud untuk menggerakkan tumitnya, seketika beliau pun bergerak, jadi aku mundur. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari posisi sujud dan menyelesaikan shalatnya, beliau lalu berkata : “Yaa Aisyah , Yaa Humayra! (si kecil yang pipinya merah) Apakah kamu pikir Nabi telah melanggar perjanjiannya denganmu?”
Aisyah lalu menjawab : “Tidak! Demi Allah Yaa Rasulullah saw., tetapi aku pikir nyawamu telah dicabut karena engkau sujud begitu lama".
Beliau membalas, “Apakah kamu tahu malam apakah sekarang?”
“Allah dan Rasul-Nya Maha Tahu!”, jawab Aisyah.
Rasulullah lalu menjelaskan : “Ini adalah malam pertengahan Sya’ban! Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia melihat hambaNya pada malam ini. Dia memaafkan siapapun yang memohon ampun dan Dia memberikan Rahmat kepada yang memintanya. Namun Allah akan menahannya terhadap pendengki dan orang-orang yang tidak mensyukuri keadaan mereka". (Hadits riwayat Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya'ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya'ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban yang di dalamnya terdapat Nisfu Sya'ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya'ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Amalan-amalan Nisfu Sya'ban
Sekelompok ahlu tasawuf memanfaatkan malam ini untuk memohon pada Allah, agar seandainya catatan itu untuk kita sudah turun, mohon supaya ditangguhkan. Karenanya pada malam 15 bulan Sya'ban, dianjurkan sekali bagi orang Islam untuk melakukan amalan-amalan, di antaranya :
Melaksanakan Shalat Tasbih atau shalat Sunnat Mutlaq empat rakaat ba'da shalat maghrib, kemudian dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali berturut-turut diikuti bacaan do'a Nisfu Sya'ban, dengan permohonan yang pertama supaya diberikan panjang umur, ditetapkan keimanan dan ketaqwaan hanya kepada Allah swt.; bacaan kedua memohon dijauhkan dari mara bahaya; dan bacaan yang terakhir mohon agar diberikan rizki yang halal dan barokah.
Pendapat lain mengatakan, bacaan pertama untuk meningkatkan maqam atau posisi seseorang; bacaan kedua memohon diberikan rezeki atau dipenuhi kebutuhan hidupnya; dan yang ketiga mohon perlindungan dari musuh.
Kemudian setelah shalat ‘Isya, melakukan shalat yang menurut Syaikh ‘Abdul Qadir AlJilani dalam kitabnya Alghunyatu lit-Taalibiyi l-Haqq disebut Shalat Khair (untuk memperoleh keberuntungan). Jumlah rakaat dalam shalat tidak ditentukan, namun seseorang diharuskan untuk membaca surat Al-Ikhlash sebanyak 300 kali atau 1000 kali secara keseluruhan. Ada yang mengerjakan shalat 40 rakaat dengan tiap rakaat dibaca surat Al-Ikhlash sebanyak 25 kali.
Dari Nabi saw. bersabda : "Barangsiapa di dalam nisfu Sya'ban melakukan shalat 12 rakaat dan setiap rakaat setelah Alfarihah membaca Surat Al-Ikhals sebanyak 11 kali, maka dihapuskanlah seluruh kesalahannya dan diberikan barkah hidupnya".
Terlepas dari kontroversi tentang amalan-amalan Nisfu Sya'ban tersebut di atas, namun setidaknya kita umat Islam senantiasa perbanyak dzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. --kapanpun dan dimana pun-- terlebih di Malam Nisfu Sya'ban ini.
Sabda Rasulullah saw : “Allah melihat ciptaan-Nya pada malam pertengahan Sya’ban dan Dia mengampuni semua ciptaan-Nya kecuali orang musyrik (menyekutukan Tuhan) dan musyahin (orang yang penuh kebencian)".
Wallahu a' lam bish Shawaab ...... (ASF)
Minggu, 30 Mei 2010
Mengarak Pengantin
Tradisi mengarak pengantin masih dipertahankan di kalangan masyarakat Pesantren Gedongan Ender, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, pimpinan KH Amin Siradj.Arakan pengantin menyusuri jalan utama desa itu didahului barisan damar kurung (lampion), lampu hias, serta disemarakkan petasan di sela-sela dan di akhir acara.
Kesakralan sangat terasa ketika barisan pemain rebana melantunkan salawat barzanzi mengiringi acara yang merupakan perpaduan budaya genjring, Arab, dan Tiongkok itu.

Menyalakan lilin untuk damar kurung (lampion), yang akan mengiringi arakan pengantin.

Barisan genjring melantunkan kidung salawat barzanzi

Temu pengantin
sumber dan gambar : http://www.suarapembaruan.com/News/
Langganan:
Postingan (Atom)
