Jumat, 04 September 2009

Awas! Misionaris Berkedok Pelajaran Sekolah “Trapsila”

Yang penulis sajikan kali ini bukan berita baru, tapi berita lama yang bersumber dari situs http://swaramuslim.net oleh : Fakta, 28 Jan, 07:00 pm dengan judul yang sama; Awas! Misionaris Berkedok Pelajaran Sekolah “Trapsila”. Namun demikian, tidak ada kadaluarsa untuk berita tentang Misionaris dan Kristenisasi di Indonesia, karena sudah jelas-jelas diterangkan oleh Allah swt. dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat yang berbunyi :

ولن ترضى عنك اليهود ولا النّصارى حتّى تتّبع ملّتهم

Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS. 2 : 120).

Artinya, sampai kapan pun --
hingga kamu mengikuti agama mereka-- orang-orang Yahudi (melalui muslihat dan tipu daya) juga orang-orang Nasrani (melalui tangan-tangan para misionaris) sekali-kali tidak akan (pernah) surut melakukan propaganda sesat dan serangan bertubi-tubi terhadap kaum muslimin di dunia, termasuk di Indonesia.

Berbagai upaya pun terus dilakukan untuk menggoyahkan akidah umat Islam. Di Kota Cirebon, upaya misionaris bahkan menyerang anak-anak muslim yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Bukan dengan kedok bantuan ekonomi ataupun pengobatan gratis, melainkan dengan menyelipkan ayat-ayat Injil ke dalam mata pelajaran "Trapsila" yang diajarkan di sekolah.

TRAPSILA merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal (mulok) yang diajarkan kepada seluruh siswa SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Cirebon. Kata Trapsila itu diambil dari Basa Cerbon, ‘Ngetrapke Susila’ yang berarti menerapkan susila. Maksudnya, melalui pelajaran tersebut, para siswa akan diajarkan penerapan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari.

Di Jawa Barat, Cirebon --sebagai Kota Wali-- memang satu-satunya kota yang dijadikan pilot project penerapan pelajaran tersebut. Selain digarap oleh Dinas Pendidikan (Disdik) setempat, ‘kelahiran’ mata pelajaran itu pun dibantu pihak asing, dalam hal ini UNICEF. Namun ternyata, materi yang diajarkan dalam pelajaran tersebut terkesan hanya mencampuradukkan berbagai sumber ilmu. Termasuk di dalamnya mengutip pelajaran berbagai agama, diantaranya Islam dan Kristen.


Trapsila Campuraduk Islam-Kristen

Campuraduk itu seperti yang terlihat di halaman 14–16 dari buku pegangan Trapsila. Dalam lembar tersebut, tercantum materi tentang ‘Melakukan Perintah dan Menghindari Larangan sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa’, maupun materi tentang ‘Keselarasan Hidup Untuk Kepentingan Dunia dan Akhirat’. Namun, penjelasan dari kedua topik bahasan tersebut mengambil sumber dari ayat-ayat Injil. Padahal, buku itu juga dibagikan kepada siswa yang beragama Islam, termasuk siswa MTs.

Kenyataan itupun mengundang keresahan para orang tua siswa, ulama, ormas Islam, maupun guru agama yang ada di Kota Cirebon. Mereka khawatir, pelajaran Trapsila akan menimbulkan krisis keimanan bagi anak-anak muslim. Dengan adanya materi dari berbagai agama, maka tidak menutup kemungkinan akan membuat anak-anak memiliki pandangan bahwa semua agama sama.

Semestinya, untuk menanamkan pendidikan budi pekerti kepada para siswa, bisa dilakukan dengan menambah jam pelajaran agama di sekolah. Hal ini akan membuat siswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk mempelajari nilai-nilai agama, termasuk di dalamnya budi pekerti, yang tak hanya berlaku bagi siswa muslim semata, namun juga bisa diberlakukan terhadap siswa non muslim.

Pengajaran budi pekerti di sekolah memang diperlukan, namun hal itu tidak dilakukan dengan mencampuradukkan agama. (ASF)

Kamis, 03 September 2009

Kemuliaan Layâlul Bîdh, Malam Purnama bulan Ramadhan

Diriwayatkan dalam sebuah penggalan hadits, Rasulullah saw berdabda :

شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار

…. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka …. (Al-Hadits)

Terlepas dari perdebatan masalah shahih atau dhaif-nya, sebagai fadhailul a’maal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan), hadits tersebut dapat dijadikan pijakan hukum untuk melakukan suatu ibadah amaliah.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan para ulama bahwa Hadits Dha’if (hanya) dapat diberlakukan dalam fada’ilul a’mal, yakni setiap ketentuan yang tidak berhubungan dengan akidah, tafsir atau hukum, yakni hadits-hadits yang menjelaskan tentang targhib wa tarhib (janji-janji dan ancaman Allah SWT).

Hadits di atas mengandung penjelasan tentang keagungan Ramadhan, dimana "bulan penuh berkah" ini, awalnya adalah Rahmat, pertengahannya Ampunan dan akhirnya merupakan Pembebasan dari api neraka.

Bila dalam 1 bulan (Hijriyah) berjumlah antara 29 atau 30, maka yang dikatakan “awwaluhu”/awalnya adalah hitungan hari mulai dari tanggal 1 hingga tanggal 10 (10 hari yang pertama); “awsathuhu”/pertengahannya adalah 10 hari kedua, yaitu tanggal antara 11 s.d 20; dan “Akhiruhu”/penghabisannya adalah 10 hari terakhir, yakni tanggal 21 s.d 29/30. Sekarang ini kita sedang berada pada “awsathuhu”, pertengahannya bulan ramadhan atau 10 hari yang kedua bulan puasa.


Ada apa di 10 hari kedua Ramadhan?

Kalau setiap bulan dalam kalender Hijriyah ada hari-hari yang disebut hari putih (Ayamul Bidh), yaitu hari yang jatuh pada tanggal 13, 14 dan 15, dimana pada hari-hari ini tersebut sangat diajukan untuk melakukan amalan ibadah puasa sunnah sebagaimana berpuasa pada hari Senin dan Kamis, atau Puasa Nabi Dawud, maka di bulan ramadhan ada Layâlil Bîdh.

LAYALUL BIDH (Layâlul jamak dari kata Laylun, artinya malam; Bîdh dari kata baydun, yang berarti putih) adalah malam-malam purnama, yaitu malam tanggal 13, 14 dan 15. Malam-malam ini termasuk malam-malam yang paling mulia di bulan Ramadhan sesudah malam-malam Al-Qadar (Laylatul-Qodr).

Dalam kitab Mafâtihul Jinân bab 2, pasal 3, yang ditulis oleh Syeikh Abbas Al-Qumi disebutkan tentang amalan-amalan yang dianjurkan pada Layâlil Bîdh, antara lain :


Malam ke-13

Pada malam ini dianjurkan untuk melakukan mandi sunnah, setelah bersuci dilanjutkan dengan shalat sunnah empat rakaat dalam dua salam, setiap selesai membaca Surat Fatihah dilanjutkan bacaan Surat Al-Ikhlash sebanyak 25 kali. Selanjutnya melakukan shalat sunnah kembali dua rakaat yang diniatan untuk menghormati datangnya malam yang mulia ini. Setiap selesai membaca Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin, Surat Al-Mulk, dan Surat Al-Ikhlash.


Malam ke-14

Pada malam ini, amalan dimulai dengan melakukan amalan yang sama seperti amalan malam ke-13. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa Mujir, yang fadhilahnya untuk pengampunan dosa dan kemudahan rejeki. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa fadhilah doa ini adalah untuk pengampunan dosa-dosa walaupun sebanyak tetesan hujan dan daun pepohonan.


Malam ke-15

Malam ini adalah malam yang penuh berkah. Amalan di dalamnya diawali dengan mandi sunnah seperti pada malam 13 dan 14, kemudian berziarah (membaca doa ziarah) kepada Imam Al-Husein (sa) cucu tercinta Rasulullah saw. Doa Ziarah yang paling singkat adalah mengucapkan salam kepadanya, yaitu:

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا اَبا عَبْدِ اللهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاتُهُ

Salam atasmu wahai Aba Abdillah, semoga rahmat dan keberkahan Allah tercurahkan padamu.

Selanjutnya melakukan shalat enam rakaat (setiap dua rakaat salam) dengan tatacara yang sama seperti shalat pada malam 13 dan 14, kemudian diteruskan Shalat Seratus Rakaat, setiap selesai membaca Surat Fatihah dilanjutkan bacaan Surat Al-Ikhlash sebanyak 10 kali.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang melakukan shalat ini, Allah akan mengutus padanya sepuluh malaikat untuk melindunginya dari musuh-musuhnya, jin dan manusia, dan mengutus padanya tiga puluh malaikat saat kematiannya untuk menyelamatkannya dari neraka

Hari ke 15 adalah hari yang sangat mulia, bersedekah dan berbuat kebajikan pada hari ini memiliki banyak keutamaan.

Wallahu a'lam

(ASF/dari banyak sumber)

Minggu, 30 Agustus 2009

"Sop Buah" khas Cirebon, Pelipur di kala Dahaga

Apa yang dibutuhkan ketika kita sedang dalam kehausan?
Ketika dahaga mencekik tenggorokan (sepakat) kita mengidamkan segelas minuman dingin atau buah-buahan segar, brrrrr ......
Minuman dingan dan/atau buah-buahan segar itu tersaji pada semangkuk “Sop Buah”.

SOP BUAH tidak lain adalah kombinasi irisan atau serutan aneka buah yang disiram dengan air gula, ditambah es batu yang dihancurkan, lalu dilumuri susu kental manis, jadilah minuman segar yang menyehatkan. Bahan utamanaya adalah es kelapa muda untuk sopnya, sedangkan campuran buahannya cukup beraneka, mulai dari apel, alpukat, pear, anggur, strawberi, klengkeng, nangka, nanas, pepaya, sirsak, melon, blewah, dan tak ketinggalan timun suri. Karena penambahan es, air gula, dan susu kental, maka buah-buahan tersebut seperti mempunyai kuah sop, sehingga dinamakan “sop buah”. Pada umumnya, minuman-makanaan yang disajikan dengan konsep tumplek-blek jadi satu bak gado-gado ini diklaim dengan label “Sop Buah Khas Cirebon”.

Sop Buah Khas Cirebon (SBKC) dijajakan dengan menggunakan gerobak dorong. Di hari-hari biasa, puncak kerumunan peminat sop buah ini terjadi pada siang hari, ketika terik menyengat bumi. Sedangkan pada bulan puasa seperti sekarang ini, pembeli mulai ramai mengantri di sore hari saat ngabuburit.

Sepanjang jalan Pantura, gerobak sop buah banyak dijumpai di pinggiran pusat keramaian seperti pasar atau supermarket, sekolahan, pangkalan tempat becak atau ojek menanti penumpang, dan tidak sedikit yang mangkal di bawah pohon rindang. Harga seporsinya bervariasi mulai dari Rp. 4.000,- s.d. 8.000,- tergantung kelengkapan buah yang disajikan.

Tidak ada salahnya jika di bulan puasa kali ini anda mencoba varian baru menu berbuka puasa dengan icip-icip "Sop Buah Khas Cirebon", dijamin dahaga anda pasti sirna, mak nyesss..... (ASF)

Jumat, 28 Agustus 2009

Tingkatan Puasa

Di bulan suci ini, kaum Muslimin melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan dengan menahan lapar serta haus dari berbagai macam makanan dan minuman yang ada di sekelilingnya. Seorang yang berpuasa juga wajib menahan diri dari hawa nafsu yang bisa membatalkan puasa.

Itulah jihad jasmani bagi orang beriman, di samping ada pula jihad rohani, yakni meninggalkan semua bentuk maksiat inderawi (maksiat mata, mulut, tangan, kaki, bahkan hati). Jika tidak, hanya kelaparan dan kehausan yang diperoleh selama berpuasa, tanpa mendapatkan pahala yang sangat agung. Rasulullah SAW bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ ِصيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ .

Berapa banyak dari orang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga”.


Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, tingkatan puasa diklasifikasi menjagi tiga tingkatan : 1) Puasa awam (umum); 2) Puasa khawwas (khusus); dan 3) Puasa khawwasul-khowas (khususnya khusus).


1. Puasa Awam

Adalah puasanya orang umum, puasa yang dilakukan hanya dengan tujuan untuk menahan lapar dan haus serta menahan nafsu syahwati. Puasa ini dilakukan sekedar mengerti bahwa dirinya saat itu sedang diwajibkan berpuasa namun tidak pernah mengerti, untuk apa puasa itu diwajibkan.

Inilah puasanya orang kebanyakan (pada umumnya), hanya menjalankan kewajiban puasa itu secara syariat saja, hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa tahu hikmah dan rahasia di balik kewajiban tersebut. Namun, meski demikian, asalkan ibadah puasanya dilaksanakan dengan dasar hati yang ikhlas tanpa dicampuri sifat-sifat yang membatalkan pahala puasa, maka tetap akan mendapatkan pahala dari Allah swt. Hanya saja barangkali sulit bisa menggapai “rahasia amal” sebagai buah ibadah yang tersembunyi di balik kewajiban puasa. Rahasia amal itu, menurut istilah para Ulama’ Sufi disebut “khususiyah”, yang dengannya jiwa seorang hamba akan menjadi lebih matang, dewasa dan kharismatik.


2. Puasa Khawwas

Adalah puasanya orang khusus (orang-orang shaleh), yakni puasa dengan menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat dan dosa. Mereka tidak hanya menahan lapar dan haus serta nafsu syahwati saja, namun juga mata, telinga dan pikiran.

Imam Al Ghazali menjelaskan, Puasa pada tingkat ini hasilnya tidak bisa sempurna kecuali dengan membiasakan enam perkara :

Pertama, menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa meninggalkan pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya".

Kedua, menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Alquran. Sebagaimana yang telah ditegaskan Baginda Nabi SAW dari sahabat Anas RA :

خَمْسَةُ أَشْيَاءَ تُحِيْطُ الصَّوْمَ. أَىْ تُبْطِلُ ثَوَابَهُ. اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ اَلْغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ .

Lima perkara yang dapat membatalkan (pahala) puasa: berkata bohong, membicarakan kejelekan orang lain, mengadu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat”.

Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah SAW menjelaskan: "Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa".

Keempat, Menahan seluruh anggota badan dari perbuatan yang makruh dan membatasi perut di saat berbuka dari rezeki yang syubhat. Hal itu harus dilakukan, karena yang dimaksud dengan puasa adalah menahan syahwat dari makanan halal, maka apalah artinya apabila puasa itu dibuka dengan rizki yang haram. Maka orang yang berbuka dengan rizki yang haram sama halnya dengan membangun istana tetapi dengan menghancurkan kota.

Kelima, Berbuka dengan tidak terlalu kenyang meski dengan rizki yang halal, hal itu dilakukan supaya perut tidak terlalu penuh dengan makanan. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW :

مَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضَ إِلَى اللهِ مِنْ بَطْنٍ مُلِئَ مِنَ الْحَلاَلِ

Tidak ada lagi tempat yang paling tidak disukai oleh Allah selain perut yang selalu kenyang dengan halal”.

Keenam, hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap (raja'), karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah. Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualitas puasa yang telah dilakukan, sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.

Puasa pada tingkat kedua ini banyak dilakukan oleh para ahlu thoriqah, yaitu orang-orang yang telah mengerti tujuan amal ibadah yang sedang dikerjakan. Artinya dengan kewajiban puasa yang sedang dilakukan itu, di samping mereka mengharapkan pahala yang sudah dijanjikan, juga mengharapkan derajat tinggi di sisi Allah, yakni bagaimana mereka dapat mencintai dan dicintai-Nya. Mencintai (‘Asyiq) dalam arti mampu merasakan kenikmatan ibadah dan munajat, hal itu bisa terjadi, karena saat itu mereka merasa sedang dekat dengan yang dicintai. Sedangkan dicintai (Masyuq) artinya ridla kepada segala Ketetapan danTakdir-Nya, itu disebabkan karena yang sedang berkehendak dengan segala ketetapan dan takdir itu adalah Dzat yang mencintainya.

Untuk tujuan yang sangat mulia tersebut, para khawwas itu menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan persiapan prima. Mereka memanfaatkan segala kesempatan hidup untuk dapat meningkatkan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah, bahkan terkadang untuk sementara waktu harus meninggalkan segala urusan duniawi. Mereka melaksanakan khalwat (menyepi) di tempat yang sepi dan terpencil, terutama disaat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan telah tiba. Yang demikian itu mereka lakukan semata-mata karena mereka berharap mendapatkan hasil yang sempurna, karena tanpa usaha yang sempurna apa saja yang dikerjakan manusia hasilnya tidak akan menjadi sempurna.


3. Puasa Khawwas al-khawwas

Ini adalah bagi orang khususnya khusus. Puasanya adalah puasa hati, yaitu bagaimana dengan puasa itu mereka dapat mengendalikan dan menahan perasaan serta kecenderungan hati dari cita-cita duniawi, dan dari selain Allah. Orang yang berpuasa pada tingkatan ini, apabila di dalam puasanya masih sempat berpikir urusan selain Allah, meski ingin masuk surga misalnya, yang demikian itu sudah cukup menjadikan sebab batalnya makna puasa tersebut. Inilah tingkat puasanya para Auliya dan para Anbiya. Puasa pada tingkat ini hakekatnya semata-mata hanya untuk menghadapkan wajah (wijhah) kepada Allah dan memalingkan diri dari selain-Nya.

(ASF/dari banyak sumber)

Rabu, 26 Agustus 2009

Ramadhanan ala Gedongan

BULAN RAMADHAN bagi siapa pun memiliki arti tersendiri, tidak terkecuali bagi warga Magarsari Gedongan sebagai "kampung santri" yang kesehariannya tidak lepas dari mengaji. Ramadhan adalah bulan teristimewa yang membawa banyak berkah. Hal ini bisa dilihat dari geliat kehidupan warga yang betul-betul berbeda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Dimulai dari sore hari selepas Ashar, hingga menanti bedug Maghrib dan adzan berkumandang; diteruskan Isya' sampai tengah malam hingga fajar Subuh dan siang pun datang, kemudian kembali ke sore hari lagi; rotasi aktivitas warga Gedongan berputar tiada henti di bulan puasa ini.

Tidak heran bila kehadiran "bulan penuh rahmah" ini sangat dielu-elukan warga jauh-jauh hari sebelumnya, dari Srakalan Rajaban; Fenomena Banyu Zam-zam, Unggah-unggahan serta Imtihan, yang berlangsung mulai pertengahan bulan Rajab hingga akhir bulan Sya'ban. Semua itu tidak lain demi meraih Berkah Illahi dan Keridhaan-Nya., mengingat Rajab adalah bulannya Allah swt., Sya'ban adalah bulannya Rasulullah saw., dan Ramadhan adalah bulannya ummat Rasulullah saw. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda :

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَان شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرأَمَّتِيْ

"Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya'ban Adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku"

Dan do'a yang senantiasa dipanjatkan melalui kidung shalawatan adalah :

اللّهمّ بارك لنا فى راجب وشعبان وبلّغنا رمضان

Duh Gusti ......
Berkahilah (diri) kami di bulan Rajab juga bulan Sya'ban
dan sampaikan (umur) kami --supaya bisa
beribadah-- di bulan Ramadhan


Serbaneka Ramadhan di Gedongan

Sore hari di penghujung bulan Sya'ban, setelah tahu pasti bahwa nanti malam adalah awal malam bulan Ramadhan; masing-masing warga beraktivitas menyambut "tamu mulia" ini dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Kesibukan secara umum adalah persiapan untuk ibadah shalat tarawih selepas Shalat Isya', juga kesibukan mempersiapkan hidangan santap sahur pertama bulan puasa.

Kegiatan jamaah shalat tarawih sentralnya di Masjid Baitus-Su'ada Gedongan, namun tarawih di masjid ini hanya dikhususkan kaum lelaki. Bagi yang wanita, tempat tarawihnya terpisah di luar masjid, yakni menempati sebuah bangunan berbentuk pendopo tempat santri Madrasatul Hufadz biasa nderes dan mengajukan setoran hapalan/tahfidz Al-Qur'an, bangunan kuna ini oleh masyarakat disebut "Langgar". Sepanjang sejarah Gedongan, masjid tidak pernah digunakan aktivitas oleh kaum perempuan meskipun untuk keperluan ibadah, seperti shalat ataupun pengajian.

Yang istimewa dari pelaksanaan shalat tarawih di masjid Gedongan adalah; dalam setiap malamnya, Imam merampungkan sedikitnya 1 juz bacaan Al-Qur'an. Ini adalah tradisi yang sudah berlangsung semenjak akhir tahun 1970-an yang dirintis oleh KH. Abu Bakar Sofyan --Al-Hafidz Gedongan asal Pekalongan yang memperistri Nyai Zaenab binti Siraj--. Jadi, dalam sebulan dapat dipastikan akan khatam seluruh isi kandungan Al-Qur'an. Bahkan tidak sampai hari ke-30, pada malam ke-25, 26 biasanya tarawih di masjid Gedongan telah menamatkan Al-Qur'an.

Di masjid Gedongan sendiri, shalat tarawih dilaksanakan dalam 20 rakaat (2 rakaat salam, setiap 2 salam ada pembacaan do'a) ditambah 3 rakaat shalat witir (2 kali salam). Setelah shalat Isya' usai, shalat tarawih baru dimulai pada pukul 19.30 WIB dan berakhir hingga pukul 21.00 WIB. Pada malam-malam likuran (setelah khatam, mulai tanggal 27 sampai akhir Ramadhan), qiyamul-lail ini berlangsung lebih lama lagi, karena shalat witir yang biasanya 3 rakaat menjadi 11 rakaat --ditutup do'a qunut di rakaat terakhir--. Tentu saja, kesudahan "shalat malam" ini lebih larut dibandingankan hari-hari sebelumnya.

Oleh karenanya, hanya orang-orang tertentu saja yang mengikuti jamaah tarawih di masjid Gedongan. Bagi yang tidak mampu (santri karena harus mengikuti kegiatan ngaji pasaran setelah tarawih, atau warga yang lanjut usia) tidak ada larangan untuk berjamaah di luar masjid. Terdapat banyak majelis shalat taraweh yang diselenggarakan di "kampung santri" ini, baik di langgar-langgar maupun di beberapa rumah warga. Kendati demikian, tarawih di masjid Gedongan tetap menjadi favorit jamaah.

Menutup rangkaian shalat malam bulan puasa biasanya dilakukan "tahlil", kemudian dilanjutkan do'a pamungkas. Setelah itu --dikomando imam dengan didahului membaca basmalah-- seluruh jamaah bersama-sama melafalkan "niat puasa" disertai artinya dalam basa Cerbonan :

نويت صوم غد عن اداء فرض شهر رمضان هذه السّنة فرضا لله تعالي

Niat isun puasa ing dina besuk iki
saking nganakni fardune wulan ramadhan
ikilah taun karna miturut prentahe Allah ta'ala


Adapun yang dikatakan kesibukan khusus Ramadhanan ala Gedongan antara lain :

1) Pasar Ceplik
Pasar ceplik adalah pusat berhimpunnya pembeli dan penjual jajanan pasca berbuka puasa. Aneka penganan yang ditawarkan di pasar ini berupa cowel kangkung sambel kucur, krupuk wedi sambel terasi, empe-empe dan asinan sambal cuka, kojek sambal kacang, rumbah sambal kelapa, dan berbagai macam jajanan berselera pedas-asam lainnya. Aneka Jajanan Pasar dadakan dijajakan secara sederhana dengan menggelar tikar atau bale bambu di pelataran depan Langgar tempat diadakannya tarawih bagi kaum perempuan. Walau hanya berpenerang damar ceplik, namun kemeriahan ala pasar malam sangat kentara oleh riuh gaduh pembeli yang sengaja mampir dan icip-icip jajan sebelum memulai shalat jamaahnya.

Pasar Ceplik akan bubar secara sendirinya perlahan namun pasti, manakala adzan isya' dari corong speaker masjid Gedongan berkumandang. Dagangan yang masih tersisa ketika itu biasanya masih akan dijajakan kembali di emper rumahnya si penjual, mengharap masih ada pembeli yang mampir sepulang tarawih dari langgar atau masjid.


2) Darusan dan Ngaji Pasaran
Termasuk kesibukan khusus adalah "darusan" (tadarrus Al-Qur'an). Darusan adalah kegiatan membaca (tilawah) dan mendengarkan (sima') Al-Qur'an yang dilakukan seusai tarawih oleh sekelompok orang dewasa atau anak-anak di masjid maupun di langgar-langgar dengan mengharapkan pahala dari Allah swt. Darusan diadakan paling sedikit oleh dua orang atau lebih, biasanya dilakukan secara bergiliran antara yang membaca dan mendengarkan Al-Qur'an. Darusan yang dilaksanakan secara perorangan disebut 'nderes' yang dilakukan menyendiri di rumah atau di dalam bilik asrama.

Berbarengan dengan darusan, ada kegiatan “Ngaji Pasaran”. Ngaji pasaran atau dalam istilah Jawa Timuran dan sebagian Jawa Tengah disebut Ngaji “Pasanan” (berasal dari kata “pasa” yang artinya puasa) adalah tren bagi kalangan pesantren yakni "ngaji khusus bulan puasa", dimana setelah puasanya selesai maka program ngaji ini pun ikut selesai.

Setiap kyai di Gedongan mengadakan sendiri program Ngaji Pasaran bagi santrinya, guna mengisi kekosongan waktu dan menambah amal ibadah di bulan ramadhan. Kitab-kitab yang dikaji --seputar tafsir, hadits, fiqh, tauhud, juga tasawuf-- biasanya sudah khatam kurang dari sebulan. Metode pembelajarannya seperti ngaji bandungan, dimana Romo Kyai atau ustadz yang mendapat mandat kyai membaca topik kajian kata per kata (kalimah), kemudian menjelaskannya (syarh). Para santri menyimak secara seksama makna dan syarh dari kalimah yang sedang diulas hingga memahami. Tidak ada tanya jawab dalam proses pengajian ini, tapi bukan berarti dilarang. Sebab Ngaji Pasaran biasanya penjelasannya singkat, cepat dan padat. Oleh karenanya ngaji jenis ini dikenal juga dengan istilah “Ngaji Kilatan”. Selain ba’da tarawih, ngaji pasaran juga dilangsungkan ba'ada shubuh, ba’da dzuhur, ba'da ashar, dan qubailal-maghrib (ngabuburit).

3) Obrog-obrog
Kesibukan khusus lainnya adalah "obrog-obrog" atau dogdog. Obrog-obrog merupakan tabuhan (musik) khas pesisiran yang dimainkan oleh sedikitnya lima personil, yang biasa ditampilkan dalam kesenian Tarling Cerbonan, atau Seni Burok.

Di Gedongan, obrog-obrog yang dikelola oleh "bocah enom" dapat menjadi media untuk menggugah warga supaya bangun agar dapat melaksanakan ibadah sahur. Oleh karenanya, obrog-obrog Gedongan --yang eksis hanya di bulan puasa-- ditampilkan pada tengah malam di kala warga sedang tertidur pulas.

Seperangkat obrog-obrog umumnya terdiri dari empat buah genjring (rebana) dan sebuah dogdog (bedug atau kendang sesigar). Genjring ditabuh dengan cara ditepak berulang-ulang dalam tempo beraturan oleh empat orang penabuh, sementara dogdog --sebagai pengatur tempo-- cukup dioperasikan oleh satu orang dengan cara digebuk dan dipukul-pukul menggunakan alat tabuh khusus. Alunan suara yang keluar dari perpaduan tabuhan genjring dan dogdog ini mengeluarkan irama yang meriah, bertalu-talu, kadang tinggi kadang rendah, mengikuti dendang irama yang dilagukan secara bersama-sama tanpa pengeras suara.

Awalnya, lagu-lagu yang didendangkan adalah syair-syair berirama qasidahan dan shalawatan yang bersumber dari Kitab Al-Barzanji. "Eroman Watikas Saroh" pernah menjadi lagu wajib atau lagu pembuka yang didendangkan setiap kali obrog-obrog tampil. Syair yang dikutip dari "Maulid Syarifil Anam" yang nada aslinya berbunyi demikian :

خير من وطئ الثّرى
المشفعف الورى .....


Namun seiring dengan berjalannya waktu, syair-syair qasidahan kian zaman kian dilupakan orang. Apalagi sepeninggalnya Mang Janur (Pak Nurjali, Allahu Yarham) --orang yang paling berjasa akan adanya obrog-obrog di Gedongan-- keberadaan syair qasidahan tergusur oleh pesatnya lagu-lagu tarlingan dan dangdutan. Warung Pojok, Pemuda Idaman, Lanang Sejati, Lanange Jagat, Bantal Guling, dan sederet lagu-lagu dangdutan, pasti lebih dikenal dan dihapal wong enom ketimbang lagu "Eroman Watikas Saroh" tadi.

Obrog-obrog Gedongan --yang menjalankan aksinya mulai pukul 01.00 hingga 03.00 pagi mengitari kampung dengan menyusuri lurung pemukiman warga-- sekarang ini sudah mengalami banyak perkembangan. Perangkat tabuhan yang digunakan bukan saja genjring dan dogdog, tapi sudah ada penambahan alat modern, seperti cimbals, pianika dan bellyra, sebagai ganti "kitar lan suling", alat musik yang hingga saat ini masih tidak diperkenankan masuk lingkungan Gedongan. Dengan penambahan alat ini, tentunya lirik dan nada yang dihasilkan lebih kaya irama, hingga lagu-lagu beriramakan 'pop' pun kerap didendangan. Apalagi didukung dengan sound system bertenaga genset yang dimuat dengan gerobak dorong, alunan sang biduan mendayu lebih anggun dan menawan.

Para obrogger (sebutan bagi pemain dan pengiring obrog-obrog, pen.) bekerja secara suka rela, artinya mereka tidak digaji atau diberi honor oleh siapa pun dalam melakukan aksinya. Untuk menutup biaya operasional, biasanya pada pertengahan dan akhir bulan puasa, mereka berkeliling sore hari, blusak-blusuk lurung, menghampiri setiap pintu rumah warga mengharap shadaqoh seikhlasnya (beras atau lembaran rupiah) sebagai balas jasa atas pamrih mereka membangunkan sahur.

4) Ngabuburit dan Ta'jil
Ngabuburit dan Ta'jil juga dapat dikatakan sebagai kegiatan khusus ramadhanan ala Gedongan. Ngabuburit adalah masa antara jam 16.00 hingga 18.00 WIB (jam 4 s.d 6 sore), masa menanti datangnya waktu maghrib. Ngabuburit bisa dibilang pelarian orang berpuasa dari rasa bosan menunggu waktu berbuka puasa. Sedangkan ta'jil adalah aneka hidangan untuk membatalkan puasa yang disediakan warga dengan niat shadaqah.

Ngabuburit pada umumnya dilakukan di luar rumah, sambil berkendara atau berjalan kaki bersama sekelompok teman sebaya menyusuri sudut-sudut dusun. Oleh sebagian warga Gedongan --khususnya kaum bapak-- moment ngabuburit dimanfaatkan dengan menyimak "Kajian Tafsir Al-Qur'an" yang disampaikan oleh KH. Abu Bakar Sofyan di serambi Masjid Baitus-Suada. Pada kajian ini, Romo Kyai membacakan ayat-ayat surat Al-Qur'an, kemudian beliau mengupasnya per-kalimah dan menafsirkannya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Acara Ngaji Kuping ini dimulai antara pukul 16.00 WIB dan berakhir hingga tiba waktu berbuka.

Masa-masa menyenangkan saat ngabuburit adalah masa dimana dilantunkannya tasyhid istighfar seusai kultum yang disiarkan Radio RRI Cirebon :

أشهد أن لآ اله الاّ الله، أستغفر الله، نسألك الجنّة ونعوذبك من النّار ......
اللّهمّ إنّك عفوّ كريم، تحبّ العفوى فاعف عنّا، ياكريم


Karena, setelah pembacaan tasyhid tersebut selesai, biasanya dilanjutkan pembacaan do'a berbuka puasa, yang menandakan masuknya waktu maghrib. Namun oleh sebagian warga Gedongan, isyarat ini saja belum cukup untuk membatalkan puasanya sebelum yakin bahwa kentong masjid Gedongan benar-benar sudah ditabuh dan adzan dikumandangkan. Inilah salah satu bentuk kefanatikan yang hingga kini tetap kokoh tertanam dalam kalbu komunitas Magarsari Gedongan.

*****

"Serbaneka Ramadhan ala Gedongan", memang bukan hanya sekedar yang digambarkan di posting ini. Tentunya masih beraneka dan lebih beragam lagi di luar apa yang dapat terekam memori dan tertuangkan. Oleh karenanaya, serbaneka ini bukan representasi secara total Ramadhan ala Gedongan, namun hanya sebahagian, Nyuwun pangapuntenipun ingkang kathah.... (ASF)