Minggu, 15 Mei 2011

Hawl Photo Share....

Special Tribut to Hawl Gedongan 2011

Sabtu, 14/05/2011 di Pondok Pesantren Gedongan Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat digelar helatan tahunan Haul KH. Muhammad Said, Sesepuh dan Almarhumin Pondok Pesantren Gedongan.

Salah satu sesi pokok acara haul adalah Berziarah Kubur di Maqbaroh Gedongan untuk melakukan tahlil massal yang dimulai pada pukul 16.15 WIB.

Meski sempat dirundung khawatir oleh hujan karena langit mendung dan gerimis pada siang harinya, namun memasuki acara hingga kesudahannya, alhamdulillah cuacanya menjadi cerah, sehingga para peziarah dapat lebih khusuk dalam bermunajat; tahlil, tahmid, tasbih, serta istighfar.

Berikut momen-momen eksklusif seputar Tahlil Massal (Haul) di Maqbaroh Gedongan yang diliput oleh MagarsariPost....

(klik pada gambar untuk melihat ukuran penuh!)












































































































































































Baca beritanya .... (ASF)

Kamis, 12 Mei 2011

MAQBAROH

Adat istiadat dan tradisi merupakan bagian integral dari helatan Haul di Gedongan. Salah satu pusaka adat yang tak terpisahkan dalam tradisi Haul Gedongan adalah "Maqbaroh".

MAQBAROH adalah kata serapan bahasa Arab yang lazim dipakai oleh kalangan pesantren untuk menyebut “kuburan” (=tempat pemakaman umum). Walaupun kuburan dan maqbaroh adalah dua kata yang bermakna sama dan bersumber dari kata dasar yang sama pula, yakni “qobbaro”/kubur, namun kadang penerapannya memiliki klasifikasi berbeda. Kata maqbaroh identik digunakan oleh kaum santri, sementara kuburan umumnya dipakai oleh kalangan di luaran santri (masyarakat abangan).

Maqbaroh Pesantren Gedongan terletak di sebelah barat pemukiman warga (sekitar 150 meter dari lokasi pondok). Areal seluas 250 meter persegi ini merupakan fasilitas pemakaman umum masyarakat Gedongan yang sudah ada semenjak pertama kali Gedongan ada. Dalam helatan Haul di Gedongan, maqbaroh memegang andil penting, karena di lokasi ini terdapat Makam Almarhum Al-Maghfurlah KH. Muhammad Said, Pendiri Pondok Pesantren Gedongan.
Sebagaimana umumnya makam para Ajengan, di lokasi pemakaman Kyai Said (biasa orang Gedongan menyebutnya) didirikan sebuah bangunan untuk memfasilitasi para peziarah. Dengan bentuk letter “L” terbalik, bangunan berlantai keramik putih ini berdiri tegak di atas fondasi batu bata merah. Besi pipa menjadi pilar penyangga setiap sudut dan kolomnya; asbes bergelombang menjadi atap pelindung dari terpaan hujan dan terik mentari; sementara tembok bercat putih setinggi satu meter dengan celah pintu di sisi utara dan di siku tengah bagian dalam, menjadi skat pemisah dengan kuburan warga yang bertebaran di sekelilingnya. Sekilas bila dilihat dari jauh, fisik bangunan ini tampak menyerupai bentuk koridor jalan di rumah sakit

Di dalam areal bangunan tersebut, selain terdapat makam Kyai Said (beriringan dengan makam Ibu Nyai Maemunah, Ghofarallahu Waridhallah ‘Anhuma), juga terdapat belasan makam para anak cucu dan kerabat. Hampir setiap harinya, areal ini menjadi objek ziarah beberapa santri untuk ngalap berkah (tabarruk) dengan bertahlil, bertadarrus (tahfidz) Al-Qur'an, dan ber-mujahadah. Khususnya pada hari Jum'at --terlebih Jum'at Kliwon-- peziarah yang datang lebih banyak lagi, karena sebagian mereka ada yang datang bersama jamaah. Hingga puncaknya adalah pada helatan Haul Gedongan, lokasi maqbarah benar-benar dipenuhi oleh para zairin yang bukan saja para santri atau warga Gedongan, tetapi juga para pendatang jauh dari luar Gedongan. Mereka adalah muslimun-muslimat; para wali santri, para alumni pondok, para kyai dan ustadz, para ulama dan habaib, serta para penggembira Haol Gedongan. Meski dengan serba keterbatasan, meski harus berdesakan-desakan, meski harus bersila di pelataran sempit dengan gelaran seadanya, meski harus berhimpitan di sela-sela gundukan tanah bernisan dan rumput ilalang, mereka rela hadir memadati areal pekuburan yang banyak ditanami pohon Albasia demi bisa mengikuti "tahlil massal", tahlil sebagai esensi Haul Gedongan.

Tahlil massal di areal maqbaroh Gedongan diselenggarakan ba’da ashar sampai selesai. Biasanya, sebelum ritual dzikir, tasbih, dan tahmid ini dimulai, prosesi didahului dengan penyampaian Mauidzah Khasanah serta Manaqibu Syaikh Almarhum Al-Maghfurlah KH. Muhammad Said. Akhir acara tahlil ditutup dengan do'a untuk para ahli kubur Maqbaroh Gedongan, kaum muslimin-muslimat, juga do'a-do'a khususiyah liqadhi-haajah dengan bertawassul.

Allahummaghfirlahum warhamhum,
Allahummaqdhi haajatii, aghitsna, aghitsna ....!!! Amien (ASF).

Minggu, 08 Mei 2011

Prediksi Gus Dur tentang Al-Zaytun

MA’HAD AL-ZAYTUN menjadi sorotan publik belakangan ini. Sejumlah pihak menuding lokasi itu merupakan markas Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX (NII-KW9).

Ma’had atau pesantren yang dipimpin AS. Panji Gumilang itu terletak di Haur Geulis, Indramayu, Jawa Barat. Arealnya sangat luas, hingga mencapai 1.200 hektare. Sekitar 200 hektar untuk bangunan, sisanya, persawahan, ladang, hingga hutan jati emas. Komplek ma’had dibatasi tembok tinggi yang memisahkannya dengan perkampungan penduduk, kontras.

Di dalamnya bukan hanya ada asrama dan ruang belajar seperti pesantren pada umumnya, namun ada juga rumah sakit, rumah tinggal, wisma tamu, waduk, sawah, ladang, dan bahkan kandang ternak.

Proyek besar yang hingga kini sedang dalam tahap penyelesaian adalah pembangunan Masjid dengan nama Rahmatan Lil ‘alamin, yang didesain lebih besar dari Masjid Istiqlal Jakarta. Konon katanya bila sudah jadi, masjid ini mampu menampung 150 ribu jamaah.

Sebetulnya, jauh sebelum menjadi sorotan media, Almarhum Gus Dus (KH. Abdurrahman Wahid) pernah berprediksi tentang masa depan ma’had ini melalui sebuah wawancara dengan tim repoter NII Crisis Center (NCC). Dengan didampingi Yeni Wahid dan Sulaiman (Sekretaris pribadinya), berikut kutipannya ....

NCC : Apa pendapat Gus Dur tentang Al-Zaytun?

GD : Itu punya Pak Harto. Beliau dulu punya obsesi ‘At Tien & Al-Zaytun’ Pak Harto tahu semua yang dikerjakan Si Panji Gumilang. Wong Abu Toto itu binaan ‘anak emasnya’ Ali Moertopo. Itu Proyek Mercusuar yang gak ada manfaatnya untuk bangsa. Pak Harto itu punya mimpi, tapi gak kesampaean. Ia yang memerintahkan Sa’adilah Mursyid mengirim sapi tapos ke Zaytun ditahun 1999. Sebelum reformasi yang jaga Zaytun itu kan Kopasus. Sekarang sudah 10 tahun apa sih yang sudah dihasilkan Al-Zaytun? Saya dengar santrinya gak bisa apa-apa, apalagi lulusannya gak jelas. Masyarakat disana resah dan menganggap Zaytun gak membawa manfaat apa-apa. Tanah mereka dirampas dan dibayar seenaknya ....
Zaytun itu hanya membangun propaganda kebaikan dan kesuksesannya sendiri. Yang begini gak akan lama, saya pikir tahun ini akan jadi tahun terakhir buat Zaytun. Rakyat kita cerdas-cerdas kok, sudah gak bisa lagi dibohongi Abu Toto. Kalo ada yang masih bisa dibohongi, jumlahnya makin sedikit kok. Orang sudah makin faham Zaytun itu Bull shit. Buktikan saja omongan saya, mahasiswa-mahasiswa itu akan balas dendam.

NCC : Bagaimana Gus Dur melihat mereka itu Jahat !?

GD : Anda ini punya hati nurani gak? PKI, Hitler, Zionis Yahudi sekalipun yang dibilang masyarakat itu JAHAT, mereka sangat ’sayang’ dan membela anak buahnya. Tapi kalian bisa lihat sendiri itu di Zaytun, orang dibuat kerja rodi kaya Romusha. Tenaganya diperas, Istri dan anaknya dipisahkan. Gak digaji sepantasnya, jangankan berharap UMR dan ada Jamsostek.
Inikan trafficking (penjualan manusia atas nama Islam ‘NII’) Apa itu gak jahat? Apapun alasannya untuk perjuangan, kondisi darurat. Itu bisa-bisa tipu mereka aja. Apa Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan hal tersebut? Apa Imam Kartosuwiryo rela jama’ahnya diperas begitu?! saya yakin ia marah dan terluka.

NCC : Tapi anda kan tidak berbuat apa-apa untuk membongkar Al-Zaytun?

GD : Anda gak tahu! Apa saya harus teriak-teriak hancurkan Zaytun, fatwakan NII SESAT!. Dulu yang kasih anak-anak itu temuan MUI, saya diberi tahu Kyai Sahal Mahfudz. Yah dibongkarlah sama anak-anak itu. Saya yang perintahkan Chaidar dkk. untuk maju gugat ....
Saya memang diminta oleh para Kyai itu untuk bicara soal Zaytun. Saya bilang nanti tunggu saja tanggal mainnya, Abu Toto itu tahu kok kalo ia sekarang tinggal menghitung hari.

NCC : Anda kok berprediksi seperti itu Gus?

GD : Aku kan punya Muslim di RepublikaN. Ia cerita banyak tentang ramai-ramai umat NII KW9 berduyun-duyun jadi Tim Sukses di RepublikaN. Abu Toto itu lagi panen duit. Habis dapat dari Wiranto, balik kanan ke JK. Sekarang ke RepublikaN. umatnya itu kaya Sapi yang tercocok hidungnya, kaya bebek ngekor Mas’ulnya.

NCC : Gus, kok tahu-tahuan Mas’ul?

GD : Tahu dong, itu Munif sespriku kan pernah sebentar kuliah di KW9 alias di tilawah. He he …

NCC : Bagaimana Gus Dur menilai sikap mereka yang ‘menyerang’ Al-Zaytun ?

GD : Mereka itu kurang kritis, di tengah orang yang buta dan membuta. Tapi masih baguslah mereka masih mau mengkritisi Zaytun. Zaytun itu bukan sekedar isu ‘Sesat’, Zaytun itu musuh kemanusiaan, musuh bersama kita semua. Ia bagai mesin penghancur masa depan anak bangsa, zaytun itu alat iblis untuk merusak tatanan masyarakat. Bayangkan saja anak-anak mahasiswa itu disuruh ‘nipu orangtuanya sendiri’ katanya ‘teknis’, teknis Mbahmu, nipu yah nipu. Kalo ada orang masih percaya dengan gombalannya Zaytun, orang tersebut pasti orang munafiq, setidaknya kalo pejabat yah pejabat yang koruptor, kalo ulama yah ulama Jablay, kalo intelektual yah intelektual pedagang, kalo peneliti yah peneliti goblok, kalo ada media yang membela Zaytun pasti media yang cuma cari makan alias media bayaran. Yah kalo ada orangtua yang belain Zaytun yah orang tua yang durhaka dan gak punya hati nurani.

NCC : Lalu bagaimana membongkar kasus Zaytun ini?

GD : Tunggu saja tanggal mainnya, mereka sendiri kok yang akan menggali kuburannya sendiri .....
Karni Ilyas kasih bocoran ke saya kalo TV-One mau bongkar-bongkaran soal baiat ala NII. Inikan jelas-jelas makar. Kok ada Negara dalam Negara dibiarkan. ....
Intinya sekarang ini seluruh jajaran Zaytun sedang panik dan super sibuk bagaimana menyelamatkan diri ....
Ini harus kita lawan bersama, apa artinya saya sendirian.

(Sofie Hidayat dan Tim NCC / www.nii-crisis-center.com)

Jumat, 06 Mei 2011

Keutamaan Shaf Pertama dan Dekat dengan Khatib

Oleh : Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Dialah yang menciptakan masa dan mengutamakan sebagiannya atas sebagian yang lain. Dia telah jadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik atas bulan-bulan lainnya, Jum’at sebagai hari terbaik dalam sepekannya, dan menjadikan lailatul qadar sebagai malam terbaik dalam setahunnya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Manusia terbaik, paling bertakwa dan takut kepada Rabbnya, yaitu Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi Wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Shalat Jum'at adalah amal ibadah yang paling khusus dan istimewa pada hari Jum'at. Pelaksanaanya memiliki kekhususan yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya, khususnya Dzuhur yang sama waktunya. Dari cara bersuci, sangat dianjurkan untuk mandi besar sebagaimana mandi janabat. Cara berpakaian, sangat dianjurkan memakai pakaian terbagus dan menggunakan wewangian. Berangkatnya ke masjid, sangat-sangat dianjurkan lebih awal dengan janji pahala yang lebih besar daripada yang datang berikutnya. Sebelum shalat dimulai, diawali dengan khutbah yang harus diperhatikan dengan seksama oleh jama'ah. Jama'ah tidak boleh tidur, mengobrol dan berbicara dengan kawannya, atau sibuk dengan kegiatan yang bisa memalingkan dari mendengarkan khutbah.

Berdasarkan keistimewaan ini, maka selayaknya seorang muslim bersemangat mendatanginya. Berpagi-pagi menujunya, sebagaimana para salaf menjadikannya sebagai tradisi mereka.

Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun". (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَقَفَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَيَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ إِلَى الْجُمُعَةِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي كَبْشًا ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي دَجَاجَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ وَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَجَلَسُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Jika tiba hari Jum'at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)". (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)

Pada hadits pertama menjelaskan bahwa berangkat pagi-pagi ke masjid menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pahala shalat Jum'at dengan sempurna. Dan berangkatnya ke masjid disunnahkan dengan berjalan kaki. Karena itu Imam al Nasai dan al Baihaqi membuat bab khusus dalam kitab mereka, "Keutamaan berjalan kaki untuk shalat Jum'at".

Abu Syamah berkata, "Pada abad pertama, setelah terbit fajar jalan-jalan kelihatan penuh dengan manusia. Mereka berjalan menuju masjid jami' seperti halnya hari raya, hingga akhirnya kebiasaan itu hilang", Lalu dikatakan, "Bid'ah pertama yang dilakukan dalam Islam adalah tidak berangkat pagi-pagi menuju masjid". (Dinukil dari Akhtha' al Mushalliin -edisi Indonesia: Kesalahan-kesalahan dalam shalat-, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan, hal. 236)

Sedangkan pada hadits kedua dijelaskan kerugian bagi orang yang terlambat datang ke masjid sehingga imam naik mimbar. Yakni, para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar.

Dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Para Malaikat duduk pada hari Jum'at di depan pintu masjid dengan membawa buku catatan untuk mencatat (orang-orang yang masuk masjid). Jika imam keluar (dari rumahnya untuk shalat Jum'at), maka buku catatan itu dilipat".

Kemudian Abu Ghalib bertanya, "wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam keluar mendapat Jum'at?" Ia menjawab, "Tentu, tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan".


Memilih Shaf Pertama dan Dekat dengan Imam

Bagi jama’ah yang sudah sampai ke masjid, hendaknya dia memilih shaf (barisan) pertama yang dekat dengan imam. Karena di samping shaf pertama memiliki keutamaan yang besar juga lebih jelas untuk menyimak khutbah imam.

Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun". (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585)

Sesungguhnya shaf pertama dalam shalat berjama’ah dan juga shalat Jum’at memiliki keutamaan yang agung dan pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala. Sehingga Nabi kita menjelaskan,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam panggilan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, niscaya mereka melakukannya”.(HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Imam Ahmad mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Umamah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya membacakan shalawat atas shaf pertama”. Beliau sampaikan itu sampai dua kali, baru shaf yang kedua.

Masih dari Musnad Imam Ahmad, dari hadits al-‘Irbadh bin Sariyyah, bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam bershalawat atas shaf pertama sebanyak tiga kali dan atas shaf selanjutnya hanya sekali.

Dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam mengancam bagi orang yang sengaja memilih shaf belakang/akhir.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا فَقَالَ لَهُمْ تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ

Rasulullah Shallalahu 'alaihi Wasallam melihat ada yang mengambil saf belakang. Maka beliau bersabda : “Majulah kalian dan ikutilah aku, dan hendaklah yang setelah kalian mengikuti kalian. Kaum yang senantiasa mengambil shaf akhir akan diakhirkan Ta’ala (dari masuk ke dalam surga)". (HR. Muslim dari Abu Sa’id al Khudri)

Semoga Allah memberikan tambahan hidayah dan taufik kepada kita sehingga bisa mendapatkan pahala besar yang disediakan pada hari Jum’at. Sehingga kelak akan menjadi modal utama untuk kita masuk surga dalam rombongan pertama. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]

Minggu, 01 Mei 2011

Mengenalkan Kampung Halaman di Jagat Maya

Refleksi 2 tahun (mendhak kaping loro) Perjalanan Blogku


Di era teknologi informasi canggih yang serba digital seperti sekarang ini, memungkinkan segala sesuatunya bisa mendadak dikenal, baik karena keunikannya, keanehan, atau kenyelenehan dalam melahirkan sebuah kreasi. Khususnya di jagat maya, dengan seperangkat piranti PC/laptop atau sebuah piranti genggam cerdas (smartphone) yang kini sudah merata dimiliki orang, hal tersebut mudah saja terjadi. Tanpa perlu menggeser posisi anda sekarang, tidak harus melibatkan banyak orang, anda pun dapat menjadi terkenal dengan men-share visualisasi tingkah polah anda dalam format digital (foto atau video) yang diunggah melalui situs YouTube. Kalau nasib sedang mujur, siapa tahu anda akan menyusul ketenaran Sinta-Jojo atau Briptu Norman Kamaru.

Atau melalui sentuhan lembut jemari anda pada deretan tombol tuts/keyboard, lakukanlah langkah kreatif dengan menyusun huruf menjadi kata, merangkai kalimat membuat tulisan. Selanjutnya hasil celotehan jemari berupa ungkapan suasana hati tadi anda publikasikan via milist, atau lebih mudah lagi via situs jejaring sosial facebook/twitter (dengan syarat anda harus menjadi member dulu), nantikan tak seberapa lama sharing anda akan dibaca hingga direspon oleh sesama pengguna di seantero dunia. Jika personalisasi dan keleluasaan yang anda butuhkan, anda dapat tuangkan kreasi bakat menulis anda dengan membangun dan mengelola situs pribadi (blog). Inilah ruang ekspresi saya dalam mengenalkan kampung halaman di jagat maya.

Kampung dalam makna luas bukan saja berarti kampung nan ndheso, pemukiman di pelosok nun jauh dari hiruk pikuk geliat metropolitan saja. Anda yang tinggal di tengah kota pun tetap punya kampung halaman sebetulnya, karena tidak ada istilah “kota halaman”, bukan?. Jadi setiap orang pasti mempunyai kampung halaman, terlepas apakah ia masih mendiami ataukah sudah meninggalkannya, namun so sure di sana ada banyak kisah yang pernah singgah.

Ekspresi pemikiran saya, gagasan dan opini, wacana ataupun berita hingga keluh kesah tentang kampung halaman, saya tuangkan dalam blog yang saya kelola. Blog ini saya namakan “MagarsariPost” yang pada pertengahan April lalu (19/04) telah genap menapak usia di tahun kedua (mendhak kaping loro). Meski hanya terbit berkala (kadang kala terbit kadang kala tidak), namun dalam masa dua tahun tersebut MagarsariPost telah mengkoleksi goresan-goresan tinta tentang kampung halaman yang dapat dibilang lumayan, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Gedongan bukan Gadungan (25/04/2009)
  2. "Gedongan" Antara Kata, Nama, dan Makna (19/04/2009)
  3. Catatan 'Sungkrah' Haul Gedongan (15/05/2009)
  4. IRPG (Ikatan Remaja & Pemuda Gedongan) (10/05/2009)
  5. Yang Kuingat dari "Gedongan" (01/05/2009)
  6. Prabowo Teka ning Gedongan (22/06/2009)
  7. KH. Mohammad Said Tokoh Pendidikan dari Gedongan (20/06/2009)
  8. Genderang Demokrasi Babak II (13/06/2009)
  9. Gedongan Berduka (09/06/2009)
  10. Rajaban (22/07/2009)
  11. Ning Gedongan Mega-Pro bli Keduman (13/07/2009)
  12. Ramadhanan ala Gedongan (26/08/2009)
  13. Mengenal Unggah-unggahan di Gedongan (14/08/2009)
  14. “Batur dhewek” Fesbuke Wong Dhewek (30/03/2010)
  15. Mengenal lebih dekat sosok KH. Said Aqiel Siradj (24/03/2010)
  16. Mendhak (19/03/2010)
  17. DPP PKB Gelar Peringatan Maulid di Pesantren Gedongan (15/03/2010)
  18. tulisan pertamaku di blog-ku (18/04/2010)
  19. Memahami Aswaja (15/04/2010)
  20. Menjelang Haol Gedongan (08/04/2010)
  21. Mengarak Pengantin (30/05/2010)
  22. Hidup adalah "Percobaan" (14/05/2010)
  23. Dua Menteri Hadiri Haol Pesantren Gedongan (09/05/2010)
  24. Kartini, Maulid dan Haol (05/05/2010)
  25. Fenomena Banyu Zamzam Nisfu Sya'ban di Gedongan (28/07/2010)
  26. Tragedi Terbakarnya KMP Laut Teduh II (23/02/2011)
  27. Jepang Bangun Perpustakaan ”Endang Bunko di SDN Ender II” (31/03/2011)
  28. diece ergo sum (saya dihina maka saya ada) (25/03/2011)
  29. DUH, GEDONGAN....! (20/03/2011)
  30. Mati Sangit Ala Si Sarip (20/04/2011)
Masih premature, mungkin saja. Tapi paling tidak sebagai penulis amatir saya telah buktikan dengan telah melakukan yang saya bisa, memberikan secuil kemampuan untuk kampung halaman. Tidak sekedar menjadi anggota NATO yang not action talk only, yang hanya pandai berteori tanpa pernah ada berbuat menghasilkan bukti.


Kenapa Menulis Tentang Kampung Halaman?

Sedikitnya saya mencatat ada tiga alasan kenapa saya tertarik menulis tentang kampung halaman?, Pertama; karena ia adalah bagian dari sejarah hidup saya, bagian dari masa lalu yang pernah mewarnai hari-hari lampau saya. Walaupun pahit juga getir rasa yang pernah dikecap, namun tetap manis legit untuk mengenang kisah-kisah yang diserap. Oleh karenanya, bertutur dengan menulis tentang kampung halaman bagi saya adalah suatu keasyikan karena dapat membangkitkan kenangan yang telah sekian lama terpendam.

Kedua; sadar bahwa kampung halaman bukanlah selebritis yang sepak terjangnya selalu menjadi buah bibir dan bahan berita, maka saya tergerak untuk memberitakan dan mengenalkannya (kepada dunia) melalui sebuah tulisan. Sehingga dapat dikatakan bahwa 'mengenalkan kampung halaman di jagat maya' adalah bagian dari misi saya via MagarsariPost. Karena orang di luar sana gak akan mengenal kampung halaman kita sedetail yang kita kenal, kalau bukan kita sendiri yang mengenalkannya kepada mereka. Gak mungkin kampung halaman kita diketahui setiap orang kecuali ada peristiwa heboh atau kejadian menggemparkan (yang memiliki nilai komersil untuk diberitakan) seperti orang pernah tahu Desa Pelumutan Kabupaten Purbalingga karena ada “Sumanto si Manusia Kanibal”.

Dan alasan yang ketiga adalah “sebuah pengharapan”. Berharap bahwa dengan dituangkangkannya tulisan tentang kampung halaman “Gedongan” dalam blog MagarsariPost, dapat menjadi stimulan bagi para batur uga sedulur, terkhusus bagi kakang-kakang (di Jawa Timur dipanggilnya Gus/Ning) yang di luhur, atau siapa saja yang merasa masih memiliki ikatan batin dengannya, untuk melakukan aksi serupa atau yang lebih baik lagi, yang lebih baik lagi dari yang saya lakukan yaitu dengan mendirikan situs resmi (official site) Pondok Pesantren Gedongan. Dan haqqul yaqien, menurut saya “mereka” pasti bisa!, bila diukur dari gelar kesarjanaan yang mereka sematkan hingga magister, sampa doktor di kalangan Pesantren Gedongan.

Permasalahannya adalah; apakah ada i’tikad “mereka-mereka” untuk menjadikan Gedongan sebagai sebuah lembaga (pondok pesantren) agar lebih meningkat dalam kualitas maupun kuantitas?. Masihkah ada ghirrah “mereka-mereka” untuk menyatukan tekad membangun dan membesarkan Gedongan tanpa harus membeda-bedakan “siapa saya, siapa anda....?, dari mana dia, dan anak siapa?”. Untuk menuju ke arah sana, dibutuhkan pengorbanan sebuah keterbukaan dan kelapangdadaan, pengorbanaan untuk mau mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi (ego), berat sama dipikul ringan sama dijinjing, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, berembug bersama merencana kemaslahatan dan kemajuan untuk Pesantren Gedongan. Bilakah ini akan terwujud?

Dalam suatu kesempatan mertamu di rumah Nyai Mus, di tengah perbincangan dengan putra tunggalnya yang bernama Kang Yahya mengenai Haol Gedongan yang akan digelar bulan Mei ini, saya menyinggung pembicaraan tentang keberadaan blog MagarsariPost dan kemungkinan kalau diadakannya situs resmi (official site) Pesantren Gedongan. Jawaban yang saya terima dari lelaki yang akrab disapa Kang AU ini hanya singkat saja : “Sulit”, atau "angel" dalam bahasa Gedongan.

“Lho, kok. Kenapa?” kata saya
“Sulit”, katanya. “Sulit, karena Kyai (sepuh) tidak merestui....”, lanjutnya
“Alasannya?”, kata saya penasaran
“Aurat”. Lagi-lagi Kang AU menjawab singkat, padat dan ringkas, membuat saya tambah penasaran.
“Maksudnya aurat apa, kang?” tanya saya
“Aurat, karena (dapat) mengungkap aib seseorang....”.

Saya tidak tahu apa maksud pernyataan itu, tapi saya tidak tertarik lagi untuk tahu lebih lanjut mengenai hal ini. Untuk menghapus rasa penasaran saya tadi, perbincangan saya kembali ke topik awal yaitu tentang Haul Gedongan. Dari perbincangan siang itu, saya peroleh informasi bahwa Haul Sesepuh dan Pengasuh Pondok Pesantren Gedongan ke-80 Tahun 2011 akan digelar pada tanggal 14-15 bulan Mei. Pejabat Negara yang direncanakan hadir --menurut Kang AU yang telah menyampaikan langsung permohonan kesediaannya-- adalah Menteri Agama RI, Drs. Suryadharma Ali, M.Si.

Dengan demikian, sepertinya saya harus menggantung pengharapan melihat Pesantren Gedongan dapat bersanding dengan Pondok Buntet Pesantren yang telah eksis di jagat maya dengan situs resminya http://buntetpesantren.org/, atau official site Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak http://www.almunawwir.com/, Pesantren Tebuireng, Jombang dengan http://www.tebuireng.net/, juga Ponpes An-Nashuha Kalimukti, Cirebon yang tergolong pesantren baru namun sudah bisa nampang di http://annashuhakalimukti.org/, dan masih banyak lagi pesantren-pesantren lainnya.

Namun yang jelas bagi pribadi saya, ada atau tidaknya situs resmi Pondok Pesantren Gedongan, MagarsariPost Insya Allah akan setia hadir menyampaikan “soeara pribumi” bertutur tentang kampung halaman. Dan saya --sampai titik nadir kemampuan saya-- akan tetap menulis dan terus menulis sebagaimana filosofi Toekang Ratjik dalam MagarsariPost : “Menulislah, karena kita tidak pernah tahu suatu saat hidup kita akan dibaca orang ....”. Dan yang terpenting lagi adalah karena "I enjoy being a blogger".

Salam blogger! (ASF)